Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Tumpek Krulut Jadi Momen Saling Mengasihi di Bali

Francelino Junior • Minggu, 4 Januari 2026 | 09:15 WIB

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng, Luh Irma Susanthi.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng, Luh Irma Susanthi.

Radarbadung.jawapos.com- Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari penyucian rasa, saat manusia diajak melembutkan batin dan merawat keindahan jiwa.

Perayaan ini dipersembahkan kepada Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penjaga kesucian, seni, dan keharmonisan.

Ini menjadikan momen saling mengasihi dengan kehadiran yang menenangkan dan empati yang nyata. 

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng, Luh Irma Susanthi mengatakan, kali ini Tumpek Krulut yang bertepatan dengan Purnama Kepitu menjadi salah satu perjumpaan sakral antara kasih sayang dan cahaya kesadaran. Tentu maknanya menjadi berlapis dan relevan untuk kondisi saat ini. 

”Sehingga semuanya bermakna kejernihan pikiran dan keterbukaan hati, untuk proses penyembuhan dan pemurnian emosi,” ujarnya pada Sabtu (3/1).

Lanjutnya, saat ini kasus bullying, depresi, dan bunuh diri, terutama di kalangan Gen Z, semakin mengkhawatirkan.

Apalagi zaman ini ramai suara, tetapi miskin empati. Banyak anak muda terlihat kuat di layar, namun rapuh di balik senyum digitalnya. 

Katanya, Bhagavadgita XII.13 dan 14 menegaskan bahwa kualitas manusia utama terletak pada welas asihnya.

Begitu juga dalam Lontar Sundarigama, yang secara halus mengingatkan bahwa upacara tanpa penghayatan hanya akan menjadi rutinitas kosong.

Sloka Bhagavad Gita VI.5 juga memperkuat, kalau manusia harus berperan aktif menyelamatkan dirinya.

”Generasi muda saat ini sering merasa tidak cukup baik, tidak didengar, dan tidak dimengerti. Dalam konteks ini, pesan Tumpek Krulut menemukan urgensinya. Kasih sayang dalam Hindu bukan emosi sesaat, tetapi laku hidup,” lanjutnya menegaskan.

Maka dari itu, Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

Harus mendengar tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di keluarga dan sekolah. Juga mengakui bahwa kesehatan mental adalah bagian dari dharma menjaga kehidupan.

Sebab bullying tumbuh dari ego dan kebencian, sedangkan bunuh diri sering lahir dari perasaan tidak dicintai.

Maka bukan sekadar nasihat harus kuat yang diberikan, melainkan kehadiran yang menenangkan dan empati yang nyata.***

Editor : Donny Tabelak
#pemkab buleleng #tumpek krulut #kementerian agama #agama Hindu