Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (13)

Eka Prasetya • Senin, 1 Juni 2026 | 06:00 WIB
Jurnalis Jawa Pos Radar Bali bertemu dengan dua warga Indonesia saat berkunjung ke Yellow Mountain. Objek wisata ini merupakan salah satu destinasi favorit masyarakat Tiongkok. (Foto Eka Prasetya)
Jurnalis Jawa Pos Radar Bali bertemu dengan dua warga Indonesia saat berkunjung ke Yellow Mountain. Objek wisata ini merupakan salah satu destinasi favorit masyarakat Tiongkok. (Foto Eka Prasetya)

Yellow Mountain: Pesona Pegunungan Tiongkok yang Menginspirasi Kartun Kungfu Panda

Radarbadung.jawapos.com– Kesempatan mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing memberikan pengalaman berharga bagi jurnalis Jawa Pos Radar Bali untuk menyusuri keindahan negeri Tirai Bambu.

Salah satu destinasi yang tak boleh dilewatkan adalah Gunung Huangshan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Yellow Mountain.
 
Terletak di selatan Provinsi Anhui, kawasan pegunungan ini memiliki karakteristik iklim dan cuaca yang mirip dengan daerah Kintamani di Bali.

Perbedaannya, Kintamani dikenal dengan kaldera dan gunung berapi, sedangkan Yellow Mountain menawarkan hamparan gugusan bukit batu yang menjulang tinggi dengan pemandangan yang memukau.
 
Dengan luas lebih dari 150 kilometer persegi, tempat ini merupakan salah satu dari sepuluh objek wisata unggulan di Tiongkok.

Bahkan, kawasan ini telah diakui sebagai Warisan Alam dan Budaya Dunia oleh UNESCO, sekaligus ditetapkan sebagai Taman Geologi Dunia dan Cagar Biosfer Dunia.
 
Meski memiliki wilayah yang sangat luas, hanya sekitar 15 persen saja area yang dibuka untuk umum.

“Gunung ini memiliki nilai yang sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat Tiongkok. Jika ingin mengunjungi area di luar zona wisata, diperlukan izin khusus langsung dari Beijing,” jelas Louis, pemandu wisata yang mendampingi rombongan.
 
Saat berkunjung pada Jumat (29/5), antrean kendaraan pengunjung sudah terlihat mengular menuju area parkir.

Ribuan, bahkan puluhan ribu orang, berdatangan untuk menikmati keindahan alamnya.

Agar lebih efisien dan menghemat tenaga, rombongan memilih menggunakan gantola atau gondola untuk menjangkau titik-titik menarik.
 
Terkait biaya, tiket masuk ke kawasan ini terbilang terjangkau bagi standar lokal, yaitu seharga 190 yuan atau sekitar Rp500 ribu per orang.

Tarif gantola dikenakan 90 yuan atau sekitar Rp234 ribu.

Namun tersedia juga paket wisata lengkap senilai 400 yuan (sekitar Rp1 juta) yang sudah mencakup tiket masuk, gantola, transportasi dalam kawasan, dan jasa pemandu.

Bagi yang gemar tantangan, disediakan pula jalur pendakian sepanjang 18 kilometer yang dapat ditempuh dalam waktu satu hari penuh.
 
Popularitas tempat ini terlihat dari jumlah kunjungannya.

Pada hari biasa, dikunjungi sekitar 15.000 orang, berlipat ganda di akhir pekan, dan bisa mendekati angka 50.000 orang saat libur nasional.

“Jika sudah terlalu padat, pihak pengelola akan membatasi jumlah pengunjung demi alasan keamanan dan kenyamanan,” tambah Louis.

Hingga periode Januari hingga April 2026 saja, sudah tercatat 18 juta orang berkunjung, didominasi wisatawan lokal dan sebagian mancanegara.
 
Di antara sekian banyak titik menarik, ada tiga lokasi yang paling populer. Pertama adalah Guest Greeting Pine, pohon pinus legendaris yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun.

Pemerintah Tiongkok memberikan perhatian khusus bagi pohon ini, mulai dari penyangga batang, pengikat kabel penahan, hingga penempatan petugas khusus penjaga yang berjaga 24 jam.
 
“Di lingkungan yang ekstrem ini, pohon hanya tumbuh sekitar satu sentimeter per tahun. Bagi saya, menjaga pohon ini adalah suatu kehormatan, karena ia telah menjadi simbol daerah ini. Kami merawatnya layaknya menjaga anggota keluarga sendiri,” ungkap Hu Xiaochun, penjaga pohon tersebut.
 
Selanjutnya ada Lianhua Feng atau Puncak Teratai, titik tertinggi dengan ketinggian 1.864 meter di atas permukaan laut.

Ketiga adalah Tiandu Feng atau Puncak Ibukota Surgawi.

Meski tingginya hanya 1.810 mdpl, lokasi ini terkenal sebagai titik terjal dan paling menantang. 

“Konon, burung enggan terbang dan monyet pun enggan mendaki di sana karena saking curamnya. Di beberapa titik ekstrem, pendaki harus merangkak perlahan,” cerita Louis.
 
Melihat hamparan pegunungan yang indah dan unik ini, penulis pun teringat pada film animasi Kungfu Panda.

Bentuk perbukitan dan suasana alamnya sangat mirip dengan latar tempat pelatihan kungfu dalam film tersebut.
 
Di sela kunjungan, penulis juga berkesempatan bertemu dua pemuda asal Indonesia, Fadil dan Noura dari Samarinda, Kalimantan Timur.

Keduanya telah tinggal di Tiongkok sejak Oktober 2025 dan sedang mempersiapkan studi lanjut sambil mengikuti kursus bahasa Mandarin.

Meskipun berdomisili di Hefei, kunjungan ini merupakan kali pertama mereka datang ke Yellow Mountain.
 
“Kebetulan ada keperluan di Huangshan, jadi sekalian berkunjung. Tempatnya sungguh indah, pemandangannya sulit dicari padanannya di tempat lain,” ujar mereka.
 
Bagi masyarakat Tiongkok, Yellow Mountain memiliki makna yang sangat istimewa.

Sebuah pepatah kuno menyebutkan: “Setelah melihat keindahan Yellow Mountain, seseorang tidak perlu lagi melihat gunung-gunung lain”. 

Tempat ini memang meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang berkunjung.***

Editor : Donny Tabelak
#jurnalis #china #jawa pos radar bali