Radarbadung.jawapos.com– Tata ruang Bali dinilai memprihatinkan bagi pejalan kaki.
Aksesibilitas dan kenyamanan pedestrian terus terpinggirkan, trotoar diserobot pengendara motor dan dijadikan lahan parkir liar.
Persoalan ini dibedah dalam Forum Jumpa Ngopi #16 bertajuk "Bali Bicara Pejalan Kaki" pada Jumat (13/3).
Diskusi yang diinisiasi WRI Indonesia dan Warmadewa Research Center (WRC) ini gerakan kolektif lintas elemen, mulai dari Komunitas Pejalan Kaki (Kopeka) Bali, Denpasar Bersepeda, Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, hingga akademisi.
Baca Juga: Di Tengah Pembangunan Olahraga Raksasa, FAJI Buleleng Fokus Latih Atlet Muda untuk Kejuaraan Daerah
Terungkap mobilitas berkelanjutan di Bali, khususnya Denpasar, dalam kondisi darurat.
Dosen Universitas Warmadewa sekaligus Co-chair International Advisor WRC, I Nyoman Gede Maha Putra, soroti ketimpangan sosial dalam pembangunan infrastruktur jalan.
Menurutnya, pembangunan cenderung menguntungkan kaum neoliberal dan pemilik kendaraan pribadi ketimbang masyarakat kecil.
"Saat ke Ubud, nenek dan cucunya kesulitan menyeberang karena sulit berjalan kaki dan tak ada bemo. Ini menunjukkan pembangunan jalan memunculkan ketimpangan sosial," tegas Gede Maha.
Kondisi ini diperparah data statistik jomplang. Jumlah kendaraan di Bali kini melampaui penduduk.
Dengan populasi 4,4 juta jiwa, kendaraan tercatat mencapai 5 juta unit.
Data 2024 menunjukkan rata-rata satu orang memiliki minimal 1–2 kendaraan pribadi.
Dampaknya, masyarakat yang berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum hanya tersisa 1 persen, sementara 62 persen bergantung motor dan 33 persen mobil.
Baca Juga: Akses Pendidikan Tinggi di Bali Belum Merata, Demer: Waktunya Pindah ke Wilayah Pinggiran
Menanggapi dominasi kendaraan pribadi, Urban & Transport Analyst WRI Indonesia, Fairuzia Rahman, tekan pentingnya konsep Non-motorized Transport (NMT) dan Kawasan Rendah Emisi (KRE).
Ia desak pemerintah dan stakeholder merebut ruang bagi pejalan kaki lewat perencanaan partisipatif.
"Kami harap KRE Sanur sebagai bagian dari Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) bukti konsep human-centered design. Ruang pejalan kaki harus direbut dari dominasi kendaraan pribadi," ujar Fairuzia.
Diskusi ini tak hanya tampilkan situasi lapangan tapi juga data.
Forum ini diharapkan lahir rekomendasi konkret bagi pembuat kebijakan, mewujudkan mobilitas manusiawi dan dukung komitmen Bali Net Zero Emission.***
Editor : Donny Tabelak