Radarbadung.jawapos.com– Kematian massal pohon bakau di kawasan KSOP Benoa, tepatnya di kawasan utara Jalan Tol Bali Mandara dan sebelah barat Jalan Raya Pelabuhan Benoa, ditemukan memiliki hubungan erat dengan pencemaran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
Temuan ini muncul dari hasil investigasi mendalam yang dilakukan tim peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana.
Yayasan Bendega Alam Lestari, organisasi yang fokus pada pelestarian mangrove, mengangkat suara terkait kasus ini.
Marketing dan Sosmed Lead yayasan tersebut, Ronaldo Damar, menyampaikan bahwa kondisi lapangan menunjukkan gejala yang jelas terkait faktor abiotik sebagai penyebab kematian tanaman bakau.
"Kita melihat deretan pohon mangrove yang mengering dan mati membentang mengikuti alur tertentu. Ini mengindikasikan adanya keracunan akibat cemaran yang masuk ke dalam air atau substrat tanah tempat mangrove tumbuh," ungkap Ronaldo pada Selasa (3/3).
Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan oleh tim yayasan, terdapat tumpukan sampah serta pipa-pipa yang diduga mengalami kebocoran.
Menurut Ronaldo, hal ini menjadi indikasi kuat sebagai sumber pencemaran yang menyebabkan mangrove mati secara massal.
"Kami mendesak agar segera dibentuk tim penyelidikan khusus untuk mengungkap dalang sebenarnya di balik pencemaran ini. Tidak hanya itu, perlu juga dilakukan langkah mitigasi agar kerusakan tidak semakin meluas ke area mangrove lain," tegasnya.
Ronaldo menjelaskan, proses pembentukan ekosistem mangrove membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Bahkan untuk menumbuhkan pohon bakau hingga berukuran besar diperlukan waktu puluhan tahun dengan perawatan intensif pada tahap awal.
"Setelah tumbuh besar dan lingkungannya terjaga dengan baik, mangrove memiliki tingkat kelangsungan hidup yang sangat tinggi dan mampu bertahan dengan kuat. Namun, pencemaran seperti ini bisa menghancurkannya dalam waktu yang relatif singkat," tandasnya.
Sebelumnya, kasus misterius kematian mangrove di kawasan milik Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) di Bali Selatan telah dilaporkan ke Polda Bali oleh tiga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Koordinator tim peneliti Universitas Udayana, Dewa Gede Wiryangga Selangga, menjelaskan bahwa tim telah mengambil sampel tanah, air, dan minyak di sekitar lokasi terdampak.
Analisis dilakukan menggunakan metode Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS), sebuah teknik analisis yang akurat untuk mengidentifikasi komposisi senyawa kimia, terutama hidrokarbon yang berasal dari minyak bumi.***
Editor : Donny Tabelak