Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (12)

Eka Prasetya • Minggu, 31 Mei 2026 | 15:48 WIB
Suasana Konferensi bertajuk “2026 RCEP Local Governments and Friendship Cities Cooperation (Huangshan) Forum”. Ajang tersebut turut diikuti delegasi dari Indonesia.(Foto Eka Prasetya) 
Suasana Konferensi bertajuk “2026 RCEP Local Governments and Friendship Cities Cooperation (Huangshan) Forum”. Ajang tersebut turut diikuti delegasi dari Indonesia.(Foto Eka Prasetya) 

Provinsi Anhui Buka Peluang Kerjasama dengan Indonesia, Gandeng Jogjakarta

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok. Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Perjalanan saya di Provinsi Anhui tak hanya melulu di Kota Fuyang. Pada Rabu (27/5/2026) saya harus memboyong koper menuju Kota Huangshan.

Bila Fuyang berada di sisi utara Anhui, maka Huangshan berada di sisi selatan.

Perjalanan saya menuju Huangshan dimulai Stasiun Kereta Api Fuyang.

Tepatnya Fuyang West Railway Station. Didampingi sejumlah staf dari Kementerian Luar Negeri, saya bersama sejumlah jurnalis dari Asia Pasifik mendatangi stasiun kereta yang mirip bandara itu.

Kami sempat menunggu kedatangan kereta selama 30 menit.

Begitu kereta sampai, kami langsung bergegas masuk ke dalam gerbong. Maklum, kereta hanya waktu selama 6 menit untuk berhenti di stasiun Fuyang.

Hari itu kami menumpangi kereta cepat untuk menuju Kota Huangshan.

Jarak dari Fuyang menuju Huangshan sekitar 383 kilometer.

Dengan kereta cepat, kami menempuh jarak tersebut dengan waktu selama tiga jam saja.

Menumpangi kereta cepat menjadi pengalaman baru bagi saya. Tidak ada nomor bangku.

Penumpang boleh memilih kursi manapun yang tersedia, selama kursi itu kosong.

Ketika kereta melaju nyaris tak ada getaran. Kalau toh ada getaran, biasanya terjadi ketika kereta harus berbelok tipis.

Setelah tiga jam perjalanan, tepat pukul 19.13 WITA kami tiba di Huangshan North Railway Station.

Dari sana kami kemudian menuju penginapan yang ada di punggung perbukitan.

Saya melihat kawasan ini serupa dengan Bedugul. Bedanya, perbukitan di kawasan ini cukup banyak dan rapat.

Keesokan harinya, Kamis (28/5/2026) saya menghadiri sebuah konferensi bertajuk “2026 RCEP Local Governments and Friendship Cities Cooperation (Huangshan) Forum”.

Konferensi itu berlangsung di Huangshan International Conference and Exhibiton Centre.

Lokasinya sekitar 20 menit perjalanan via jalan tol dari Yunyi Tangquan Hotel – tempat saya dan sejumlah jurnalis Asia Pasifik lainnya menginap.

RCEP Local Governments and Friendship Cities Cooperation sendiri merupakan sebuah konferensi untuk membuka ruang diplomasi untuk memperkuat ekonomi, budaya, dan industri di tingkat regional. Salah satu output dari konferensi tersebut adalah kerjasama “sister city” antara provinsi di negara-negara peserta dengan Tiongkok.

Adapun peserta RCEP terdiri dari 10 negara di ASEAN. Yakni Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Sementara negara mitra mencakup Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru.

Sekjen ASEAN, Kao Kim Hourn menyatakan konferensi tersebut menjadi forum strategis bagi negara-negara ASEAN untuk menumbuhkan ekonomi di negaranya. Kim menyebut kondisi geopolitik di Timur Tengah telah memberikan tekanan ekonomi yang berat secara global.

Kondisi itu juga dialami negara-negara ASEAN.

Kim meyakini kerjasama antar negara di ASEAN dapat menjaga ketahanan ekonomi.

Selain itu kemitraan dengan Tiongkok diyakini dapat membawa pertumbuhan ekonomi.

Terlebih kondisi ekonomi di Tiongkok sangat dinamis.

“Kerjasama perdagangan bebas antara ASEAN dengan Tiongkok akan memberikan peluang baru di bidang ekonomi dan bisnis bagi negara-negara ASEAN. Pemerintah daerah di seluruh negara punya peran penting untuk membentuk iklim investasi yang ramaj, sehingga ekonomi bisa terus tumbuh di tengah kondisi global,” ungkap Kim dalam pidatonya.

Dalam konferensi itu pula saya bertemu dengan delegasi dari Indonesia.

Salah satu yang menangkap peluang emas itu adalah Provinsi Yogyakarta.

Mereka kini menjajaki kerjasama sister city dengan Provinsi Anhui.

Kerjasama itu diyakini akan membuka peluang bagi Yogyakarta untuk mendatangkan wisatawan dari Tiongkok.

Selain itu peluang kerjasama di bidang ekonomi juga terbuka lebih lebar.

Hal itu ditandai dengan penandatangan Letter of Intent antara Provinsi Anhui di Tiongkok dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Indonesia.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Yogyakarta, Ghofar Ismail menyatakan, Anhui dan Yogyakarta sudah sepakat akan melakukan friendly visit. Harapannya, kerjasama kedua provinsi semakin erat.

“Yogya dan Anhui sama-sama punya heritage. Kami juga ingin belajar terkait renewable energy dan smart agriculture, yang mana Anhui kuat sekali di bdiang tersebut,” ujarnya.

Menurut Ghofar, pihaknya membuka peluang bagi Anhui untuk berinvestasi di Yogyakarta.

Pemerintah provinsi bahkan sudah menyiapkan lahan di Kabupaten Kulonprogo, tak jauh dari Yogyakarta International Airport.

“Peluang kerjasama ini sangat terbuka. Kami harap investasi dari Anhui maupun Tiongkok bisa semakin banyak masuk,” demikian Ghofar.***

Editor : Donny Tabelak
#jurnalis #china #jawa pos radar bali #asean