Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Beda dengan Covid-19, Hantavirus Penularannya Bersumber dari Tikus, Pemprov Bali Pastikan Belum Ada Kasus

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 11 Mei 2026 | 06:46 WIB
Ilustrasi, tikus pembawa hantavirus. Pemprov Bali sebut hingga saat ini belum ada kasus maupun pasien yang diduga terkena Hantavirus. (Ai)
Ilustrasi, tikus pembawa hantavirus. Pemprov Bali sebut hingga saat ini belum ada kasus maupun pasien yang diduga terkena Hantavirus. (Ai)

Radarbadung.jawapos.com– Isu penyebaran Hantavirus belakangan ini mulai mengundang kekhawatiran masyarakat.

Virus yang dibawa dan ditularkan oleh hewan pengerat seperti tikus ini, dapat menular melalui kontak langsung dengan air liur, urine, kotoran, maupun debu yang terkontaminasi.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kesehatan memastikan wilayahnya masih aman, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menegaskan hingga saat ini belum ada laporan kasus positif maupun pasien yang diduga kuat terjangkit virus tersebut di Pulau Dewata.

“Sampai saat ini kami pastikan belum ada kasus maupun suspek Hantavirus yang terdeteksi di Bali,” ujar Raka saat dikonfirmasi, Sabtu (10/5).

Banyak masyarakat yang membandingkan potensi bahaya virus ini dengan pandemi Covid-19.

Menanggapi hal tersebut, Raka menjelaskan perbedaan mendasar dari segi penularan dan jenis patogennya.

Jika Covid-19 adalah virus manusia yang menular antarmanusia, Hantavirus bersifat zoonosis yang sumber utamanya adalah hewan pengerat. 

Meskipun demikian, dampak kesehatannya tetap serius karena dapat menyerang sistem pernapasan manusia.

“Secara penularan berbeda. Hantavirus spesifik dibawa oleh tikus dan gejalanya mengganggu fungsi paru-paru. Oleh karena itu, langkah pencegahan utamanya berfokus pada pengendalian populasi hewan tersebut dan kebersihan lingkungan,” jelasnya.

Meski statusnya masih nihil kasus, Pemprov Bali tidak mengambil risiko.

Sistem pemantauan atau surveilans penyakit yang berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) kini digencarkan mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, puskesmas, hingga rumah sakit rujukan.

“Kami perketat pengamatan. Jika ditemukan pasien dengan gejala khas dan memiliki riwayat faktor risiko, tim kami akan segera turun melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memastikan diagnosa dan memutus rantai penularan,” tambahnya.

Selain surveilans medis, pihaknya juga menggerakkan tim Promosi Kesehatan (Promkes) di seluruh lini wilayah.

Edukasi kepada masyarakat terus digalakkan agar paham mengenai bahaya, cara penularan, hingga langkah pencegahannya.

Sebagai informasi, gejala awal infeksi Hantavirus biasanya ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot, mual, hingga rasa lelah yang ekstrem.

Jika tidak segera ditangani, kondisi dapat memburuk menjadi sesak napas yang parah.

Oleh karena itu, kunci utama pencegahannya adalah menjaga sanitasi lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus.***

Editor : Donny Tabelak
#virus #Pemprov Bali