Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Wacana Tutup Prodi Kurang Relevan, Unud: Perlu Kajian Mendalam, Jangan Gegabah

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 28 April 2026 | 08:02 WIB
Universitas Udayana (Unud). Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk mengevaluasi dan menutup program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri mendapat tanggapan. (Foto Unud)
Universitas Udayana (Unud). Wacana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) mengevaluasi dan menutup program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri mendapat tanggapan. (Foto Unud)
 
Radarbadung.jawapos.com– Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk mengevaluasi dan menutup program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri mendapat tanggapan dari Universitas Udayana (Unud).
 
Pihak kampus menyatakan dukungan prinsipil, namun menegaskan prosesnya harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis kajian akademik yang mendalam.
 
Kepala Unit Komunikasi Publik Universitas Udayana, Dewi Pascarani, menyampaikan bahwa evaluasi berkala memang diperlukan demi menjaga mutu pendidikan agar tetap sesuai dengan perkembangan zaman dan dunia kerja.
 
“Wacana penataan dan evaluasi program studi oleh kementerian kami pandang perlu dilakukan agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, serta dinamika dunia kerja,” ujar Dewi, Senin (27/4).
 
Meskipun mendukung gagasan tersebut, Dewi menekankan bahwa keputusan untuk menghapus atau menata prodi tidak boleh dilakukan secara terburu-buru.
 
“Proses evaluasi tentu perlu dilakukan secara hati-hati, komprehensif, dan berbasis kajian akademik yang mendalam. Ini adalah upaya menjaga mutu agar mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah,” tegasnya.
 
Saat ini, pihak Unud mengaku masih memantau perkembangan kebijakan tersebut.
 
Sebab, hingga saat ini belum ada surat edaran atau instruksi tertulis resmi yang diterima dari pusat.
 
“Sejauh ini kami belum menerima kebijakan teknis, sehingga kami masih menunggu arahan resmi sebagai dasar untuk mengambil langkah selanjutnya,” jelasnya.
 
Menanggapi isu sejumlah prodi yang mengalami penurunan minat pendaftar, Dewi membeberkan beberapa jurusan di Unud yang tahun ini memang mencatatkan jumlah peminat yang cenderung sedikit.
 
Di antaranya adalah Prodi Peternakan, Manajemen Sumber Daya Perairan, Fisika, Teknologi Industri Pertanian, dan Akuakultur.
 
Namun, ia menegaskan bahwa sedikitnya peminat tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan untuk menutup sebuah prodi.
 
Menurutnya, jumlah pendaftar tidak selalu berbanding lurus dengan peluang kerja yang tersedia.
 
“Jangan salah, ada program studi yang peminatnya tidak terlalu besar, tetapi memiliki kebutuhan tenaga ahli yang sangat spesifik dan strategis. Justru sebaliknya, ada prodi populer yang tingkat persaingannya sudah sangat jenuh,” paparnya.
 
Oleh karena itu, penilaian terhadap kelayakan sebuah prodi harus dilihat secara utuh.
 
Mulai dari kebutuhan sumber daya manusia, perkembangan ilmu, hingga kontribusinya terhadap pembangunan daerah dan nasional.
 
“Pendekatannya harus komprehensif. Tidak bisa hanya melihat dari sisi jumlah peminat saja,” tandasnya.***
Editor : Donny Tabelak
#Kementerian Pendidikan #UNUD #universitas udayana #industri