Radarbadung.jawapos.com– Sentra Mahatmiya Bali, Tabanan, kembali dipercaya terlibat dalam proses penerimaan peserta didik baru untuk program Sekolah Rakyat (SR) yang merupakan salah satu program unggulan Presiden RI, Prabowo Subianto.
Kendati demikian, mulai tahun ajaran baru nanti, lokasi kegiatan belajar mengajar para siswa tidak lagi berlangsung di Tabanan, melainkan akan dipindahkan ke gedung baru Sekolah Rakyat Provinsi Bali yang berlokasi di Kabupaten Karangasem.
Kepala Sentra Mahatmiya Bali, Tommy Heriyanto, menjelaskan hal tersebut saat ditemui di kantornya, Senin (18/5).
Ia menyampaikan, untuk tahun ajaran baru 2026/2027 ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) menyiapkan kuota penerimaan siswa baru yang cukup besar, yakni sebanyak 260 orang untuk wilayah Bali, yang terbagi ke dalam jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA.
Menurut Tommy, keberadaan Sentra Mahatmiya di seluruh Indonesia sejatinya menjadi cikal bakal atau rintisan berdirinya Sekolah Rakyat.
Namun seiring berjalannya waktu, program Sekolah Rakyat kini telah memiliki lembaga dan gedung tersendiri yang berdiri sendiri.
Oleh karena itu, proses pembelajaran pun dipindahkan ke lokasi baru yang lebih representatif dan lengkap fasilitasnya.
"Gedung baru di Karangasem itu kondisinya sudah siap 100 persen. Mulai dari ruang kelas, asrama siswa, hingga asrama guru semuanya sudah lengkap. Rencananya pada bulan Juli mendatang, tepat di awal tahun ajaran baru, sebanyak 74 siswa lama yang selama ini menempuh pendidikan gratis di Sentra Mahatmiya akan kami pindahkan untuk melanjutkan belajar ke sana," ungkapnya.
Meski tidak lagi menjadi lokasi kegiatan belajar mengajar, Sentra Mahatmiya Bali tetap dilibatkan secara aktif oleh pemerintah pusat sebagai ujung tombak penjangkauan dan penjaringan siswa baru.
Hal ini mengingat Sentra Mahatmiya berada langsung di bawah naungan Kemensos RI, sehingga memiliki akses dan data yang lengkap mengenai kondisi sosial masyarakat.
Saat ini, proses penerimaan siswa baru sedang berlangsung intensif.
Tim Sentra Mahatmiya bersama Dinas Sosial kabupaten/kota se-Bali tengah melakukan verifikasi data keluarga-keluarga yang berisiko tinggi putus sekolah.
Sasaran utama program ini adalah anak-anak yang berasal dari keluarga penerima manfaat Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) yang masuk dalam kategori data desil 1 dan desil 2, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah secara nasional.
"Target kami adalah keluarga yang masuk dalam data tersebut. Kami cek satu per satu, apakah di keluarga itu ada anak yang tidak bersekolah atau putus sekolah? Jika ada, itulah yang akan kami jangkau dan prioritaskan untuk masuk ke Sekolah Rakyat," jelas Tommy.
Dalam penjaringan ini, data awal yang masuk dan sedang diproses mencapai ribuan Kepala Keluarga (KK) di seluruh Bali. Namun, data tersebut belum final dan masih melalui tahap verifikasi serta validasi ketat.
Setelah data dianggap sah dan valid, tahap selanjutnya adalah pengecekan langsung ke lapangan atau home visit.
Tim gabungan dari Dinas Sosial dan Sentra Mahatmiya akan mendatangi kediaman calon siswa untuk memastikan kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan keluarga yang sebenarnya.
Apabila memenuhi syarat dan memang layak, barulah tim akan menawarkan dan mengajak anak tersebut untuk bersekolah di SR, yang kemudian dilengkapi dengan surat pernyataan persetujuan dari orang tua atau wali.
"Kami harap kuota sebanyak 260 siswa baru untuk Provinsi Bali ini bisa terpenuhi seluruhnya. Ini adalah kesempatan emas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya secara gratis hingga tamat SMA," pungkas Tommy.***