Denpasar, Radarbadung.id- Demonstrasi yang berujung anarkis di sejumlah kota, termasuk Bali, dapat memberikan dampak buruk yang signifikan terhadap ekonomi Bali dan nasional. Hal ini disampaikan oleh akademisi dan pakar ekonomi, Prof. I Made Sara.
Menurut Guru Besar Universitas Warmadewa ini, kerugian yang timbul bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga dampak ekonomi yang meluas, penurunan nilai tukar rupiah, dimulai dari tingkat nasional hingga ke masyarakat Bali.
”Hal ini terjadi karena investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman (safe haven), sehingga modal asing dapat keluar (capital flight),” jelasnya di Denpasar, Selasa (2/9).
Selanjutnya, penurunan pasar keuangan juga sangat potensial bisa terjadi. Seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), anjlok karena sentimen negatif dari investor.
Aktivitas bisnis di Bali dan secara nasional bisa terganggu, termasuk operasional perusahaan, lalu lintas, dan interaksi ekonomi.
Bali yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari pariwisata juga bisa sangat terpukul. Citra pariwisata Bali bisa rusak akibat aksi anarkis para demonstran.
Bukan tanpa alasan, aksi anarkis akan disorot oleh media internasional, menciptakan citra Bali yang tidak aman.
Hal ini dapat membuat wisatawan mancanegara maupun domestik ragu untuk berkunjung, yang berpotensi menurunkan jumlah kunjungan wisatawan secara signifikan.
Jika citra Bali jadi rusak, hal ini akan berdampak pada penurunan Tingkat Hunian dan Pendapatan.
”Jika citra keamanan Bali tercoreng, jumlah wisatawan akan menurun. Hal ini secara langsung berdampak pada tingkat hunian hotel, kunjungan ke tempat wisata, dan pendapatan dari sektor jasa pariwisata seperti restoran, transportasi, dan toko souvenir,” bebernya.
Jika tingkat hunian hotel dan lainnya menurun, Sara menyebut hal ini bisa menjadi ancamanan serius pada ketersediaan lapangan kerja.
Di mana, sekitar 60 persen tenaga kerja di Bali terserap di sektor pariwisata. Penurunan aktivitas pariwisata akibat demonstrasi anarkis dapat mengakibatkan penyerapan tenaga kerja yang lebih rendah dan bahkan pemutusan hubungan kerja.
Para pelaku usaha di sektor pariwisata, mulai dari hotel berbintang hingga UMKM, akan mengalami kerugian besar akibat penurunan jumlah pelanggan dan transaksi.
Baca Juga: Begini Isi 33 Tuntutan yang Disuarakan Aliansi Bali Tidak Diam saat Aksi di Polda Bali
Ibarat mata rantai, dampak ini akan saling berkaitan antara satu sama lain. Sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung ekonomi Bali sangat sensitif terhadap isu keamanan.
Jika sektor ini terpuruk, banyak warga yang bekerja di hotel, restoran, transportasi, dan usaha kecil lainnya akan kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan.
”Bagi warga yang memiliki usaha sendiri atau bergantung pada pendapatan harian, seperti pedagang kaki lima atau ojek online, aksi demonstrasi yang mengganggu lalu lintas dan aktivitas masyarakat akan langsung memotong pemasukan mereka," bebernya.
Lingkungan yang tidak kondusif dan tidak stabil akan membuat investor, baik domestik maupun asing, kehilangan kepercayaan.
”Hal ini akan menghambat investasi baru yang sangat penting untuk penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang," pungkasnya.***
Editor : Made Dwija Putera