Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Tercemar Solar, Mangrove Bali Selatan Mati Massal, Tiga LSM Laporkan Pertamina ke Polda

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 2 Maret 2026 | 11:12 WIB

 

 

Tanaman mangrove mati massal di Benoa. Diduga tercemar Solar, Tiga LSM Laporkan Pertamina ke Polda Bali.
Tanaman mangrove mati massal di Benoa. Diduga tercemar Solar, Tiga LSM Laporkan Pertamina ke Polda Bali.

Radarbadung.jawapos.com– Misteri tanaman mangrove mati massal di kawasan milik Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Bali Selatan akhirnya mulai terkuak.

Hasil analisis tim peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana menunjukkan indikasi kuat pencemaran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebagai penyebab utama.

Bahkan, tiga lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah melaporkan kasus ini ke Polda Bali.

Koordinator tim peneliti, Dewa Gede Wiryangga Selangga, menjelaskan bahwa pengambilan sampel tanah, air, dan minyak di sekitar area terdampak dilakukan sebelum diuji dengan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) pada tanggal 24-26 Februari 2026.

Teknik analisis tersebut digunakan untuk mengidentifikasi komposisi senyawa kimia, terutama hidrokarbon dari minyak bumi.

"Hasil pengujian menunjukkan adanya senyawa hidrokarbon dengan rentang atom karbon C15 hingga C24 yang mengarah kuat pada kontaminasi diesel atau solar di tanah mangrove," ujarnya.

Sementara itu, pada sampel air tidak ditemukan senyawa hidrokarbon.

Hal itu diduga karena telah terjadi proses pembersihan sehingga kontaminasi berpindah ke perairan laut.

Sebagian besar senyawa yang terdeteksi pada sampel minyak juga merupakan komponen khas bahan bakar.

"Pencemaran membuat akar mangrove kesulitan menyerap air dan unsur hara. Minyak yang terakumulasi kemudian merusak sel tanaman, membuat daun menguning hingga akhirnya tanaman mati. Pola kematiannya dalam satu blok populasi yang sama menunjukkan ini merupakan gangguan abiotik, bukan serangan patogen," tambahnya.

Tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah pemulihan, antara lain pemantauan rutin kesehatan mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, aplikasi bakteri pendegradasi minyak sebagai bioremediasi, rehabilitasi substrat sebelum penanaman ulang, serta audit menyeluruh terhadap infrastruktur energi di pesisir Bali Selatan.

Anggota DPR RI, I Nyoman Parta, menyatakan bahwa informasi dari penggiat lingkungan mengarah pada dugaan kebocoran pipa milik Pertamina di kawasan tersebut.

Ia menduga kebocoran terjadi akibat korosi pipa yang tidak dirawat secara optimal.

"Saya berharap kepolisian usut tuntas kasus ini. Mangrove bukan hanya tumbuhan semata – ia adalah benteng alami penahan abrasi dan tsunami, serta habitat biota laut yang menopang mata pencaharian nelayan," tegas politikus PDIP asal Gianyar itu.

Parta menambahkan, jika terbukti ada kelalaian, kasus ini harus diproses sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) untuk memberikan efek jera dan mencegah kejadian serupa.***

Editor : Donny Tabelak
#ksop #pertamina #Mangrove Mati #pelindo #kebocoran pipa pertamina #polda bali #solar #benoa