Belajar Tai Chi, Gerakan Yoga Ala Negeri Tirai Bambu
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Setelah seminggu beraktivitas di Provinsi Anhui, Tiongkok, saya bersama rombongan jurnalis Asia Pasifik kembali ke Beijing.
Sejak Minggu (31/5) tidak ada aktivitas berarti yang kami lakukan. Hanya menghabiskan waktu dengan beristirahat.
Tubuh yang tak muda lagi, membutuhkan waktu yang panjang untuk beristirahat. Agenda di Anhui cukup padat.
Ditambah lagi cuaca di Beijing menjelang musim panas, benar-benar panas menyengat. Bahkan suhu sempat menyentuh angka 36 derajat celcius.
Sebenarnya masih ada banyak cerita tentang Anhui yang belum saya bagikan. Tapi lain kali saja saya bagikan lagi.
Setelah beberapa hari menepi dari aktivitas, Selasa (2/6) kami kembali disibukkan dengan beberapa agenda.
Salah satu yang menarik adalah mengikuti kelas Tai Chi.
Kami berlatih melakukan gerakan tubuh yang lambat, mengalir seperti lingkaran, dan mengatur nafas.
Guru yang mendampingi juga meminta kami memusatkan pikiran untuk menyeimbangkan yin dan yang dalam tubuh.
Olahraga ini sama sekali tidak memberikan tekanan pada tubuh. Gerakan hanya berfokus pada keseimbangan tubuh, kelenturan, dan postur tubuh.
Konon olahraga ini sangat baik untuk kesehatan jantung, tulang, serta mengurangi stress dan gangguan cemas.
Saat mengikuti kelas ini, saya serasa mengikuti kelas yoga ala Tiongkok.
Bedanya, kelas yoga lebih banyak dilakukan dengan menahan posisi tertentu selama beberapa waktu.
Gerakan yoga juga dilakukan dalam posisi lebih variatif, entah itu berdiri, duduk, berbaring, atau tengkurap.
Sementara gerakan dalam Tai chi lebih banyak dilakukan dalam posisi berdiri. Gerakannya pun dinamis.
Terus melakukan gerakan melingkar yang menyambung tanpa henti. Tangan, pinggang, dan kaki digerakkan secara perlahan.
Saat pertama kali mengikuti gerakan Tai Chi tentu bukan hal yang mudah. Saya kira gerakannya akan lebih ritmis, seperti gerakan senam.
Namun gerakannya ternyata jauh lebih pelan dan perlahan. Sebisa mungkin dilakukan dalam kondisi tubuh rileks.
Selama tiga jam mengikuti kelas, cukup melelahkan juga.
Rasa lelah itu bukan dipicu oleh melakukan gerakan Tai Chi. Tapi karena harus berdiri dalam waktu yang cukup lama.
Mengikuti kelas ini cukup menyenangkan. Jurnalis asal Filipina, Janelle Pusta Lorzano mengaku dirinya mendapat pengalaman baru.
“Saya sudah pernah ikut kelas yoga, dan kelas pilates. Ini kelas baru yang menyenangkan. Saya benar-benar mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan,” katanya.
Beda lagi dengan Siti Zanariah Binti Nor Zin, jurnalis Kantor Berita Bernama Malaysia.
Zana mengaku dirinya sering melihat gerakan Tai Chi di negaranya.
Hanya saja aktivitas tersebut dilakukan oleh para lansia di komunitas Tionghoa.
Zana menyebut gerakan itu kerap dilakukan pada pagi maupun sore hari. Ketika para lansia Tionghoa berkumpul di taman untuk berolahraga.
“Saya awalnya mengira aktivitas Tai Chi itu hanya dilakukan untuk lansia saja. Ternyata bisa untuk semua usia,” ucap Zana.***
Editor : Donny Tabelak