Radarbadung.jawapos.com- Gejala menstruasi yang tidak teratur disebut juga polycystic ovary syndrome (PCOS).
Saat ini banyak terjadi dikalangan wanita dengan usia produktif.
Ternyata gejala PCOS tidak boleh dianggap sepela. Pasalnya, bila tidak ditangani secara medis memiliki resiko komplikasi. Mulai dari kemandulan hingga depresi.
Menurut dokter muda dengan spesialis kesehatan sistem reproduksi dr. I Made Prasetya Wardana, Sp.OG, PCOS umumnya gangguan hormonal pada wanita disaat usia subur yang ditandai dengan ketidakseimbangan hormon androgen yang berlebih.
Diikuti dengan sel telur yang tidak berkembang sempurna dan terbentuknya banyak kista-kista kecil di ovarium.
Kondisi inilah yang menyebabkan menstruasi tidak teratur dan sering kali mengakibatkan pada wanita usia subur sulit hamil.
Tanda dari gejala PCOS biasanya terjadi pada perempuan diusia produktif yang mengalami gangguan datang bulan.
Seperti, mereka dalam dua bulan tidak datang bulan atau bisa dalam jangka waktu tiga bulan tidak alami menstruasi.
"PCOS itu, tidak normal dalam menstruasi atau tidak teratur. Itu tanda pertama," ujar dokter muda yang bertugas praktek di RS Puri Bunda Tabanan saat ditemui belum lama ini Kamis (12/2).
Gejala hiper androgen ini biasanya terjadi pada kalangan pria, namun justru terjadi pada kalangan wanita.
Misal kulit berbulu banyak saat masa usia produktif wanita.
Gambaran polycystic ovarium berdasarkan hasil USG medis.
Gambaran polycystic ovarium berdasarkan hasil USG medis.
Didalam Ovarium ini banyak sel telur dengan partikel atau molekul kecil-kecil, ini yang membuat ovarium sulit matang sehingga tidak terjadi menstruasi.
Endingnya masalah PCOS ini akan mengalami gangguan kesuburan, kemandulan hingga berujung depresi pada wanita dimasa usia subur.
"Sehingga sekarang ini, mengapa banyak ditemukan pada wanita mengalami PCOS, karena kesulitan memiliki keturunan," jelasnya dokter muda berusia 32 tahun.
Sementara itu, penyebab dari PCOS pada wanita adalah obesitas (gemukkan).
"Sehingga sekarang ini, mengapa banyak ditemukan pada wanita mengalami PCOS, karena kesulitan memiliki keturunan," jelasnya dokter muda berusia 32 tahun.
Sementara itu, penyebab dari PCOS pada wanita adalah obesitas (gemukkan).
Pada wanita dengan kondisi obesitas biasanya ditemukan timbunan lemak sangat tinggi.
Timbunan lemak tinggi ini akan menggangu proses reproduksi horman pada perempuan.
Kemudian aktivitas fisik kurang, seperti kegiatan olahraga jarang dilakukan.
"PCOS pada perempuan sebenarnya tidak maslaah kecuali ingin memiliki keturunan, akan menimbulkan masalah karena tidak ada telur yang matang dibuahi oleh sperma sehingga sulit untuk memiliki keturunan," pungkasnya.***
Lalu bagaimana cara mengobati PCOS itu sendiri.
Dikatakan dr. Made Prasetya hingga saat ini belum ada obat khusus untuk PCOS.
Pengobatan umumnya lebih bertujuan mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.
Biasanya secara medis concern utama pada penderita PCOS yang telah menikah adalah kesulitan hamil.
Ada berbagai bentuk terapi dan tindakan yang biasa dilakukan dalam pengobatan medis.
Yakni melakukan terapi hormon untuk mengembalikan siklus menstruasi yang normal.
Pemberian obat-obatan yang menstimulasi ovulasi.
"Terakhir biasanya dilakukan tindakan medis berupa operasi ovarian drilling, lubang kecil pada ovarium yang dapat merubah kadar hormon," tuturnya.
Sementara dari sisi pencegahan yang dapat dilakukan adalah mengatur pola makan.
Mengurangi makanan tinggi gula dan lemak agar berat badan tetap ideal.
Selanjutnya rutin melakukan kegiatan olahraga 3 sampai 4 kali dalam seminggu untuk memperlancar metabolisme tubuh.
Tidur yang cukup, hindari begadang, hindari stress berlebih, karena stress membuat siklus menjadi tidak teratur.
"PCOS pada perempuan sebenarnya tidak maslaah kecuali ingin memiliki keturunan, akan menimbulkan masalah karena tidak ada telur yang matang dibuahi oleh sperma sehingga sulit untuk memiliki keturunan," pungkasnya.***