Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Waspada! Bendungan Sangsang Jebol, Sawah dan Tambak Warga Desa Lebih Terancam

Ida Bagus Indra Prasetia • Jumat, 6 Februari 2026 | 17:39 WIB
Tanggul bendungan yang jebol ditambal dengan bahan sederhana.
Tanggul bendungan yang jebol ditambal dengan bahan sederhana.
 
Radarbadung.jawapos.com- Bendungan Sangsang yang berlokasi di wilayah Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, Bali, kembali mengalami kerusakan akibat jebolnya struktur bendungan.
 
Kondisi tersebut menyebabkan aliran air Sungai Pakerisan terhenti dan mengancam puluhan hektare lahan pertanian serta usaha budidaya ikan lele milik warga.

Terhentinya aliran air berdampak langsung terhadap tanaman padi yang baru berumur sekitar satu pekan.

Tanaman tersebut terancam mengalami kekeringan karena tidak lagi mendapatkan suplai air dari bendungan.

Selain itu, para petani lele juga mengalami kerugian karena kolam budidaya mereka sepenuhnya bergantung pada aliran air dari Bendungan Sangsang.

Dampak kerusakan bendungan juga dirasakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Warga Desa Lebih yang biasanya memanfaatkan aliran Sungai Pakerisan untuk mencuci dan keperluan rumah tangga, kini kesulitan memperoleh air.

Wakil Subak Sangsang, I Made Sedana Yoga mengatakan, bendungan Sangsang telah beberapa kali mengalami kerusakan.

Bendungan yang diduga dibangun sejak masa kolonial Belanda itu kini mengalami penurunan kualitas fisik akibat faktor usia.

”Curah hujan tinggi beberapa waktu terakhir membuat debit Sungai Pakerisan meningkat tajam sehingga bendungan kembali jebol,” ujarnya, Kamis (5/2).

Menurutnya, krama subak bersama pemerintah desa sebenarnya telah beberapa kali melakukan perbaikan secara swadaya.

Namun, perbaikan tersebut belum mampu bertahan lama karena tekanan arus air yang cukup besar saat debit sungai meningkat.

Ia menegaskan Bendungan Sangsang memiliki peran penting bagi masyarakat Desa Lebih.

Selain sebagai sumber pengairan sawah, bendungan tersebut juga menunjang usaha perikanan serta memenuhi kebutuhan air sehari-hari warga.

Bendungan itu juga dilengkapi sistem terowongan air bawah tanah sepanjang sekitar satu hingga dua kilometer yang memiliki pintu-pintu pengatur untuk membersihkan sampah yang menghambat aliran air.

Akibat kerusakan bendungan, sejumlah petani terpaksa mengambil langkah darurat.

”Karena air tidak mengalir, saya terpaksa memanen lele lebih awal dari waktu seharusnya,” kata Sedana Yoga.

Menyikapi kondisi tersebut, masyarakat bersama aparat kepolisian dan TNI melaksanakan gotong royong untuk melakukan penanganan sementara di lokasi bendungan pada Kamis (5/2) pagi.

Perbaikan dilakukan dengan menata jalur aliran air dan membuat bendungan darurat menggunakan karung plastik berisi pasir yang disusun melintang di aliran sungai.

Kapolsek Gianyar Kompol Made Adi Suryawan menambahkan, pihaknya bersama Koramil Gianyar siap membantu masyarakat dalam penanganan dampak kerusakan Bendungan Sangsang.

”Kami bersama TNI dan masyarakat berupaya membantu penanganan sementara agar aliran air dapat kembali dimanfaatkan warga, khususnya untuk mendukung sektor pertanian dan perikanan,” ujarnya.

Pihak Subak Sangsang berharap, Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Gianyar dapat memberikan perhatian serius melalui perbaikan bendungan secara menyeluruh dan berkelanjutan, sehingga kerusakan serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.***

Editor : Donny Tabelak
#desa lebih #subak #gianyar #bendungan jebol #polsek gianyar #tambak #tni