Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Kabar Gembira! Selama 4 Bulan Pendampingan, Ratusan Siswa di Buleleng yang Belum Bisa Baca Tulis Berkurang

Francelino Junior • Rabu, 29 Oktober 2025 | 18:07 WIB

 

Dekan FIP Undiksha, I Wayan Widiana sebut siswa yang didampingi mahasiswanya sudah berhasil membaca. Setidaknya ada perubahan signifikan.
Dekan FIP Undiksha, I Wayan Widiana sebut siswa yang didampingi mahasiswanya sudah berhasil membaca. Setidaknya ada perubahan signifikan.

Radarbadung.jawapos.com- Setelah empat bulan pendampingan dengan intervensi klinis, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha menyebut, kini jumlah siswa yang belum bisa baca, tulis, hitung (calistung), utamanya membaca sudah berkurang.

Para pendamping berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng dapat melanjutkan tren positif ini.

Pendampingan klinis literasi ini dilaksanakan selama Mei hingga September 2025, yang menyasar 61 sekolah di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Buleleng.

Tercatat ada 243 siswa yang awalnya tidak lancar membaca didampingi oleh 483 mahasiswa dari Prodi PGSD, Bimbingan Konseling, PGPAUD, dan Teknologi Pendidikan serta 51 dosen.

Pola pendampingannya, satu mahasiswa mendampingi satu siswa. Sedangkan 10 mahasiswa pendamping mendapatkan bimbingan dari satu dosen.

”Sampai akhir September, ternyata ada kemajuan. Memang untuk bisa membaca tidak mudah, perlu waktu sampai enam bulan. Syukur ada motivasi yang tinggi dari siswa untuk belajar,” ujar Dekan FIP Undiksha, I Wayan Widiana pada Selasa (28/10) pagi.

Berdasarkan data hasil pendampingan klinis mereka, dari 243 orang yang tidak lancar membaca kini turun tajam menjadi 86 orang saja.

Mereka kini masuk dalam kategori kurang lancar, dari sebelumnya ada 89 orang menjadi 99 orang. Peningkatan ini terjadi karena ada pergeseran dari tingkat bawah. 

Kemudian yang lancar membaca juga meningkat drastis, dari hanya 17 orang saja kini menjadi 109 orang.

Menariknya lagi, yang sangat lancar juga muncul 22 siswa, di akhir periode. Widiana mengatakan, perubahan ini karena adanya pendampingan rutin dan konsisten yang digelar mahasiswa terhadap siswa-siswa itu. Ada yang seminggu dua sampai empat kali, tergantung kondisi anak. 

Meski begitu, dalam prakteknya mereka menemukan sejumlah kendala, yang mengakibatkan pendampingan dari FIP Undiksha cukup sulit dilakukan.

Baca Juga: Terpapar Judi Online, Residivis yang Baru Bebas dari Lapas Ini Nekat Curi Emas Bernilai Rp 54 Juta

Yakni kesulitan membaca dan menulis, masalah konsentrasi dan fokus, ketidakhadiran atau kedisiplinan siswa, kesulitan fonologis (bunyi–huruf), kurangnya dukungan orang tua, kepercayaan diri rendah, masalah psikososial, minimnya media dan metode pembelajaran, kendala sarana/waktu, dan stimulasi dini rendah.

Untungnya mereka menyiapkan strategi solusi, seperti latihan fonetik, pembelajaran multisensori, koordinasi dengan orang tua, afirmasi positif, dan inovasi media pembelajaran.

”Pendampingan dinilai berhasil meningkatkan kemampuan literasi, namun masih perlu dilanjutkan untuk menjaga momentum kemajuan. Sebab ada rangkaian perubahan yang menunjukkan tren positif, bukan hanya pengurangan pada kategori

terbawah, tetapi juga mobilitas naik yang nyata ke level kelancaran yang lebih baik,” lanjut Dekan Widiana.

Katanya, ini merupakan bentuk peran pendidikan dalam sumpah pemuda. Undiksha mencoba membantu penyelesaian masalah pendidikan, yang menjadi sorotan nasional.

Baca Juga: Cabuli ABG yang Sedang dalam Masalah, Pria Ini Dituntut 12 Tahun Penjara

Maka dari itu, keberlanjutan program ini penting dilakukan. Caranya dengan program pendampingan yang intensif dan terstruktur.

Literasi dan numerasi yang harus dibudayakan di sekolah, rumah, dan lingkungan masyarakat.

Ada dokumentasi dan portofolio, sebagai bentuk pemantauan perkembangan siswa.

Tenaga pendamping, untuk menyiapkan pendampingan berkelanjutan. Terakhir monitoring.

Tanpa mengesampingkan apapun, Widiana berharap Pemkab Buleleng dan sekolah dapat melanjutkan pendampingan yang telah dilakukan oleh FIP Undiksha.

Sehingga Undiksha dapat kembali ke dasarnya sebagai lembaga pendidikan. Meski begitu, kampus siap apabila kembali diminta bantuan.

”Perlu ada tindakan konstruktif untuk tangani kasus ini. Pemkab dan sekolah harus lanjutkan, agar jangan seolah-olah pemerintah tidak punya program khusus. Kementerian Dikdasmen juga harus turun, jangan biarkan sekolah dan pemkab bekerja sendiri,” tandasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#pemkab buleleng #baca tulis #calistung #undiksha