Menyusuri Forbidden City, Menembus Jejak Lima Abad Kekuasaan Kekaisaran Tiongkok di Jantung Beijing
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Beijing sebagai salah satu pusat peradaban dunia, selalu memiliki cerita sendiri.
Jejak peninggalan sejarah juga bertebaran di sejumlah lokasi. Bahkan di pusat kota sekalipun.
Salah satu jejak sejarah itu dapat dilihat di Forbidden City atau Palace Musuem.
Lokasi ini adalah salah satu objek wisata yang menjadi rujukan bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Beijing, Tiongkok.
Kami, para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) mendapat kesempatan mengunjungi lokasi tersebut pada Selasa (9/6).
Dari Renmin University of China (RUC) tempat kami tinggal selama di Beijing, jaraknya hanya sekitar 20 kilometer saja.
Namun karena kami membelah jalanan pada jam sibuk, ditambah kepadatan arus kendaraan di sekitar Forbidden City, bus yang kami tumpangi baru bisa sampai dalam waktu 45 menit.
Forbidden City sendiri dikenal sebagai istana kuno.
Lokasi ini menjadi simbol puncak kekuasaan kekaisaran Tiongkok selama hampir lima abad.
Didirikan pada masa Dinasti Ming atas perintah Kaisar Yongle, istana tersebut dibangun sejak tahun 1406 hingga 1420.
Selanjutnya selama 492 tahun berikutnya, istana tersebut menjadi tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahan bagi 24 kaisar.
Dari puluhan kaisar itu, sebanyak 14 orang diantaranya berasal dari Dinasti Ming dan 10 orang diantaranya dari Dinasti Qing.
Era kekaisaran Tiongkok sendiri berakhir pada tahun 1912.
Hingga pada akhirnya istana dibuka untuk masyarakat umum pada tahun 1928.
Sejak saat itu masyarakat umum yang tadinya tidak bisa memasuki istana, bisa melihat secara langsung istana yang disakralkan selama berabad-abad.
Kunjungan kami ke Forbidden City hari itu didampingi oleh Lu Yuang Man, seorang pemandu profesional.
Wanita yang akrab disapa Ice itu mendampingi kami, para jurnalis dari Asia Pasifik dan Eurasia untuk mengelilingi istana tersebut.
Perjalanan kami di Forbidden City dimulai dari gerbang di sisi selatan, tepatnya Meridian Gate.
Sebelum memasuki istana, kami wajib melalui pemeriksaan x-ray.
Petugas menyisir berbagai barang terlarang, seperti drone, tongkat selfie dengan Panjang lebih dari 1,3 meter, dan korek.
Benda terakhir sengaja dilarang, mengingat istana sebagian besar terbuat dari kayu.
Bayangkan saja bila ada insiden yang terkait dengan api, peninggalan sejarah selama lebih dari 6 abad itu bisa saja tersisa puing.
Setelah melewati pemeriksaan x-ray, kami harus menuju loket berikutnya. Yakni loket tiket.
Di sini kami tidak perlu membawa tiket fisik. Cukup membawa paspor atau kartu identitas penduduk Tiongkok.
Kenapa begitu? Karena tiket sudah terhubung langsung dengan paspor atau kartu identitas.
Saat sampai di loket tiket, cukup scan kartu identitas atau kartu paspor.
Tunggu sekitar 5 detik, loket masuk akan terbuka dengan sendirinya.
Untuk berkunjung ke lokasi ini, pengunjung hanya perlu merogoh biaya 40 yuan atau sekitar Rp 100 ribu untuk low season.
Sedangkan pada peak season harganya naik menjadi 60 yuan atau sekitar Rp 150 ribu.
“Tapi kita harus booking tiket seminggu sebelumnya. Karena yang berkunjung ke tempat ini sangat ramai. Kalau sedang ramai, sehari itu bisa ada 80 ribu pengunjung,” ungkap Ice.
Benar saja, saat kami melawat hari itu, pengunjung sangat ramai. Kami harus berdesakan di beberapa titik.
Utamanya saat kami hendak melihat relik-relik yang dipajang di sejumlah bagian istana.
Istana itu cukup luas. Mencapai 72 hektare atau setara 101 kali lapangan sepakbola.
Untuk mengunjungi Forbidden Palace dari gerbang selatan atau Meridian Gate menuju gerbang utara atau Gate of Devine Prowess saja, kami memerlukan waktu setidaknya 2,5 jam!
Salah satu bagian yang menarik di area istana tentu saja Meridian Gate.
Gerbang di sisi selatan ini terdiri atas lima buah pintu. Masing-masing pintu ternyata punya fungsi yang berbeda.
Ice menuturkan, gerbang di tengah hanya boleh digunakan oleh kaisar. Gerbang di sisi timur hanya digunakan oleh pejabat tinggi, sementara gerbang di sisi barat digunakan oleh keluarga kaisar.
Sedangkan dua gerbang lain digunakan oleh pekerja kekaisaran.
“Permaisuri tidak boleh melewati gerbang selatan. Karena hanya kaisar yang boleh lewat gerbang selatan. Sejak bertahta, permaisuri hampir seluruh hidupnya berada di area istana,” ungkap Ice.
Area istana juga didominasi oleh dua warna. Yakni warna merah di bagian tembok maupun tiang.
Sementara atap menggunakan warna kuning.
Kedua warna itu merupakan warna yang hanya boleh digunakan orang-orang kekaisaran, utamanya kaisar dan permaisuri.
Namun sejak kekaisaran runtuh, warna tersebut tak lagi sakral.
“Masyarakat umum bisa menggunakan warna-warna tersebut,” ucap Ice yang hari itu mengenakan baju kaos polo berwarna kuning.
Menariknya bangunan utama yang megah ini dibangun menggunakan struktur kayu tradisional Tiongkok yang saling mengunci.
Tidak ada paku yang digunakan, sehingga membuat bangunan tahan terhadap gempa bumi selama berabad-abad.
Selain itu ada juga mitos tentang jumlah ruangan yang ada di area istana. Konon jumlah ruangan mencapai 9.999,5 kamar.
“Kenapa ada angka setengah? Karena konon angka 10 ribu hanya milik istana Dewa di langit,” ungkap Ice.
Dengan berbagai keunikan itu, UNESCO akhirnya menjadikan Forbidden City atau palace museum sebagai warisan budaya dunia.
Bangunan itu dinilai sebagai struktur kayu kuno terbesar yang paling terawat di dunia.
Bahkan hingga kini, perawatan masih dilakukan.
Ketika kami melawat ke istana tersebut, bagian Palace of Earthly Tranquility ditutup karena dalam masa perawatan.
Selain itu tangga-tangga yang dilintasi wisatawan juga diberikan pelapis sehingga batu asli tidak rusak.
Dari kunjungan itu saya sadar. Di balik tembok istana setinggi 10 meter lebih, sejarah bukan hanya dipamerkan.
Tiongkok merawat sejarah itu tetap ada. Sehingga bisa dipelajari dan diwariskan pada generasi berikutnya.***
Editor : Donny Tabelak