Radarbadung.jawapos.com- Ada yang berbeda di areal Setra Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng utamanya saat malam hari.
Tampak dari jauh, warna kemerahan ada di atas pohon besar di sana.
Usut punya usut, ternyata itu adalah rumah pohon, yang menjadi saksi sejarah di Kota Singaraja.
Diketahui, rumah pohon yang berada di kawasan Setra Desa Adat Buleleng, dulunya berfungsi sebagai pos pemantauan kapal di Pelabuhan Buleleng.
Apalagi Bali utara di masa lampau sebagai pusat perdagangan dan pintu masuk utama Bali.
Bahkan pemuda-pemuda Buleleng dulunya juga sekaligus memantau kapal-kapal Belanda.
Terbaru, tempat tersebut sudah direnovasi sejak Minggu (18/01).
Proses pembenahan dilakukan secara hati-hati, agar karakter asli bangunan serta nilai historisnya tetap terjaga dan melekat, sekaligus aman dan nyaman untuk dikunjungi wisatawan.
Upaya ini sebagai bentuk pelestarian sejarah sekaligus pengembangan wisata budaya.
”Rumah ini memiliki sejarah yang bermakna bagi masyarakat Buleleng. Dahulu difungsikan sebagai pos pengintaian kapal yang masuk ke pelabuhan, namun kini akan menjadi spot pariwisata heritage yang sangat edukatif,” ujar Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng, Wardani Sutjidra usai peresmian pada Minggu kemarin (1/2).
Rumah pohon di Setra Desa Adat Buleleng akan diarahkan menjadi salah satu daya tarik wisata, berbasis sejarah dan budaya di Kota Singaraja.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan penambahan tangga agar masyarakat dapat naik ke rumah pohon.
Harapannya, keberadaan rumah pohon tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Buleleng, khususnya dalam pengembangan city tour Kota Singaraja.
”Ke depan, rumah pohon ini tidak hanya menjadi tempat berfoto, tetapi juga sebagai ruang edukasi yang menceritakan peran penting Buleleng pada masa lalu, khususnya terkait sejarah pelabuhan dan perjuangan masyarakat dalam menjaga wilayah,” ungkap Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.***