Radarbadung.jawapos.com– Harga pasir di wilayah galian C Karangasem, khususnya di Kecamatan Selat, mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Lonjakan harga ini membuat para sopir truk kehilangan orderan, sementara kontraktor mengeluh biaya operasional membengkak.
Kondisi ini diakui langsung oleh Hardi, salah seorang sopir truk pengangkut material.
Menurutnya, harga dasar di tambang yang dulunya Rp 800 ribu per truk, kini melonjak menjadi Rp 1,2 juta.
”Banyak orderan yang dibatalkan pelanggan. Karena harganya naik tajam. Dulu beli Rp 800 ribu bisa kami jual Rp 2 juta. Sekarang kalau harga beli sudah tinggi, harga jual otomatis ikut naik, makanya pembeli enggan,” ujar Hardi, Senin (13/4).
Kenaikan harga pasir ini diduga kuat dipengaruhi oleh naiknya harga solar non-subsidi.
Biaya operasional yang membengkak membuat pengusaha terpaksa menaikkan harga jual.
Situasi ini juga membuat pusing para kontraktor.
Menurut Ngurah Gde, salah seorang pelaku usaha konstruksi, kenaikan ini sangat memberatkan karena proyek sudah berjalan namun biaya material justru melonjak.
”Naiknya benar-benar memberatkan. Harga pasir cor sampai tembus Rp 2,5 juta per truk. Padahal kontrak sudah jalan, jadi kami harus menanggung cost lebih yang tidak terduga,” keluhnya.
Ia pun berharap pemerintah bisa mengambil langkah untuk mengontrol harga BBM agar tidak terus menerus memukul harga material bangunan.
Menyikapi keluhan tersebut, Kepala BPKAD Karangasem, I Nyoman Siki Ngurah, membenarkan adanya informasi kenaikan harga di lokasi galian C.
Pihaknya sudah menurunkan staf untuk mensosialisasikan aturan kepada para pengusaha.
Pemerintah menegaskan agar harga tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.
”Kami tetap berpedoman pada SK Gubernur Bali Nomor 101 Tahun 2025 tentang harga dasar MBLB. Kami harap pengusaha tetap mengikuti harga dalam ketentuan tersebut,” tegasnya.***
Editor : Donny Tabelak