Direktur Politeknik Pariwisata Bali, Ida Bagus Putu Puja mengatakan dari sisi kampus pariwisata sendiri pihaknya mengaku telah mengembangkan kurikulum berbasis industri dengan melibatkan mitra global.
Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan relevansi lulusan pariwisata Indonesia di kancah internasional.
Outcome Based Education (OBE) yang merupakan sistem pendidikan berfokus pada pencapaian pembelajaran menurut dia tidak bisa dilepaskan dari kemitraan.
”Kami bekerja sama dengan industri agar mahasiswa belajar sesuai standar global dan bisa langsung terserap kerja,” katanya dalam diskusi itu.
Menurut dia, jika dunia kerja berubah, maka kampus juga seharusnya ikut berubah.
Sementara itu, Prof. Dr. Adrianus Amheka selaku Kepala LLDIKTI Wilayah XV mengatakan bahwa pendekatan berbasis OBE bisa memungkinkan kampus untuk bisa menyiapkan dan melahirkan tenaga siap kerja yang tidak hanya kompeten dalam bidangnya, tetapi juga adaptif terhadap perubahan dunia kerja atau industri.
”Kita tidak lagi bicara berapa lama mahasiswa kuliah, tetapi apa yang benar-benar mereka kuasai setelah lulus,” sebut Prof Adriaus
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Prof. Wahyudi Agustiono selaku Guru Besar Universitas Trunojoyo Madura dan Customer Strategic Manager SEVIMA mengungkap bahwa sejauh ini masih banyak kampus yang memahami kurikulum sebatas dokumen administratif.
Padahal kurikulum adalah perubahan paradigma dari sekadar mengajar menjadi menjamin hasil belajar mahasiswa sesuai standar global.
”Jika ingin lulusan siap kerja, jangan hanya ubah dokumen, tapi juga ubah cara berpikir tentang pendidikan itu sendiri,” tegas Prof Wahyudi.
Lanjut dia, berdasarkan hasil survei SEVIMA terhadap ratusan perguruan tinggi mitra, sekitar 60 persen kampus masih terkendala dalam menyusun pemetaan capaian pembelajaran ke Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
Banyak yang masih berfokus pada pengisian dokumen akreditasi, bukan penerapan hasil belajar di kelas.
Sistem digital bisa menjadi solusi percepatan yang bukan hanya alat administrasi, melainkan media utama untuk mengukur dan merekam capaian pembelajaran secara sistematis.
”Nah, di workshop ini, kita akan petakan bersama capaian pembelajaran, peluang kerja, dan berbagai strategi untuk kampus. Misalnya untuk prodi keperawatan, di berbagai negara maju saat ini membutuhkan banyak perawat karena populasi mereka menua. Sehingga proyek pembelajaran di kelas bukan hanya belajar ilmu medis, tapi juga bagaimana belajar mengkomunikasikan ilmu medis dengan bahasa dan budaya negara yang potensial untuk jadi tempat kerja lulusan ini," pungkasnya.***