Radarbadung.jawapos.com– Ribuan umat Hindu memadati Pura Jagatnatha, Denpasar, untuk melaksanakan persembahyangan dalam rangka Hari Suci Saraswati, Sabtu (4/4).
Terlihat sejak pagi, area pura sudah dipenuhi para siswa, pelajar, serta masyarakat umum yang mengenakan busana adat.
Pemangku Janpanggul Pura Jagatnatha, Ida Bagus Saskara, menyebutkan bahwa pelaksanaan persembahyangan ini merupakan agenda rutin pada setiap hari besar keagamaan.
Khusus pada perayaan kali ini, umat melaksanakan persembahyangan dengan upakara pulagembal yang dipuput oleh Sulinggih Ida Pedanda Gede Putra Tunjung Kuning dari Griya Bungsu Tunjung Kuning.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kota Denpasar, di antaranya Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, serta Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede.
"Sejak pagi pemedek sudah banyak. Namun kami arahkan agar tertib. Mengingat saat ini prosesi masih berlangsung dan nantinya akan ada prosesi ngelungsur Tirta Saraswati, kami menghimbau pemedek bersabar menunggu agar bisa mendapatkan tirta suci tersebut," ujar Saskara.
Sejalan dengan semangat menjaga lingkungan, panitia juga menerapkan kebijakan minimalisasi penggunaan plastik.
Pihaknya telah menghimbau umat sejak jauh hari agar tidak menggunakan bahan plastik sekali pakai dalam upakara.
Selain itu, petugas juga mengarahkan umat untuk membuang sampah sisa sembahyang, seperti canang, pada tempat yang telah disediakan.
Terkait pengelolaan sampah pasca-upacara, Pura Jagatnatha telah memiliki fasilitas berupa lubang biopori dan teba modern.
Pengelolaan ini juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar.
"Kami selalu berkomitmen menjaga kebersihan dan kesucian di kawasan Pura," ungkapnya.
Diprediksi, antusiasme umat akan terus meningkat hingga nanti malam.
Rangkaian persembahyangan diperkirakan baru akan selesai secara bertahap hingga pukul 01.00 dini hari.
Puncak keramaian diprediksi terjadi pada rentang pukul 19.00 hingga 23.00 Wita.
Guna mengantisipasi kepadatan yang berpotensi menimbulkan ketertiban, panitia bekerja sama dengan Pecalang Kota Denpasar dari Banjar Abasan.
Pihaknya menerapkan sistem pembukaan dan penutupan akses secara bergiliran sesuai kapasitas ruang pura.
"Setelah satu sesi persembahyangan selesai dan jamaah mulai keluar, baru kami buka kembali untuk sesi berikutnya. Kami lakukan agar pemedek tetap tertib dan dapat melaksanakan persembahyangan dengan nyaman dan khusyuk," imbuh Saskara.***
Editor : Donny Tabelak