Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Cuaca Ekstrem, Pohon Tumbang Timpah Pelinggih Pura Dalem Pegadungan hingga Hancur

Eka Prasetya • Senin, 16 Februari 2026 | 08:05 WIB

Pelinggih di Pura Dalem Desa Adat Pegadungan yang hancur karena tertimpa pohon kamboja.
Pelinggih di Pura Dalem Desa Adat Pegadungan yang hancur karena tertimpa pohon kamboja.

Radarbadung.jawapos.com– Cuaca ekstrem yang menerjang Kabupaten Buleleng kembali memicu kerugian materiil.

Jumat (13/2) malam lalu, sebuah pohon kamboja tua di areal Pura Dalem Desa Adat Pegadungan, Kecamatan Sukasada, tumbang.

Akibatnya, bangunan Gedong Linggih yang merupakan pelinggih utama di pura tersebut hancur total tertimpa batang pohon.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.30 WITA saat hujan deras mengguyur wilayah setempat.

Meski tidak ada korban jiwa, dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat berat.

Berdasarkan kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Baca Juga: Tradisi Siat Api di Desa Adat Duda, Digelar Setahun Sekali, Dipercaya Bisa Netralisir Hal Negatif

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, I Gede Suyasa, menjelaskan bahwa pihaknya baru menerima laporan pada Sabtu (14/2) pagi.

"Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung turun melakukan asesmen. Satu pohon kamboja yang diperkirakan berusia ratusan tahun tumbang menimpa Gedong Linggih. Kategorinya rusak berat," ujarnya, Minggu (15/2).

Kelian Desa Adat Pegadungan, I Nengah Budana, mengungkapkan bahwa bangunan yang hancur adalah struktur inti pura berukuran 4x4 meter. Estimasi biaya perbaikan mencapai Rp 200 juta.

"Ini pelinggih pokok satu-satunya di area pura. Memang secara fisik di dalam batang pohon sudah lapuk," kata Budana, saat dihubungi pada Minggu sore.

Budana menuturkan, pohon kamboja tersebut bukan pohon biasa.

Menurut penuturan para tetua desa, pohon tersebut dianggap keramat dan usianya diperkirakan mencapai 500 tahun.

Konon pohon itu ditanam bersamaan sejak pura pertama kali didirikan. Selama ini, warga tidak pernah berani memangkas pohon tersebut karena disakralkan.

Hingga kemarin, pembersihan material kayu dan puing bangunan belum dilakukan.

Pihak desa adat memilih untuk menyelesaikan prosesi secara niskala (spiritual) terlebih dahulu sebelum menyentuh reruntuhan.

"Kami sudah menggelar upacara mepiuning, ngulapin, dan nuntun tadi pagi. Besok dilanjutkan dengan mecaru di desa. Mungkin tiga hari setelah itu baru dilakukan pembersihan," terang Budana.

Kini, pihak desa adat tengah berupaya mencari akses bantuan ke pemerintah daerah maupun provinsi.

Mengingat biaya pembangunan pelinggih utama tersebut cukup besar bagi keuangan desa adat.***

Editor : Donny Tabelak
#pohon kamboja #cuaca ekstrem #keramat #pohon tumbang #bpbd buleleng #Desa adat