Radarbadung.jawapos.com- Jembrana menjadi kabupaten pertama di Bali yang memiliki ternak positif penyakit kulit berbenjol atau Lumpy Skin Disease (LSD).
Sehingga Jembrana ditetapkan sebagai daerah perhatian khusus, terutama di desa yang sudah terdapat kasus positif LSD.
Meski tidak menular pada manusia, LSD bisa merugikan peternak sapi dan kerbau di Jembrana.
Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Gusti Ngurah Putu Sugiarta menjelaskan, LSD juga disebut cacar sapi. Tidak hanya sapi, virus juga menyerang kerbau.
Gejala yang ditimbulkan jika tertular, ditandai benjolan pada kulit, demam dan penurunan produksi.
Hingga kemarin enam desa masuk daerah kasus LSD ditetapkan lock down. Artinya, tidak ada aktivitas keluar masuk ternak dari atau ke desa tersebut, terutama sapi.
”Lockdown di enam desa guna memutus rantai penyebaran virus pada ternak sapi,” ujarnya.
Ternak di wilayah Jembrana, kabupaten pertama yang terdapat kasus positif LSD di Bali, diduga karena berdekatan dengan daerah terdampak.
Penularan melalui lalat atau vektor apa saja yang kemudian menular ke sapi.
”Virus menular lewat vektor seperti nyamuk, lalat dan kontak langsung, hewan yang sudah tertular dengan hewan lain,” terangnya.
Sugiarta menjelaskan, pihaknya sudah koordinasi untuk penanganan LSD dengan Pemerintah Provinsi Bali.
Sehingga diputuskan sejumlah langkah darurat, diantaranya penetapan 3 zona wilayah untuk memetakan risiko penularan diantaranya zona tertular dimana desa-desa yang sudah ditemukan kasus positif, zona kontrol wilayah di sekitar zona tertular dan zona surveilans wilayah pengawasan lebih luas.
Berdasarkan sampel positif LSD pada sapi, sebanyak 28 ekor ternak yang tersebar di enam desa tertular.
Beberapa diantarnya sudah mati dengan sendirinya dan sisanya akan segera dilakukan pemotongan bersyarat untuk menghentikan penularan.
”Sementara sebagian yang kami potong, di RPH,” terangnya.
Selain pemotongan hewan yang tertular, pihaknya bersurat ke Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk meminta vaksinasi darurat, terutama di desa yang terdampak dan pemantauan ketat dilakukan sesuai dengan radius setiap zona.
Pihaknya juga akan memperketat lalu lintas hewan di wilayah Jembrana.
Salah satu syarat yang akan diterapkan melalui pengujian LSD.
Setiap sapi yang sudah lolos uji LSD ditandai dengan tanda pengenal khusus pada hewan.
”Kami juga akan terus melakukan spraying atau penyemprotan kontrol vektor penular di kandang-kandang warga,” terangnya.
Sugiarta menegaskan, penyakit LSD ini bukan penyakit yang menyerang atau menular pada manusia.
Namun dampak dadi LSD ini bisa mengakibatkan kerugian ekonomi, terutama bagi petani atau peternak.
Karena penyakit bisa mengakibatkan kematian pada hewan ternak jika tidak segera diobati.
”Bukan penyakit zoonosis, tidak menular ke manusia, namun merugikan ekonomi peternak,” tegasnya.***
Editor : Donny Tabelak