Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Geopolitik Global Tak Ganggu Ekonomi Bali, Usaha Tetap Tumbuh Meski Melambat  

Marsellus Nabunome Pampur • Selasa, 28 April 2026 | 04:42 WIB
Aktivitas perdagangan di Pasar Ikan Kedonganan, Badung. (Foto: Marsellus Pampur) 
Aktivitas perdagangan di Pasar Ikan Kedonganan, Badung. (Foto: Marsellus Pampur) 

Radarbadung.jawapos.com– Kondisi ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, ternyata tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap roda perekonomian dan kegiatan dunia usaha di Bali.

Hal ini tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis oleh Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali.

Secara umum, kinerja dunia usaha di Bali pada triwulan I tahun 2026 masih menunjukkan tren positif atau tetap tumbuh, meski mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan dunia usaha tercatat sebesar 17,91 persen.

Angka ini memang melandai dibandingkan capaian triwulan IV 2025 yang mencapai 35,46 persen.

“Melandainya kinerja SKDU pada triwulan I 2026 utamanya disebabkan oleh penurunan pada beberapa lapangan usaha (LU) utama. Misalnya sektor Penyediaan Akomodasi, Makanan dan Minuman yang sebelumnya 0,67 persen menjadi minus 8,32 persen, serta sektor Konstruksi yang turun dari 8,88 persen menjadi minus 1,78 persen,” jelas Erwin.

Perlambatan ini dinilai merupakan hal yang wajar dan lebih disebabkan oleh faktor musiman, yaitu berakhirnya masa liburan panjang akhir tahun yang membuat jumlah kunjungan wisatawan menurun atau memasuki masa low season.

Hal ini tentu berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi secara umum.

“Normalisasi kinerja sektor pariwisata pasca liburan akhir tahun juga terlihat dari data kedatangan wisatawan di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Terjadi penurunan kunjungan sebesar 10,85 persen secara quarter to quarter (qtq), dari 2,94 juta orang menjadi 2,62 juta orang,” tambahnya.

Meskipun tidak mematikan roda ekonomi, kondisi geopolitik global ternyata masih memberikan efek domino pada beberapa aspek.

Salah satunya adalah kenaikan harga bahan baku plastik yang cukup signifikan.

Hal ini berkaitan dengan berkurangnya pasokan bijih plastik yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan pemantauan di tiga wilayah, yaitu Denpasar, Buleleng, dan Badung, tercatat rata-rata kenaikan harga bijih plastik pada bulan April mencapai 30 hingga 60 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month).

Kenaikan ini tentu membebani biaya produksi, namun sebagian besar pelaku usaha masih berusaha menahan diri untuk tidak menaikkan harga jual produk demi menjaga daya beli masyarakat.

Di tengah perlambatan yang terjadi di beberapa sektor, Lapangan Usaha Jasa Keuangan justru mencatatkan performa yang menggembirakan dan menjadi sumber optimisme.

SBT sektor ini tercatat meningkat sebesar 2,95 persen (qtq), dari sebelumnya 0,27 persen menjadi 3,22 persen.

“Peningkatan kinerja pada LU Jasa Keuangan ini tidak lepas dari geliat ekonomi yang tetap berjalan selama triwulan I 2026, terutama yang ditopang oleh rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti perayaan Nyepi dan Idul Fitri,” pungkas Erwin.***

Editor : Donny Tabelak
#wisatawan #pasar #Bank Indoensia #kedonganan #politik