Radarbadung.jawapos.com– Maraknya kasus kematian babi secara misterius di sejumlah wilayah Kabupaten Tabanan menjadi perhatian serius.
Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit berbahaya, Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Pertanian menerbitkan Surat Edaran Nomor 524/7215/PKH/Distan tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Penyakit Menular pada Ternak Babi.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan dini, terutama untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) yang sangat mematikan bagi ternak babi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Ekayana, menyatakan surat edaran tersebut telah disebarluaskan kepada seluruh kelompok peternak di wilayahnya.
Isinya menekankan pentingnya kewaspadaan serta penerapan sistem keamanan hayati atau biosekuriti secara ketat di lingkungan kandang.
“Kami mengimbau peternak untuk membatasi lalu lintas orang, barang, dan kendaraan yang masuk ke area kandang. Selain itu, wajib melakukan penyemprotan disinfeksi secara rutin dan dilarang memberikan pakan berupa sisa makanan dari hotel, restoran, maupun katering,” ungkapnya saat dikonfirmasi pada Rabu (27/5).
Dalam surat edaran tersebut juga ditegaskan sejumlah larangan dan kewajiban.
Peternak diminta segera melapor kepada dinas terkait jika ditemukan kasus kematian babi secara mendadak atau misterius.
Sebaliknya, membuang bangkai babi secara sembarangan ke sungai, lahan kosong, atau tempat pembuangan umum dilarang keras.
“Bangkai ternak wajib dikubur dengan cara yang benar agar tidak menularkan penyakit. Selain itu, memindahkan babi yang sakit maupun yang telah mati ke luar wilayah juga dilarang tegas,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ternak dan Kesehatan Hewan, I Gede Parta Ariana, menjelaskan bahwa upaya pencegahan juga dilakukan melalui pembagian bantuan cairan disinfektan kepada peternak.
Program ini sudah berjalan sejak dua bulan terakhir, meski penyebarannya belum merata karena keterbatasan stok.
“Kami sudah mengajukan permohonan tambahan sebanyak 100 liter disinfektan ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar. Bantuan ini disalurkan tidak hanya di lokasi yang ada laporan kasus, tetapi juga di daerah dengan populasi babi yang padat sebagai langkah pencegahan,” jelasnya.
Terkait kasus kematian babi yang dilaporkan di Kecamatan Baturiti, pihaknya masih bersikap hati-hati dan belum menarik kesimpulan.
Penyebab pasti kematian baru dapat diketahui setelah keluar hasil pemeriksaan sampel di laboratorium.
“Kami belum bisa memastikan penyebabnya, apakah karena ASF atau penyakit lain, sebelum ada hasil uji laboratorium yang sah,” pungkasnya.***