Radarbadung.jawapos.com- Banjir bandang yang melanda Pulau Bali masih menyisahkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Di Kabupaten Badung, khususnya di Perumahan Permata Residence, Lingkungan Gadon, Kelurahan Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, satu keluarga yang terdiri dari tiga orang hilang.
Hingga Sabtu (13/9/2025), ketiganya masih dalam pencarian tim gabungan.
Keluarga yang hilang tersebut adalah Rio Hatnar Boelan (56, suami), Sewi Ratnawati Soenarjo (57, istri), dan anak mereka, Riviere Timothy George Wicaksono Boelan (23, laki-laki).
Informasi yang diperoleh, ketiga warga yang hilang ini tercatat di Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Maranatha Denpasar.
Pencarian para korban di lokasi kejadian selain dibantu tim gabungan BPBD, juga hadir Pendeta GPIB Maranatha Denpasar, Pdt. Fison Sukanegara Bailaen dan sejumlah bapak- bapak yang tergabung dalam PKB.
“ Kami memohon, tim SAR gabungan melakukan penyisiran di daerah bendungan Munggu di bawah jembatan Kaba- kaba, karena material banyak di sini. Dan sudah mulai tercium bau di daerah tersebut,” pinta Pendeta GPIB Maranatha Denpasar, Pdt. Fison Sukanegara Henri Bailaen.
Sebelumnya, anak korban bernama Ruth, yang ditemui di lokasi kejadian belum lama ini, menceritakan bahwa ia awalnya tidak menyangka banjir kali ini akan separah ini.
Pada Rabu dini hari sekitar pukul 02.00 Wita, ia melihat status media sosial adiknya yang menunjukkan banjir setinggi mata kaki.
”Tapi karena sudah pernah banjir di sini, saya jadi anggap biasa, oh nanti paling surut. Tapi ternyata singkat cerita, sorenya saya dikabarin kalau rumahnya sudah roboh,” jelasnya pada Kamis (11/9/2025).
Setelah mendengar kabar tersebut, Ruth kemudian mencoba menghubungi orang tua dan adiknya, namun tidak ada yang bisa dihubungi.
Baca Juga: Demi Gaya Hidup dan Narkoba, Dua Pria di Buleleng Bali Ini Nekat Curi Motor
Ia sempat mengira hal itu terjadi karena listrik padam dan sinyal hilang. Namun, kenyataan orang tua dan adik laki-lakinya telah hilang.
”Yang tinggal di sini papa, mama, dan adik saya yang laki-laki. Saya datang ke sini sudah dalam kondisi gelap. Ketemu terakhir dengan orang tua sekitar seminggu lalu,” ungkapnya.
Keluarga tersebut diketahui telah menempati rumah itu sekitar 10 tahun. Meskipun Perumahan Permata Residence pernah mengalami banjir sebelumnya, kondisinya tidak pernah separah ini.
Saat ini, Ruth hanya bisa bersabar sambil menunggu kepastian kabar dari keluarganya.
Ia juga harus melihat kondisi rumah dan barang berharganya yang tak lagi tersisa.
Tim gabungan masih terus melakukan pencarian dengan menyisir bantaran sungai, bahkan hingga ke arah pantai, untuk menemukan ketiga korban.
”Informasi terakhir pencarian masih berlangsung mungkin ke arah pantai katanya, tapi kurang tahu detailnya seperti apa,” imbuh Ruth.
Sementara itu, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa turun langsung meninjau lokasi terdampak sekaligus memberikan perhatian kepada keluarga korban Perumahan Permata Residence.
Menurutnya, musibah ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak untuk lebih serius dalam menata pemanfaatan ruang di kawasan perumahan.
“Saya memantau langsung pasca kejadian banjir kemarin di beberapa titik di Badung ini. Salah satunya di Gadon ini yang kelihatannya memang cukup parah. Memang dari segi ruang juga perlu kita evaluasi juga di sini. Saya tadi juga sudah perintahkan Pak Camat dan Perbekel untuk berkoordinasi juga dengan pihak developer, termasuk juga kami akan memanggil Kadis Perkim terkait dengan kondisi di lapangan saat ini,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran berharga agar pembangunan tidak hanya berorientasi komersial semata, melainkan juga memperhatikan kelayakan lokasi.
“Mudah-mudahan dengan kejadian ini kita akan evaluasi nanti, sehingga harapan kita agar tidak ada terjadi seperti ini lagi. Artinya tidak hanya serta merta kita hanya berpikir dari sisi komersial saja, tapi juga dari tempatnya apakah layak atau tidak untuk dimanfaatkan sebagai perumahan,” lanjutnya.***
Editor : Donny Tabelak