Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (18) 

Eka Prasetya • Sabtu, 6 Juni 2026 | 21:22 WIB
Suasana di Tembok Besar Tiongkok di Joyungguan. Tercatat ada delapan titik yang dibuka untuk kunjungan wisatawan.( Foto Eka Prasetya) 
 
Suasana di Tembok Besar Tiongkok di Joyungguan. Tercatat ada delapan titik yang dibuka untuk kunjungan wisatawan.( Foto Eka Prasetya)   

Berkunjung ke Tembok Besar, Situs Keajaiban Dunia UNESCO

Radarbadung.jawapos.com- Melawat ke Beijing rasanya belum lengkap jika belum menginjakkan kaki di Tembok Besar Tiongkok.

Situs yang tercatat sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia ini menjadi tujuan wajib bagi hampir seluruh wisatawan mancanegara yang berkunjung ke ibu kota Tiongkok.
 
Kesempatan mengunjungi situs warisan dunia versi UNESCO ini didapatkan saat saya mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing.

Pada Rabu, 3 Juni 2026, rombongan jurnalis yang terdiri dari rekan-rekan dari kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Eurasia, hingga Afrika diajak menjelajahi salah satu bagian tembok tersebut, yaitu kawasan Juyongguan.
 
Secara keseluruhan, pemerintah Tiongkok membuka delapan titik akses bagi wisatawan untuk menjelajahi Tembok Besar.

Selain Juyongguan, titik lain yang dapat dikunjungi meliputi Badaling, Mutianyu, Simatai, Jinshanling, Huanghuacheng, Gubeikou, dan Jiankou.
 
Lokasi Strategis dan Harga Terjangkau
 
Juyongguan menjadi salah satu titik yang paling populer dan mudah dijangkau, karena jaraknya hanya sekitar 60 kilometer dari pusat kota Beijing.

Dari segi biaya, lokasi ini juga cukup ramah di kantong. 

Tarif tiket masuknya ditetapkan sebesar 35 Yuan (sekitar Rp93 ribu) pada hari biasa, dan 40 Yuan (sekitar Rp106 ribu) saat musim ramai atau hari libur nasional.

Khusus pengunjung lanjut usia berusia di atas 60 tahun, tiket masuk diberikan secara cuma-cuma.
 
Secara sejarah, Juyongguan merupakan salah satu dari tiga gerbang benteng utama Tembok Besar.

Dibangun melingkar mengikuti kontur celah pegunungan, kawasan ini dahulu berfungsi sebagai benteng pertahanan kokoh untuk melindungi wilayah dari serangan musuh yang datang dari arah utara.

Berbagai bangunan pendukung militer masih berdiri tegak hingga kini, mulai dari gerbang utama di sisi utara dan selatan, menara pengawas, hingga pintu air.
 
“Lokasi ini adalah salah satu yang paling terkenal dan paling mudah diakses di Beijing,” jelas Alan Bhu, pemandu perjalanan kami.
 
Sejarah Panjang dan Keindahan Alam
 
Tembok Besar secara keseluruhan memiliki perjalanan sejarah yang panjang, telah berdiri lebih dari 2.000 tahun.

Khusus di kawasan Juyongguan, bentangan temboknya mencapai panjang 4.142 meter, dikelilingi hamparan pegunungan, aliran sungai, serta pepohonan yang rimbun, menciptakan pemandangan alam yang sangat indah.
 
Salah satu daya tarik utama di sini adalah Yuntai atau Teras Awan, yaitu pondasi bekas menara penyeberangan jalan yang dibangun pada masa Dinasti Yuan (1271–1368 Masehi).

Sisa peninggalan masa lampau ini masih memamerkan keindahan seni ukir yang tetap terawat hingga sekarang.

Menurut penjelasan Alan, kawasan ini mulai menjalani proses restorasi sejak tahun 1992 dan baru resmi dibuka untuk umum pada Maret 1998.
 
Aturan Ketat Demi Keamanan
 
Sebelum masuk ke kawasan tembok, setiap pengunjung akan melewati pemeriksaan ketat menggunakan mesin sinar-X dan pendeteksi logam.

Barang berbahaya, terutama korek api dan benda yang dapat memicu percikan api, tidak diperbolehkan dibawa masuk.

Larangan ini diberlakukan untuk mencegah risiko kebakaran hutan, mengingat kawasan ini mulai memasuki musim panas yang cenderung kering.
 
Tidak hanya itu, aktivitas merokok juga dilarang keras di seluruh area.

Pelanggaran akan dikenakan sanksi tegas berupa denda sebesar 200 Yuan atau sekitar Rp500 ribu.

Bahkan saya sempat melihat langsung petugas keamanan memberikan teguran tertulis kepada wisatawan lokal yang nekat melanggar aturan tersebut.
 
Tantangan Menapaki Anak Tangga
 
Untuk menikmati pemandangan dari ketinggian, pengunjung harus menapaki sekitar 2.000 anak tangga yang terjal untuk mencapai puncak deretan menara.

Dari lima menara yang ada di kawasan ini, saya hanya berhasil mencapai menara kedua sebelum akhirnya memutuskan berhenti—nafas terasa berat dan saya takut justru merepotkan petugas hingga harus memanggil tim penyelamat.
 
Namun, hal itu tidak berlaku bagi Moiz Farouq, rekan jurnalis asal Pakistan. Ia berhasil melangkahkan kaki hingga menara paling atas.

“Seharusnya tidak berhenti tadi, setelah melewati menara kedua jalurnya tidak terlalu terjal lagi,” katanya sambil tertawa bangga.
 
Bagi saya, sampai di menara kedua pun sudah terasa cukup memuaskan.

Semoga kelak masih diberi kesempatan kembali untuk melanjutkan perjalanan hingga ke puncak paling atas.
 
Sementara itu, bagi Easmin Akter, jurnalis asal Bangladesh, kunjungan ini terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

“Sejak mendapat kesempatan ikut program ini, saya selalu berharap bisa datang ke sini. Meskipun belum sampai ke puncak, cukup menginjakkan kaki di Tembok Besar saja sudah membuat harapan itu terwujud,” ungkapnya dengan antusias.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #tembok china #wisatawan #jurnalis #jawa pos radar bali