Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Bukan Cuma Warga Lokal, 31 Persen Pasien HIV di Bali Berasal dari Luar Daerah

Ni Kadek Novi Febriani • Rabu, 22 April 2026 | 16:37 WIB
Ilustrasi pasien HIV konsultasi dengan dokter. Dinkes Provinsi Bali mencatat, temuan kasus baru HIV pada tahun 2025 mencapai 2.039 kasus.
Ilustrasi pasien HIV konsultasi dengan dokter. Dinkes Provinsi Bali mencatat, temuan kasus baru HIV pada tahun 2025 mencapai 2.039 kasus.

Radarbadung.jawapos.com– Data Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat, temuan kasus baru HIV pada tahun 2025 mencapai 2.039 kasus.

Angka ini menempatkan Bali masuk dalam 10 besar nasional.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua kasus tersebut merupakan warga asli Bali.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, menjelaskan bahwa sekitar 31 persen pasien yang mengakses pengobatan di Bali justru berasal dari luar daerah.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa angka kasus di Bali terlihat tinggi.

"Niki 31 persen yang dari luar Bali. HIV itu sebenarnya kalau lihat kenapa angkanya terlihat tinggi di Bali, itu karena data yang tercatat adalah setiap pasien yang mengakses pengobatan di sini. Kenyataannya memang banyak sekali pasien-pasien dari luar Provinsi Bali yang memilih berobat di sini, karena mungkin mereka merasa lebih nyaman dan privasinya terjaga," terang Raka.

Selain warga domestik, sebagai destinasi pariwisata dunia, Bali juga melayani Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal atau berkunjung di sini.

Hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 14.314 Orang dengan HIV (ODHIV) telah aktif menjalani terapi obat Antiretroviral (ARV).

Pemerintah Pusat sendiri menargetkan penemuan kasus di Bali hingga mencapai angka 27.081 orang.

Untuk mencapai target tersebut, Dinkes Bali bekerja sama dengan berbagai yayasan mitra.

Mereka membantu memobilisasi dan mendampingi masyarakat untuk melakukan tes hingga mendapatkan pengobatan.

"Seluruh Puskesmas dan RSUD di Bali sudah siap memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan secara gratis dan mudah diakses," bebernya.

Dalam upaya pencegahan, dr. Raka menekankan pentingnya pemahaman cara penularan, terutama melalui hubungan seksual berisiko.

"Kuncinya adalah edukasi, jangan berganti-ganti pasangan dan selalu gunakan pelindung," ujarnya.

Tak kalah penting adalah kepatuhan minum obat seumur hidup dan rutin cek viral load.

Jika virus sudah tersupresi atau tidak aktif, pasien tidak akan menularkan ke orang lain dan bisa hidup normal.

"Pemeriksaan viral load ini penting agar kita tahu kondisi virus di dalam tubuh sudah tidak aktif. Jika sudah demikian, mereka tidak menularkan dan bisa hidup sehat," pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#hiv/aids #rumah sakit #virus #penyakit menular #diskes bali