Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Ayam Caru, Usaha Sampingan yang Menjanjikan di Tengah Tingginya Kebutuhan Upacara Bali

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:00 WIB
Perbekel Desa Buahan, I Gede Ari Wastika, menunjukkan salah satu kandang miliknya yang digunakan untuk beternak ayam caru guna memenuhi kebutuhan upacara keagamaan. (Foto Juliadi)
Perbekel Desa Buahan, I Gede Ari Wastika, menunjukkan salah satu kandang miliknya yang digunakan untuk beternak ayam caru guna memenuhi kebutuhan upacara keagamaan. (Foto Juliadi)

Radarbadung.jawapos.com– Selama ini masyarakat lebih mengenal peternakan ayam ras pedaging maupun petelur.

Padahal, ada satu peluang usaha yang cukup menjanjikan sekaligus cocok dijadikan pekerjaan sampingan, yaitu beternak ayam caru.

Di Bali, permintaan ayam jenis ini terbilang sangat tinggi karena menjadi salah satu sarana utama dalam pelaksanaan upacara keagamaan atau yadnya.

Melihat peluang tersebut, I Gede Ari Wastika, Perbekel Desa Buahan, Tabanan, pun menekuni usaha peternakan ini.

Bagi dia, beternak ayam caru menjadi kegiatan di sela kesibukannya melayani masyarakat di lingkungan pemerintahan desa.

“Bisa dibilang ini sebagai penyegaran pikiran setelah bekerja dan mengisi waktu luang. Dalam kesehariannya, usaha ini juga dibantu oleh istri saya,” ujarnya saat ditemui di lokasi kandangnya, Kamis (28/5).

Usaha ini dirintisnya sejak awal tahun 2023 dengan modal awal sebanyak 200 ekor bibit ayam caru jenis mentari.

Ia memilih usaha ini lantaran melihat tingginya kebutuhan masyarakat akan ayam caru, terutama saat momen-momen penting seperti Hari Raya Nyepi.

“Kita sama-sama tahu, ayam caru merupakan salah satu sarana yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan upacara. Apalagi saat mendekati hari besar keagamaan, permintaannya pasti melonjak,” jelasnya.

Dalam menjalankan usahanya, Ari Wastika mempelajari cara beternak secara otodidak.

Ia memanfaatkan lahan sempit seluas 3 are yang diubah menjadi lokasi peternakan.

Kandang yang dibuatnya berjenis tertutup berbentuk kotak, terbuat dari bahan kayu dan triplek berukuran 1,5 x 2,5 meter.

Di atas lahan tersebut, dibangun 12 unit kandang yang mampu menampung sebanyak 2.600 hingga 3.000 ekor ayam.

Proses pemeliharaan memakan waktu sekitar 35 hari hingga ayam siap dipasarkan.

Selama ini, bibit ayamnya didatangkan dari wilayah Marga, bahkan ada juga yang didatangkan dari luar daerah Bali.

“Usaha ini bisa terus berjalan hingga sekarang. Saat ini saja saya masih memelihara sekitar 500 ekor lebih,” ungkapnya.

Hasil ternaknya dipasok tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Buahan saja, melainkan juga menjangkau permintaan dari masyarakat di seluruh wilayah Tabanan.

Mengenai harga, ia menyebut nilainya bersifat fluktuatif, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp25.000 per ekor.

Dalam kondisi biasa, penjualan rata-rata bisa mencapai 100 ekor per bulan.

Namun harga dan jumlah permintaan dipastikan akan melonjak drastis ketika mendekati hari raya besar seperti Nyepi.***

Editor : Donny Tabelak
#tabanan #perbekel #peternak #ayam #upacara mecaru