Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Duh, Cacar Sapi Mulai Masuk Kabupaten Buleleng, Peternak Mulai Was-was

Eka Prasetya • Kamis, 22 Januari 2026 | 07:31 WIB

 

Petugas Balai Besar Veteriner Denpasar mengambil sampel terhadap sapi peternak di Buleleng yang diduga terjangkit cacar sapi.
Petugas Balai Besar Veteriner Denpasar mengambil sampel terhadap sapi peternak di Buleleng yang diduga terjangkit cacar sapi.

Radarbadung.jawapos.com– Penyakit cacar sapi atau Lumpy Skin Disease (LSD) yang sebelumnya merebak di Kabupaten Jembrana, kini mulai terdeteksi di wilayah Kabupaten Buleleng. Hal ini membuat peternak was-was.

Sebanyak dua ekor sapi milik peternak di salah satu desa di Kecamatan Gerokgak dilaporkan menunjukkan gejala mengarah ke penyakit virus tersebut.

Menindaklanjuti temuan itu, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng bergerak cepat dengan memberlakukan karantina wilayah di tingkat desa.

Kebijakan ini dilakukan dengan membatasi pergerakan dan distribusi sapi untuk mencegah potensi penyebaran penyakit meluas ke wilayah lain.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat menyebut temuan dua sapi terduga LSD tersebut merupakan kasus pertama yang tercatat di Buleleng.

Sebelumnya, daerah ini masih berada pada tahap kewaspadaan menyusul laporan penyebaran LSD di Jembrana berdasarkan informasi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.

“Sebelumnya kami hanya mendapat informasi kewaspadaan dari BBVet Bali. Di lapangan awalnya belum ditemukan kasus. Namun kemarin, kami menerima laporan dari peternak adanya dua ekor sapi yang menunjukkan gejala LSD,” ujar Melandrat, Rabu (21/1).

Hasil penelusuran petugas menunjukkan, dua sapi tersebut merupakan anakan yang dibeli peternak secara daring melalui media sosial.

Ternak itu didatangkan dari luar daerah, diduga dari wilayah timur Bali, dan telah dipelihara sekitar satu bulan sebelum akhirnya menunjukkan gejala penyakit.

“Inilah yang menjadi perhatian kami, karena asal-usul ternak yang dibeli secara online sulit dipantau,” jelasnya.

Pemeriksaan dokter hewan menemukan ciri khas LSD pada sapi tersebut, berupa bercak-bercak pada kulit menyerupai cacar.

Baca Juga: Pemerintah Diminta Perhatikan Nasib Wartawan Korban Banjir di Aceh, YARA:Jangan hanya Butuh Saat Pencitraan!

Meski demikian, kondisi kedua sapi dilaporkan relatif stabil dan masih memiliki nafsu makan yang cukup baik. Sapi lain di sekitar kandang hingga kini belum menunjukkan gejala serupa.

Meski hanya dua ekor yang terindikasi, Distan Buleleng tetap memberlakukan pembatasan ketat di tingkat desa. Seluruh pergerakan sapi keluar masuk wilayah tersebut dihentikan sementara.

“Bukan hanya sapi yang sakit yang diisolasi, tetapi seluruh desa kami lakukan pembatasan pergerakan sapi. Sapi dari desa tersebut tidak boleh keluar dulu sampai benar-benar dinyatakan steril,” tegas Melandrat.

Ia menjelaskan, LSD merupakan penyakit virus yang hanya menyerang sapi dan tidak menular ke manusia.

Penularan umumnya melalui vektor seperti nyamuk dan lalat yang populasinya meningkat saat musim hujan.

Lingkungan dengan semak-semak lebat dan genangan air turut memperbesar risiko penularan.

Meski demikian, Melandrat meminta peternak tidak panik. Saat ini, Distan Buleleng mengintensifkan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada peternak, terutama di Kecamatan Gerokgak yang memiliki populasi sapi tertinggi di Buleleng.

Peternak juga diimbau untuk sementara tidak membeli sapi dari luar desa maupun luar kabupaten, khususnya melalui transaksi daring yang sulit ditelusuri riwayat kesehatannya.

Untuk penanganan ternak yang terindikasi LSD, fokus dilakukan pada perawatan kesehatan dan pengendalian vektor penular.

Peternak dianjurkan melakukan pengasapan kandang guna mengusir nyamuk dan lalat, serta rutin memandikan sapi menggunakan bahan alami sebagai langkah pencegahan.

Distan Buleleng juga telah mengirim 25 sampel sapi ke BBVet Denpasar untuk memastikan status penyakit melalui uji laboratorium.

Sampel diambil tidak hanya dari sapi yang menunjukkan gejala klinis, tetapi juga dari ternak di sekitar lokasi temuan.

“Hasil laboratorium juga belum keluar, kemungkinan hari ini sudah ada informasi,” ujar Melandrat.

Ia menegaskan, jika hasil uji laboratorium menyatakan positif LSD, vaksinasi akan segera dilakukan.

Namun vaksin hanya diberikan kepada sapi yang masih sehat, bukan yang sudah terinfeksi.

“Kalau sudah ada kejadian, yang divaksin itu sapi sehat, bukan yang terkena. Vaksin cacar sapi berbeda dengan vaksin PMK, meskipun sama-sama virus, jenis vaksinnya tidak sama,” tegasnya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Buleleng, populasi sapi di wilayah ini mencapai 69.076 ekor yang tersebar di sembilan kecamatan.

Kecamatan Gerokgak tercatat memiliki populasi terbanyak, yakni 23.539 ekor, disusul Kubutambahan sebanyak 10.242 ekor dan Seririt 7.783 ekor.***

Editor : Donny Tabelak
#distan buleleng #virus #peternak #Cacar Sapi