Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Rupiah Melemah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Dampak Ganda bagi Ekonomi dan Pariwisata Bali

Marsellus Nabunome Pampur • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:37 WIB
Ilustrasi, pengusaha di Bali pusing dengan nilai tukar rupiah terus tertekan dan pada Kamis (4/6) sempat menembus level Rp18.000 per satu Dolar AS.(Ai)
Ilustrasi, pengusaha di Bali pusing dengan nilai tukar rupiah terus tertekan dan pada Kamis (4/6) sempat menembus level Rp18.000 per satu Dolar AS.(Ai)

Radarbadung.jawapos.com– Nilai tukar rupiah terus tertekan dan pada Kamis (4/6) sempat menembus level Rp18.000 per satu Dolar AS.

Kondisi ini memicu berbagai spekulasi, bahkan diprediksi mata uang AS itu masih berpotensi menguat lebih lanjut.
 
Pengamat ekonomi sekaligus akademisi, Prof. Ida Bagus Raka Suardana, menilai kemungkinan penguatan dolar masih terbuka lebar seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
 
“Kini suku bunga di Amerika Serikat masih bertahan tinggi, sehingga arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Namun pergerakan nilai tukar tidak selalu berjalan lurus. Stabilitas rupiah juga dipengaruhi oleh kinerja ekspor, neraca perdagangan, cadangan devisa, serta efektivitas kebijakan yang diambil Bank Indonesia,” jelasnya. 
 
Menurutnya, meski sudah berada di level Rp18.000, hal itu bukan berarti dolar akan terus menguat tanpa ada kemungkinan perbaikan.
 
Terlepas dari itu, pelemahan rupiah memberikan dampak ganda bagi perekonomian Bali.

Salah satu tekanan terbesar muncul karena Bali masih sangat bergantung pada barang dan bahan baku impor, terutama untuk menunjang sektor pariwisata.

Akibatnya, biaya operasional hotel, restoran, hingga jasa transportasi wisata ikut melonjak.
 
“Kenaikan biaya ini berpotensi memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat menekan minat investasi, konsumsi rumah tangga, serta memperlambat laju pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
 
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga menyimpan sisi positif bagi pariwisata.

Bagi wisatawan mancanegara, biaya yang harus dikeluarkan untuk berlibur di Bali menjadi relatif lebih murah, sehingga daya beli mereka diperkirakan akan meningkat.
 
Meski demikian, keuntungan ini tidak otomatis dirasakan oleh seluruh pelaku usaha.

“Karena di saat yang sama mereka juga harus menanggung kenaikan biaya operasional. Dampak positif baru akan terasa jika peningkatan jumlah kunjungan dan pengeluaran wisatawan mampu melampaui kenaikan biaya usaha,” tegasnya.
 
Untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan manfaatnya, Prof. Raka menyarankan pemerintah untuk terus memperkuat stabilitas makroekonomi, menjaga laju inflasi, meningkatkan nilai ekspor jasa pariwisata, serta mempercepat penggunaan produk lokal dalam rantai pasok industri wisata.
 
Sementara itu, pelaku usaha disarankan meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi ketergantungan pada barang impor, membidik segmen wisatawan dengan daya beli lebih tinggi, serta mempererat kerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
 
“Strategi ini penting agar manfaat devisa yang masuk dari sektor pariwisata dapat lebih banyak dirasakan dan menguatkan perekonomian Bali secara menyeluruh,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#nilai tukar rupiah #rupiah melemah #ekonomi bali #bank indonesia