Radarbadung.jawapos.com– Konflik militer antara Amerika Serikat bersama Israel dengan Iran mengancam menyebabkan krisis energi global yang berdampak langsung pada industri pariwisata Bali.
Jika harga minyak dunia melonjak akibat gangguan pasokan melalui jalur strategis, biaya operasional sektor wisata Pulau Dewata akan meningkat tajam, mulai dari transportasi, listrik, hingga pengelolaan hotel dan usaha makanan serta minuman (F&B).
Akibatnya, harga paket wisata Bali berpotensi naik dan menekan daya saing destinasi wisata dunia ini.
Hal itu disampaikan oleh pakar ekonomi Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS) Denpasar, Prof. Ida Bagus Raka Suardana pada Kamis (5/3).
"Jika harga minyak dunia terus meroket, biaya produksi dan operasional di sektor pariwisata Bali akan terpengaruh besar. Ini bisa membuat paket wisata kita menjadi lebih mahal dan kurang kompetitif dibandingkan destinasi lain," jelasnya.
Selain itu, Prof. Raka menyebutkan bahwa kenaikan tiket transportasi udara maupun laut global juga bisa mengubah pola kunjungan wisatawan ke Bali.
Kondisi ini mendorong pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk lebih fokus mempromosikan destinasi ini ke segmen domestik yang cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi harga bahan bakar.
"Perubahan pola pariwisata bisa terjadi jika wisatawan mancanegara enggan datang karena biaya transportasi yang mahal. Oleh karena itu, fokus pada pasar domestik menjadi penting untuk menjaga kestabilan industri pariwisata Bali," ujarnya.
Menurut akademisi ini, dampak ekonomi dari konflik Israel-Iran sangat bergantung pada tiga faktor utama: durasi konflik, sejauh mana rute energi strategis terganggu, serta kebijakan yang diambil pemerintah pusat dan daerah untuk menanggulanginya.
"Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi 20 persen pasokan minyak dunia adalah titik kritis. Jika jalur ini terganggu, harga minyak global bisa melonjak dan menyebabkan inflasi di seluruh negara importir energi, termasuk Indonesia," paparnya.
Setiap kenaikan US$10 per barel harga minyak dunia, kata Prof. Raka, akan meningkatkan tekanan inflasi karena biaya produksi dan distribusi barang serta jasa menjadi lebih mahal.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya, kondisi ini juga berpotensi memperlemah nilai tukar rupiah akibat meningkatnya permintaan devisa untuk impor energi.
"Meskipun dampaknya diperkirakan lebih moderat dibandingkan negara lain dengan ketergantungan energi yang lebih tinggi, namun tekanan ini tetap bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan berdampak pada sektor pariwisata Bali," tandasnya.***
Editor : Donny Tabelak