Radarbadung.jawapos.com– Gubernur Bali, Wayan Koster kembali meluncurkan siaran televisi digital dari Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali, Sabtu (27/12) pagi.
Menara yang berlokasi di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng itu kini resmi menjadi pusat seluruh siaran TV digital di Bali.
Peluncuran kali ini merupakan tahap ketiga. Sebelumnya, launching pertama dilakukan pada 18 April 2025, disusul tahap kedua pada 19 Agustus 2025.
Pada peluncuran tahap ketiga ini, giliran pemegang Multiplexing (MUX) Metro TV yang resmi mengudara dari Turyapada Tower dengan delapan kanal siaran.
Dengan masuknya MUX teranyar, seluruh siaran televisi digital di Bali kini sepenuhnya tersentral di Turyapada Tower.
Termasuk Jawa Pos TV yang telah mengudara dari Turyapada pada 19 Agustus lalu.
Baca Juga: Heboh, Kapal Pengangkut Wisatawan Karam di Perairan Benoa
Kini terdapat 30 channel televisi dari empat penyelenggara MUX yang mengudara dari satu titik.
Menara-menara pemancar lain yang sebelumnya digunakan dipastikan akan dibongkar karena tidak lagi diperlukan.
Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan, ide pembangunan Turyapada Tower berawal dari aspirasi masyarakat Buleleng saat kampanye Pilgub Bali periode pertama pada 2018.
Saat itu, warga mengeluhkan sulitnya menikmati siaran televisi tanpa menggunakan parabola.
“Dari situ muncul ide membangun tower. Tapi bukan tower biasa. Kalau hanya tower pemancar, itu habis uang dan tidak produktif,” ujar Koster.
Karena itu, konsep Turyapada Tower dikembangkan menjadi proyek multifungsi yang tidak hanya melayani penyiaran digital, tetapi juga diarahkan sebagai destinasi pariwisata.
Menara ini berdiri di ketinggian 1.521 meter di atas permukaan laut dengan tinggi tower 115 meter, sehingga total elevasinya mencapai 1.636 meter di atas permukaan laut.
Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun ke 42, Slank Kumpulan Rp 500 Juta untuk Korban Bencana Alam di Sumatera
Dari sisi teknologi, Turyapada Tower disebut sebagai bangunan pertama di Indonesia yang menghadirkan sarana siaran televisi digital dengan kualitas lebih baik dan jangkauan lebih luas.
Selain sebagai pusat pemancar, kawasan ini juga akan dilengkapi berbagai fasilitas wisata, seperti planetarium, skywalk, restoran putar, restoran statis, hingga jembatan kaca yang menyajikan panorama alam Bali Utara.
Pemilihan lokasi Turyapada Tower, lanjut Koster, didasarkan pada hasil kajian tim Universitas Udayana.
Titik tersebut dinilai paling optimal untuk menjangkau sekitar 85 persen wilayah Bali Utara. Dari sisi tata ruang, kawasan ini tidak masuk wilayah suci sehingga memungkinkan pembangunan menara setinggi 115 meter.
“Hasil uji coba bahkan menunjukkan jangkauan siaran sudah mencapai sekitar 95 persen,” katanya.
Cakupan siaran dinilai semakin baik ke arah barat, bahkan menjangkau hingga Gilimanuk dan Banyuwangi.
Sementara ke arah timur, khususnya wilayah Tejakula, masih terkendala kondisi geografis. “Di rumah saya di (desa) Sembiran saja masih belum dapat,” ucap Koster.
Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun ke 42, Slank Kumpulan Rp 500 Juta untuk Korban Bencana Alam di Sumatera
Hal itu juga terungkap saat Koster melakukan dialog dengan sejumlah masyarakat di Tejakula melalui zoom meeting.
Koster sempat berdialog dengan Perbekel Penuktukan, Komang Gangga Prebawa. Gangga menyebut siaran TV di Penuktukan hanya terjangkau 10 channel.
Hal serupa juga diakui Perbekel Tejakula, Wayan Diarsa. Di Desa Tejakula yang notabene titik sentral di wilayah Kecamatan Tejakula, hanya tercatat ada 10 channel yang bisa diakses.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Bali berencana membangun tiga tower tambahan di wilayah Bali Timur, Bali Selatan, dan Bali Barat. Total anggaran yang dibutuhkan diperkirakan sekitar Rp 20 miliar.
Dengan tambahan tersebut, Bali ditargetkan bebas blank spot siaran televisi tanpa perlu parabola.
Selain penyiaran dan pariwisata, Turyapada Tower juga disiapkan memiliki fungsi strategis lainnya.
Menara ini akan dimanfaatkan oleh TNI, Polri, BMKG, dan BPBD sebagai pusat pemantauan keamanan, kebencanaan, serta lalu lintas laut, termasuk pergerakan kapal di Selat Bali dan Padangbai.
Saat ini, Pemprov Bali tengah menggarap pembangunan tahap kedua Turyapada Tower dengan anggaran sekitar Rp 265 miliar.
Baca Juga: Parah, Tindakan Kekerasan Lagi- lagi Dialami Wartawan Saat Liputan Bencana di Aceh
Pekerjaan meliputi penataan interior planetarium, restoran putar dan statis, skywalk, dua ruang konvensi, serta penataan kawasan luar seperti landscape, taman, glamping, restoran, UMKM, dan area publik.
Tahap kedua juga mencakup pembangunan akses jalan masuk serta gondola sepanjang hampir satu kilometer yang menghubungkan dua terminal di kawasan tersebut.
Seluruh penataan kawasan ditargetkan rampung pada November 2026, dengan peresmian penuh direncanakan pada Desember 2026.
Setelah diresmikan, Turyapada Tower akan dibuka untuk umum dan dikelola secara profesional melalui kerja sama dengan pihak ketiga.
Pemerintah memilih membiayai proyek ini tanpa melibatkan investor swasta agar aset strategis Bali tetap dimiliki daerah.
Dengan total investasi hampir Rp 600 miliar, proyek Turyapada Tower diperkirakan akan balik modal dalam waktu sekitar tujuh tahun dan menjadi sumber pendapatan baru bagi Bali dan Kabupaten Buleleng.***
Editor : Donny Tabelak