Radarbadung.id Angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Tabanan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Jalur Denpasar-Gilimanuk dipastikan masih menjadi lokasi paling rawan, dengan lonjakan signifikan terjadi sepanjang Juli hingga Agustus.
Data yang dirilis Satlantas Polres Tabanan menunjukkan, pada Juli tercatat 84 kasus kecelakaan dengan 9 korban meninggal dunia, 97 luka ringan, dan total kerugian Rp 88 juta.
Angka ini meningkat drastis di Agustus menjadi 103 kasus, meskipun korban meninggal lebih sedikit (5 orang), korban luka ringan mencapai 125 orang, dengan total kerugian material sekitar Rp 113 juta
Kasat Lantas Polres Tabanan AKP Anton Suherman mengatakan, data kecelakaan lalu lintas di Tabanan dari bulan Juli hingga Agustus ini masih terbilang tinggi. Meski data di bulan September belum masuk secara keseluruhan.
Menurut AKP Anton, setelah dilakukan kajian anatomi ternyata kecelakaan itu paling tinggi disebabkan oleh laka lantas OC atau loss of control.
Karena bulan Juli ada sebanyak 62 kasus kecelakaan dengan loss of control dan bulan Agustus 74 kasus loss of control.
Hasil anatomi, pihaknya terdapat kesimpulan karena kurang kontrol terhadap kendaraan dari pengguna atau manusia itu sendiri. Salah satunya penggunaan kecepatan dalam berlalu lintas.
Baca Juga: Pemkab Badung Kaji Pemagaran Akses Warga di GWK, Beredar Surat Status Jalan Milik Kabupaten
”Kemudian akibat faktor hewan di jalan. Yakni misalnya anjing dan kucing, sehingga pengendara alami kecelakaan,” bebernya, Kamis (26/9/2025).
Yang menarik lagi, faktor karena masih kurangnya pengendara motor memahami safety riding berlalu lintas di Jalan.
Padahal ini menjadi salah satu indikasi untuk mengantisipasi menggunakan kendaraan di jalan raya.
Baca Juga: Tasya Farasya Pakai Baju Kuning Pudar di Sidang Perdana, Ini Maknanya
Seperti misalnya pengguna kendaraan bermotor memastikan kondisi mesin, ban, rem padahal itu sangat perlu diperhatikan.
”Jadi cukup sering fatal kecelakaan lalu lintas karena kurang memperhatikan safety riding. Lagi-lagi ini bersifat kebiasan diri dari masing-masing pengguna jalan raya,” jelasnya.
AKP Anton menambahkan, hasil anatomi pihaknya kecelakaan dominan terjadi di Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk rata-rata korban alami kecelakaan adalah usia produktif umur 25-36 tahun.
Kemudian hasil anatomi pihaknya dominan kecelakaan di Jalan Denpasar-Gilimanuk titik puncak ketika jam pulang kerja saat sore hari.
Baca Juga: Desain Bandara Baru di Buleleng Diluncurkan, Pakai Konsep Tri Hita Karana
”Kalau kami tarik anatomi tersebut kembali kondisi orang lelah bekerja seharian. Balik ke dari Denpasar menuju Tabanan. Kemudian titik lokasi kecelakaan terjadi daerah Dadakan, Abiantuwung, Kediri,” tuturnya.
Masih tinggi angka kecelakaan lalu lintas itu berbagai langkah dan upaya lakukan untuk menekan.
Mulai dari coaching clinic berlalu lintas dengan membuka pelayanan pada setiap Sarpras saat pembuatan SIM yang menyasar para pekerja swasta. Dengan memberikan edukasi keselamatan berlalu lintas di jalan.
Baca Juga: Polda Bali Gagalkan Peredaran Obat Terlarang Senilai Rp 2 Miliar, Ratusan Jiwa Diselamatkan
Selain itu pihaknya jemput bola kepada anak sekolah SMP dan SMA jemput bola sebagai upaya untuk menumbuhkan pemahaman sejak dini taat berlalu lintas.
”Kami juga lakukan peningkatan patroli petugas. Salah satunya menempatkan petugas di wilayah Pos Dadakan, Abiantuwung untuk mengatur kecepatan dan kepadatan lalu lintas dari arah Denpasar saat pulang jam kantor atau kerja,” pungkasnya. ***
Editor : Made Dwija Putera