Dari Kota Fuyang, Warisan Sutra Tiongkok Terus Menjajaki Dunia
Radarbadung.jawapos.com- Kota Fuyang di Provinsi Anhui bukan hanya dikenal sebagai pusat pertanian dan peternakan utama di Tiongkok.
Di sini berdiri pula sebuah perusahaan produsen sutra yang kualitasnya telah diakui secara nasional.
Perusahaan tersebut bernama H&S’YATI Silk (Sutra Huashiyadi), yang berlokasi di Jalan Xin’an, masuk dalam kawasan Zona Pengembangan Ekonomi Fuyang.
Dari Bandara Fuyang, lokasi pabrik ini hanya dapat ditempuh dalam waktu sekitar lima menit perjalanan.
Pusat produksi ini dibangun di atas lahan seluas 280 hektare dan mempekerjakan lebih dari 1.000 orang tenaga kerja.
Rantai produksi yang dijalankan pun terintegrasi penuh: mulai dari penanaman pohon murbei, pembudidayaan ulat sutra, pemintalan benang, penenunan kain, pembuatan tekstil, hingga urusan pemasaran dan pengelolaan museum.
Salah satu produk andalan mereka adalah kain satin yang dikenal sangat halus dan lembut.
Berdiri sejak tahun 1997, perusahaan ini kini tercatat sebagai salah satu dari sepuluh pelaku usaha paling kompetitif di industri sutra nasional.
Sejak tahun lalu, Kementerian Perindustrian Tiongkok bahkan menetapkan merek ini sebagai salah satu merek konsumen terkemuka di seluruh negeri.
Perjalanan kami di perusahaan ini diawali dengan menyaksikan langsung proses pembuatan kain sutra.
Tahap pertama dimulai dari pemilahan kepompong ulat sutra. Dengan ketelitian tinggi, para pekerja mengelompokkan kepompong menjadi beberapa tingkatan mutu: super, kelas satu, kelas dua, hingga yang tidak layak pakai.
Kepompong yang dinyatakan tidak layak umumnya disebabkan oleh kondisi ulat yang membusuk di dalamnya.
“Seekor ulat sutra memerlukan waktu sekitar 72 jam untuk membentuk kepompong yang sempurna,” jelas Zhou Yan, Manajer Umum Huashiyadi Silk.
Setelah diseleksi, kepompong direbus dalam air panas untuk kemudian dipintal menjadi benang.
Untuk menghasilkan satu gulungan benang, dibutuhkan gabungan serat dari 8 hingga 9 butir kepompong.
Dalam sehari, pabrik ini mampu memproduksi hingga 1,2 ton benang sutra.
Selanjutnya, kami berkesempatan mengunjungi museum yang dikelola perusahaan.
Di tempat ini terpajang replika pakaian kebesaran raja dan ratu dari berbagai dinasti masa lampau.
Secara tradisional, raja mengenakan busana berwarna emas, sedangkan ratu mengenakan busana berwarna merah.
Perbedaan utama keduanya terlihat pada motifnya: pakaian raja bermotif naga bercakar lima, sedangkan pakaian ratu bermotif naga bercakar empat.
Museum ini juga menampilkan beragam produk turunan sutra yang terus dikembangkan, mulai dari syal, pakaian, selimut, hingga barang unik seperti halaman buku berbahan sutra.
“Kami senantiasa berupaya menjaga kualitas dan kelestarian produksi ini. Tiongkok memiliki sejarah ribuan tahun dalam industri sutra, dan hingga kini kami masih menjadi salah satu produsen utama di dunia,” ujar Zhou Yan.
Ia menambahkan bahwa produk yang paling diminati pasar adalah seprai dan selimut sutra, serta busana pernikahan.
Busana adat untuk pernikahan umumnya berwarna merah, yang dianggap sebagai lambang keberuntungan dalam budaya setempat.
Permintaan terhadap produk sutra ini terus mengalami peningkatan.
Saat ini, perusahaan memproduksi sekitar 150.000 meter kain sutra setiap bulannya, dengan kapasitas produksi maksimum mencapai dua juta meter per tahun.
Sebagian besar permintaan berasal dari pasar dalam negeri, sedangkan ekspor menyumbang sekitar 30 persen dari total produksi, dengan negara-negara di kawasan Asia sebagai tujuan utama.
Dengan skala produksi tersebut, perusahaan mampu mencatatkan omzet sekitar 400 juta dolar AS per tahun, atau setara dengan sekitar Rp 7 triliun.
“Banyak pelanggan memilih membeli kain dalam bentuk lembaran agar dapat diolah sesuai keinginan. Namun di antara produk jadi, seprai sutra menjadi yang paling populer,” tambah Zhou Yan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, perusahaan ini terus berinovasi dengan menghadirkan produk-produk yang mengikuti perkembangan zaman, seperti model pakaian, tas, dan aksesori lainnya.
Langkah ini diharapkan dapat membuat sutra tetap relevan dan digemari, terutama di kalangan generasi muda.***
Editor : Donny Tabelak