Radarbadung.jawapos.com– Menyikapi masalah sampah yang belum tertuntaskan serta kebijakan baru yang akan diterapkan, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Gubug, Kecamatan Tabanan, hadirkan inovasi ramah lingkungan.
Sekolah ini mengolah sampah organik menjadi pupuk cair melalui metode yang diberi nama Pocaris (Pupuk Organik Cair dari Tong Komposter).
Inovasi ini merupakan bagian dari program Tebas Lestari yang terintegrasi dengan upaya ketahanan pangan.
Sampah yang dimanfaatkan berasal dari sisa makanan kantin, sisa makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga dedaunan kering di lingkungan sekolah.
Kepala SDN 5 Gubug, Ni Nyoman Dian Trisna Dewi, menjelaskan langkah ini diambil sebagai langkah antisipasi.
Pasalnya, mulai 1 Mei 2026 mendatang, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mandung tidak lagi menerima sampah organik dan hanya menerima sampah residu.
"Karena itulah inovasi Pocaris muncul, bagaimana kami di lingkungan sekolah ikut serta mengolah sampah organik yang dihasilkan sendiri," ujarnya, Minggu (19/4).
Metode Pocaris dinilai sangat efektif dan bermanfaat.
Selain mampu menyuburkan tanaman di kebun sekolah secara alami dan mengurangi penggunaan pupuk kimia, inovasi ini juga menjadi media belajar yang menyenangkan bagi siswa.
"Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung memilah dan mengolah sampah. Proses pembuatannya pun sederhana dan biayanya sangat rendah," jelasnya.
Secara teknis, sampah organik yang sudah dikumpulkan dan dipilah oleh siswa dimasukkan ke dalam tong komposter.
Kemudian ditambahkan air dan aktivator seperti EM4, lalu ditutup rapat untuk difermentasi selama 1 hingga 3 bulan.
"Hasil dari proses tersebut berupa cairan lindi yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair yang berkualitas," tandasnya.
Dengan cara ini, sekolah berhasil mengurangi volume sampah sekaligus mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai guna.***
Editor : Donny Tabelak