Radarbadung.jawapos.com- Olahraga padel tidak lagi sekadar tren gaya hidup kalangan urban di Bali.
Dalam setahun terakhir, cabang olahraga tepok bola ini berkembang pesat dan menjadi fenomena baru di Pulau Dewata.
Lonjakan tersebut kini dianggap sebagai peluang emas oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali, bukan hanya untuk rekreasi, tetapi juga sebagai motor penggerak sport tourism dan sumber prestasi menuju PON 2028.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra atau yang akrab disapa Gung Cok, menilai pertumbuhan masif padel harus segera diarahkan ke jalur pembinaan atlet.
Pada PON Aceh-Sumut 2024 lalu, padel hanya digelar sebagai ajang ekshibisi.
"Target kami, 2028 sudah resmi dipertandingkan. Bali tak boleh hanya jadi penonton," ujar Gung Cok pada Selasa (17/2).
Menurutnya, kondisi ini menjadi momentum strategis untuk mulai memetakan potensi atlet sejak dini.
Infrastruktur yang tumbuh cepat dinilai sebagai modal awal yang menjanjikan.
Saat ini tercatat lebih dari 10 lapangan padel beroperasi di berbagai titik strategis, mulai dari Tibubeneng, Kuta Utara, Denpasar, hingga Gianyar.
Lapangan-lapangan tersebut hampir tak pernah sepi, dengan mayoritas pemain berasal dari kalangan ekspatriat dan wisatawan mancanegara.
Fenomena ini mempertegas posisi padel sebagai magnet baru bagi wisatawan dengan daya beli tinggi.
Gung Cok yang juga anggota DPRD Bali dari Fraksi Golkar melihat hubungan erat antara olahraga, gaya hidup, dan destinasi premium.
Segmentasi pemainnya jelas dengan banyaknya turis asing dan ekspatriat, yang membuka ruang investasi besar sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
"Olahraga bisa jadi pintu masuk pariwisata berkualitas," tegasnya.
Ekosistem padel dinilai mampu menciptakan efek domino.
Tak hanya melahirkan atlet, tetapi juga membuka lapangan kerja baru mulai dari pelatih, wasit, pengelola lapangan, hingga penyelenggara acara (event organizer).
Dampaknya bahkan merambah pada okupansi hotel dan vila di sekitar lokasi lapangan.
Ambisi Bali tidak main-main. Selain membidik panggung PON 2028, Pulau Dewata diproyeksikan menjadi tuan rumah kejuaraan padel bertaraf internasional.
Meski demikian, Gung Cok mengingatkan agar geliat investasi tetap berjalan sesuai aturan.
Ia menegaskan pembangunan fasilitas olahraga harus tunduk pada regulasi tata ruang.
Investor wajib mematuhi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Jangan sampai pembangunan lapangan justru melanggar zonasi atau menggerus lahan produktif.
"Pertumbuhan harus tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan," tandasnya.
Bagi KONI Bali, menjamurnya fasilitas padel merupakan keuntungan strategis dalam proses pembinaan.
Dengan kompetisi yang semakin ketat dan sarana yang memadai, proses seleksi atlet diyakini akan lebih optimal.
Dengan infrastruktur yang terus berkembang dan animo masyarakat yang kian tinggi, Bali kini berada di posisi terdepan sebagai pusat padel nasional.
"Tak hanya menjadi destinasi sport tourism, tetapi juga bersiap mencetak atlet-atlet yang siap bersaing dan meraih prestasi di PON 2028 mendatang," tutupnya.***
Editor : Donny Tabelak