Radarbadung.jawapos.com- Desain Bandara Bali Utara akhirnya diluncurkan pada Rabu (24/9) malam di Kantor PT BIBU Panji Sakti.
Dalam rancangannya, bandara ini mengacu konsep Tri Hita Karana yang mewujudkan wujud ramah lingkungan, budaya, dan teknologi.
Sementara secara filosofis, mengangkat konsep Bedawang Nala atau bangunan berwujud penyu serta bhurloka.
Dalam maket Bandara Bali Utara, bentuk bangunan bandara layaknya penyu, namun berbentuk minimalis.
Gate-nya terlihat ada 26 terminal, masing-masing delapan di kedua sisinya, lalu masing-masing lima di bagian tengahnya. Ada juga courtyard atau taman di dekat bandara.
Ada juga dua landasan pacu internasional sepanjang 3.600 meter, yang mampu melayani pesawat berbadan lebar seperti Airbus A380 atau Boeing 777.
Terminal penumpang utama akan menempati area seluas lebih dari 200.000 meter persegi, dengan kapasitas awal 20 juta penumpang per tahun, yang dapat ditingkatkan hingga 50 juta penumpang.
Selain itu, bandara juga akan dilengkapi terminal kargo modern dengan kapasitas 250.000 ton per tahun, mendukung logistik dan rantai pasok nasional.
”Bedawang Nala menjadi penyangga, sedangkan Bhurloka sebagai inti bandara,” ujar Managing Director Alien DC, Hardyanthony Wiratama selaku pihak pembuat desain.
Dijelaskannya, area penyangga yaitu area transit, yang dapat menghubungkan fasilitas umum kendaraan seperti LRT, bus, hingga transit pada umumnya yang akan berhenti di sana.
Baca Juga: Gung Candra Sudah Dibui, Ribuan Tabung Gas Kasus Oplos Gas Elpiji Segera Dilelang
Tidak hanya itu saja, dijelaskan pula area transit akan berisi area outdoor yang berfungsi sebagai tempat kesenian, misalnya tari kecak.
Rancangan lainnya, ketika ada perubahan cuaca maka atap bandara bisa berfungsi adaptif, dengan menyesuaikan kondisi cuaca yang ada.
Contohnya saat panas dan suhu berubah, sealing kacanya bisa menyesuaikan. Begitu juga saat hujan, mampu meredam suara turunnya hujan atau akustik.
Semua konsep yang ada di bandara ini, lanjut Hardyanthony, benar-benar menghadirkan secara filosofis.
Pun berfungsi layaknya bandara internasional yang sangat efektif dan efisien. Penggunaan konsep Tri Hita Karana diharapkan berdampak ekologi di Bali.
”Tidak hanya menerjemahkan hubungan antara Tuhan, alam, dan juga manusia. Tapi juga menjadi ramah lingkungan, budaya, juga teknologi,” sambungnya.
Bandara offshore atau lepas pantai ini disebut tidak akan mereklamasi laut, melainkan merestorasi daratan yang terkena abrasi.
Tentu dengan cara dan teknologi terbarukan saat ini. Kemudian membuat koneksi baru antara daratan lama dan baru.
Disebutkan kalau pantai di sekitar lokasi pembangunan bandara di wilayah Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng tergerus lima sampai sepuluh meter setiap tahunnya.
Maka itu, karena disebut daratan yang hilang akibat abrasi, sehingga dilakukan restore, bukan reklamasi.
”Peluncuran desain bandara, menunjukkan makin ke sini kami makin siap, ready. Mudah-mudahan satu sampai dua bulan kedepan sudah bisa ground breaking,” ujar CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo.***