Radarbadung.jawapos.com– Kebijakan penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung untuk sampah organik sejak 1 April lalu membuat warga Denpasar harus berpikir keras mencari solusi.
Bagi mereka yang tinggal di rumah dengan lahan sempit atau tinggal di kos-kosan, mengolah sampah organik sendiri menjadi tantangan tersendiri.
Alih-alih menumpuk atau membuang sembarangan, tidak sedikit warga yang memilih membawa sampah organik tersebut ke kampung halaman mereka yang masih memiliki lahan luas, seperti tegalan atau pekarangan, untuk dijadikan pupuk kompos.
Hal itu dilakukan oleh Ida Ayu Made Candra Kartika, 64, warga Kelurahan Padangsambian, Denpasar.
Menurutnya, meski sudah menggunakan composter bag, sampah dapur dan sisa canang sering kali menimbulkan bau tidak sedap karena halaman rumahnya yang terbatas.
Oleh karena itu, sejak kebijakan diberlakukan, ia dan suaminya rutin membawa sampah organik tersebut ke kampung halamannya di Bakas, Klungkung, beberapa hari sekali sambil menengok orang tua.
"Setiap minggu suami saya pulang bawa sampah, biasanya satu bag plastik besar dan tiga kantong kresek merah dibawa dengan mobil. Sampah di rumah lebih banyak organik seperti sisa dapur dan canang, sedangkan anorganik hanya sedikit plastik yang bisa diserahkan ke pemulung," ungkapnya, Rabu (15/4).
Ia mengaku sangat bersyukur masih memiliki lahan di kampung dan akses jalan yang mudah lewat Bypass.
Jika tidak, ia mengaku akan pusing memikirkan nasib sampah yang tidak terangkut dan belum ada solusi pasti dari pemerintah.
"Syukur saya punya kampung dan masih dekat. Kalau hanya punya rumah di Denpasar saja, pasti pusing mikirin sampah yang tak diangkut serta tak ada penyelesaian yang konkrit," tambahnya.
Hal serupa juga dilakukan oleh Wayan Juli, 45, perantau asal Karangasem yang tinggal di kawasan Tonja.
Karena tinggal di rumah kos dan tidak memiliki tempat untuk mengolah sampah, ia pun membawa sampah organiknya pulang ke kampung.
"Di kampung tegalannya cukup luas. Sampah organik kan gampang hancur, nanti jadi kompos. Jadi kalau pulang menengok orang tua atau ada acara keluarga, sekalian saya bawa sampahnya," katanya.
Saat ini, pengelolaan sampah organik menjadi tanggung jawab masing-masing wilayah dan warga.
Bagi yang tidak memiliki kapasitas lahan, inisiatif "pulang kampung" menjadi salah satu solusi mandiri yang terpaksa dilakukan warga demi menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka.***
Editor : Donny Tabelak