Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (29)

Eka Prasetya • Rabu, 17 Juni 2026 | 07:48 WIB
Suasana di Kota Tua Heshun, Provinsi Yunnan. Kota ini menjadi salah satu rujukan wisatawan domestik saat melancong ke Kota Taechong, Yunnan.(Foto Eka Prasetya) 
Suasana di Kota Tua Heshun, Provinsi Yunnan. Kota ini menjadi salah satu rujukan wisatawan domestik saat melancong ke Kota Taechong, Yunnan.(Foto Eka Prasetya) 

Melancong ke Heshun, Kota Tua di Tiongkok yang Hidup dari Ingatan Para Perantau

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Siang itu, jalan batu di Kota Tua Heshun masih basah oleh sisa hujan.

Meski begitu, geliat ekonomi tak terhenti. Toko-toko tetap buka, pedagang kaki lima tetap bertahan di bawah tenda yang telah siap melindungi para pedagang dari tetesan air.

Ada yang menata biji kopi, menjajakan jamur, ada yang menyiapkan payung untuk disewakan kepada wisatawan, sementara di sudut lain aroma jagung rebus mulai tercium dari lapak sederhana milik pedagang kaki lima. 

Terletak di barat daya Kota Tengchong, Provinsi Yunnan, Heshun merupakan salah satu kota tua paling bersejarah di wilayah tersebut.

Selama lebih dari 600 tahun, kota ini menjadi saksi perjalanan masyarakat perbatasan Tiongkok sekaligus jejak panjang diaspora Tionghoa yang tersebar ke berbagai penjuru dunia. 

Hingga kini sekitar 7.000 warga masih menetap di kawasan itu.

Namun jumlah warga Heshun yang hidup di luar negeri jauh lebih besar.

Tercatat lebih dari 20 ribu diaspora berasal dari kota kecil ini dan tersebar di berbagai negara Asia Tenggara, seperti Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Kamboja, hingga Indonesia.

Jejak para perantau itu masih terasa kuat di setiap sudut kota.

Kota ini masih mempertahankan gaya bangunan mereka. Bangunan itu didominasi tembok-tembok batu.

Tidak ada semen yang digunakan sebagai perekat. 

Palang-palang kayu juga terjalin tanpa menggunakan paku, sehingga menjadikan bangunan tahan gempa.

Saat melancong ke kota tuaini pada Jumat (12/6), kami para jurnalis peserta program CIPCC diajak melihat dari dekat beberapa peninggalan yang ada di kota tua tersebut.

Salah satunya adalah Perpustakaan Heshun.

Perpustakaan yang didirikan pada 1928 silam itu merupakan perpustakaan pedesaan terbesar dan terlengkap di Tiongkok.

“Perpustakaan ini menyimpan ratusan ribu koleksi buku dan puluhan ribu manuskrip. Tapi tidak semuanya bisa kami buka ke publik. Ada manuskrip-manuskrip yang harus kami rawat dengan baik, karena sudah rapuh,” ungkap Li Yan, Anggota Komite Tetap Komite Partai Komunis China Kota Tengchong sekaligus Wakil Wali Kota Tengchong.

Selain perpustakaan ada juga Wenchang Palace atau Istana Wenchang.

Bagi masyarakat setempat, istana ini adalah tempat ibadah.

Istana menjadi lokasi untuk menghaturkan persembahan kepada Wenchang Dijun, dewa dalam ajaran Taoisme.

Dewa tersebut memegang kendali atas kesusastraan dan kehormatan akademik.

Istana dibangun pada masa kedudukan Kaisar Daoguang dari Dinasti Qing (1821–1850).

Kompleks istana ini terdiri dari aula utama, aula belakang, Kuil Dewa Kuixing, Paviliun Zhuyi, lorong, dua sayap bangunan, gerbang, serta pelataran di bagian depan.

Di bawah paviliun kiri dan kanan, tertanam prasasti batu hasil ujian imperial dari dua dinasti di Heshun.

Prasasti tersebut mencatat 809 warga Heshun yang pernah meraih gelar akademik dan pangkat resmi pada masa Dinasti Ming dan Qing.

Istana ini juga menjadi cikal bakal pendidikan bagi Heshun.

Sekolah dasar didirikan di lokasi ini pada tahun 1909, sedangkan sekolah menengah didirikan pada 1940.

Seluruhnya dibangun menggunakan pendanaan dari diaspora Tionghoa Heshun yang pulang dari perantauan.

“Sejarah itu menjadikan kota tua ini memiliki jejak akademik sampai saat ini,” imbuh Li Yan.

Sejak beberapa tahun belakangan, kota tua ini juga menjadi salah satu rujukan kunjungan turis di Provinsi Yunnan.

Baik itu wisatawan domestik dari Tiongkok, maupun wisatawan mancanegara.

Tiket masuk ke kawasan ini hanya 55 yuan atau sekitar Rp 137 ribu. Tiket itu bukan hanya berlaku sehari, tapi bisa digunakan selama 7 hari.

“Pengunjung bisa bolak-balik selama 7 hari. Tinggal menunjukkan tiket yang sudah dibeli saja,” ungkap Li Yan.

Tak heran jika kota ini kerap dikunjungi wisatawan, khususnya wisatawan domestik. Ekonomi lokal pun bergerak.

Sepanjang kota saya melihat berbagai pusat ekonomi tumbuh.

Mulai dari toko kelontong, penjualan kopi, jasa fotografi, pedagang kaki lima yang menjual jagung maupun jamur, hingga warga yang menyewakan payung untuk menghalau panas atau hujan.

Ekonomi di kota tua ini pun mulai bergeser.

Jika dulunya bergantung dari para perantau dan diaspora, kini kota tersebut menggantungkan hidupnya dari pariwisiata. 

Lebih dari 80 persen penduduk bekerja di sektor pariwisata. 

“Ada yang membuka toko, menjadikan rumahnya sebagai penginapan, pemandu wisata, maupun pedagang-pedagang kecil,” sebut Li Yan.

Meski demikian, Heshun tidak sepenuhnya meninggalkan akar agrarisnya.

Kota tua ini dikelilingi pegunungan vulkanik yang telah lama tidak aktif.

Tanahnya yang subur masih dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam dan menghasilkan berbagai komoditas pertanian.

Di tengah derasnya arus wisatawan, Heshun juga menyimpan identitas lain yang unik.

Letaknya yang hanya sekitar 70 kilometer dari perbatasan Myanmar membuat pengaruh budaya negeri tetangga itu terasa cukup kuat.

Sejumlah tanaman, makanan, hingga suasana kampung mengingatkan pengunjung pada kawasan pedesaan Myanmar.

Kesan itu pula yang dirasakan jurnalis asal Myanmar, That Wei San.

“Bunga-bunga di sini, makanan, dan suasananya mirip dengan Myanmar. Ini membuat saya merasa di rumah,” kata Wei San.

Barangkali di situlah daya tarik terbesar Heshun berada.

Bukan hanya karena usia kotanya yang telah melampaui enam abad, melainkan karena kemampuannya menjaga ingatan masa lalu sembari terus beradaptasi dengan masa depan. 

Sebuah kota kecil yang hidup dari warisan para perantau, namun tetap menjadi rumah bagi mereka yang ingin pulang.***

Editor : Donny Tabelak
#Beijing #kota tua #jurnalis #china #jawa pos radar bali