Radarbadung.jawapos.com– Siapa yang tidak kenal Swalayan Tragia? Berlokasi di Pertokoan Kertha Wijaya, Jalan Ponogoro Denpasar, toserba modern pertama di Bali ini kini tengah dalam proses pembongkaran bertahap.
Sebelum menjadi pusat perbelanjaan favorit, lahan seluas ratusan meter persegi tersebut bahkan pernah menjadi penjara milik pemerintah kolonial Belanda.
Sejarah panjang kawasan ini dimulai pada tahun 1916, ketika pemerintah kolonial mendirikan Penjara Denpasar di lokasi tersebut.
Setelah lebih dari 6 dekade berdiri, penjara tersebut dipindahkan (tukar guling) ke Lapas Kerobokan pada tahun 1983.
Kemudian pada tahun 1986, Pertokoan Kertha Wijaya diresmikan oleh Gubernur Bali kala itu, Ida Bagus Mantra.
Swalayan Tragia sendiri baru dibuka pada tahun 1996 dan langsung menjadi ikon perbelanjaan modern di Pulau Dewata.
Baca Juga: Obat Habis di RSUD Tabanan Jadi Sorotan, Dewan Minta Evaluasi Total Manajemen
Pada puncak kejayaannya antara tahun 1990-an hingga awal 2000-an, Tragia bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga pusat interaksi sosial dan wadah bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Tempat ini menjadi favorit masyarakat Denpasar dan sekitarnya, bahkan menjadi destinasi bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana berbelanja khas Bali kala itu.
Namun seiring munculnya pusat perbelanjaan modern lainnya di berbagai kawasan Denpasar, aktivitas di Swalayan Tragia mulai menurun.
Akhirnya toserba ini ditutup dan bangunannya pun mangkrak lama, bahkan sempat dijadikan lokasi berjualan bagi pedagang bertenda.
Sejak awal tahun 2026, proses pembongkaran bangunan mulai dilakukan secara bertahap.
Hanya saja baru dalam 12 hari terakhir, pihak kontraktor menggunakan alat berat untuk mempercepat pekerjaan.
"Kami hanya bertugas berobohkan, tak tahu akan dibuat apa selanjutnya di lokasi ini," ujar salah seorang pekerja yang tidak ingin disebutkan namanya.
Swalayan Tragia meninggalkan kenangan mendalam bagi banyak orang sebagai pelopor pusat perbelanjaan modern di Bali, yang menyaksikan perkembangan gaya hidup berbelanja masyarakat pulau ini dari masa ke masa.***