Radarbadung.jawapos.com– Upaya pelestarian dan pengenalan budaya Bali tidak lagi hanya dijalankan oleh generasi muda dan seniman lokal, melainkan juga mulai diserap dan dipelajari oleh warga negara asing dari berbagai penjuru dunia.
Baru-baru ini, sekelompok mahasiswa dari Universitas Waterloo, Kanada, tidak hanya mempelajari seni tabuh gong tua khas Bali Utara, tetapi juga langsung tampil berkolaborasi mebarung bersama kelompok seni Sekaa Gong Eka Wakya di Balai Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, pada Rabu (20/5).
Kegiatan ini merupakan wujud kerja sama di bidang kebudayaan, yang selain menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman, juga sekaligus menjadi ajang memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Bali ke kancah internasional.
Sebelum terbangun dan datang langsung ke Bali, para mahasiswa ini telah lebih dulu mempelajari dasar-dasar materi tabuh secara daring, dengan bimbingan langsung dari perwakilan kelompok Sekaa Gong Eka Wakya.
“Materi yang kami ajarkan dan mereka pelajari meliputi ragam tabuh lelonggoran dan sekatian, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan warisan seni tabuh khas wilayah Banjar Paketan,” jelas Kelian Gong Eka Wakya sekaligus Kelian Adat Banjar Paketan, I Ketut Sunada, saat diwawancarai, Kamis (21/5).
Bagi para mahasiswa asal Kanada ini, kesempatan untuk berbagi panggung dan tampil langsung bersama kelompok seni lokal menjadi pengalaman yang sangat berharga dan langka.
Selain dapat mempraktikkan langsung apa yang telah dipelajari, momen ini juga semakin memperdalam pemahaman dan penghayatan mereka terhadap keindahan, makna, dan nilai-nilai yang terkandung dalam seni dan budaya Bali.
Perjalanan pembelajaran mereka juga dilakukan secara bertahap.
Sebelum berkunjung dan mendalami tabuh khas wilayah Buleleng, para mahasiswa terlebih dahulu mengikuti rangkaian pelatihan intensif di Sanggar Cudamani, Pengosekan, Ubud.
Setelah menguasai dasar-dasarnya, mereka kemudian melanjutkan pembelajaran dan pendalaman di Banjar Paketan, sekaligus mempersiapkan diri untuk tampil bersama para seniman lokal.
Dalam pementasan kolaboratif tersebut, para mahasiswa Universitas Waterloo membawakan empat karya seni dan tabuh, yakni gilak aransemen karya Dewa Suparta, Tari Pendet, tabuh lelonggoran khas Buleleng, serta komposisi berjudul Padurasa yang merupakan hasil karya cipta para mahasiswa itu sendiri.
“Kami sangat berharap hubungan kerja sama yang terjalin indah ini dapat terus berlanjut dan terjaga dengan baik, serta membuka peluang bagi berbagai bentuk kolaborasi yang lebih luas dan beragam lagi di masa mendatang,” ungkap Associate Professor of Ethnomusicology dari Universitas Waterloo, Maisie Sum.***