Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (27) 

Eka Prasetya • Senin, 15 Juni 2026 | 07:56 WIB
Perajin silver asal Tabanan, Bali, Dewi Tanu Wijaya menggelar pameran dalam ajang China-South Asia Expo di Provinsi Yunnan, Tiongkok( Foto Eka Prasetya) 
Perajin silver asal Tabanan, Bali, Dewi Tanu Wijaya menggelar pameran dalam ajang China-South Asia Expo di Provinsi Yunnan, Tiongkok( Foto Eka Prasetya) 

Perajin Perak dari Tabanan Bali Mencari Peluang Pasar di Negeri Tirai Bambu

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Perjalanan saya di Tiongkok tak hanya berpusat di Kota Beijing.

Setelah melawat ke Provinsi Anhui beberapa pekan lalu, pada Rabu (10/6) saya mendapat kesempatan berkunjung ke Provinsi Yunnan.

Provinsi ini terletak di ujung selatan Tiongkok. 

Untuk menuju provinsi ini, saya dan para jurnalis Asia Pasifik dalam program CIPCC harus menempuh perjalanan menggunakan pesawat.

Maskapai China Eastern yang kami tumpangi hari itu lepas landas dari Bandara Beijing Daxing tepat pukul 12.30 WITA.

Penerbangan menuju Bandara Kunmin Changsui di Provinsi Yunnan nyaris memakan waktu selama 3 jam.

Tak ada kendala berarti saat penerbangan. Semua berjalan lancar. Hanya satu yang kurang, yakni saya kebagian kursi di deretan tengah.

Maklum saya paling benci deretan tengah, karena cenderung memilih deretan lorong. Tapi apa boleh buat.

Di Kota Kunming, Provinsi Yunnan saya menghadiri dua agenda konferensi. Masing-masing China-South Asia Expo dan The 7th China-South Asia Cooperation Forum.

Tiongkok rupanya memang senang menggelar agenda yang terkait dengan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE).

Tiap bulan selalu ada agenda MICE skala internasional yang melibatkan berbagai negara. 

Adapun kedua agenda yang saya hadiri merupakan agenda dagang yang sangat besar.

China-South Asia Expo awalnya didedikasikan untuk kerjasama antara Tiongkok dengan negara-negara di Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, Bhutan, Afghanistan, dan Maldives.

Maklum, Tiongkok punya jejak panjang dengan negara Asia Selatan lewat sejarah jalur sutera mereka.

Seiring berjalannya waktu, Expo dagang itu menggurita. Bahkan merangkul negara-negara ASEAN – termasuk Indonesia, Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, serta Amerika Latin.

Sejak diselenggarakan 9 tahun belakangan, Expo tersebut telah membukukan transaksi lebih dari 100 miliar dolar Amerika.

Selain itu ada 2 ribu perjanjian yang telah disepakati.

Khusus kerjasama dengan negara-negara ASEAN, produk seperti kopi dan buah tropis menjadi produk yang paling favorit.

Biasanya produk tersebut masuk melalui jalur darat dari Myanmar.

Selanjutnya produk diseleksi di Provinsi Yunnan. Dari Yunnan, produk dikirim ke seantero Tiongkok melalui jalur udara dan darat.

Namun, di balik megahnya gedung pameran dan angka-angka investasi yang sering diumumkan, ada cerita lain yang lebih menarik.

Cerita tentang orang-orang yang datang membawa mimpi untuk menemukan pasar baru. Salah satunya datang dari Bali.

Di antara ratusan peserta pameran dari berbagai negara, saya bertemu Dewi Tanu Wijaya.

Perempuan asal Tabanan itu tampak melayani pengunjung yang berhenti di stan kecil miliknya.

Di atas meja pameran, berjajar anting, gelang, cincin, hingga berbagai kerajinan berbahan perak yang dibuat oleh para perajin Bali.

Dewi bukan pemain baru. Tahun ini merupakan kali keempat dirinya mengikuti China-South Asia Expo.

Menariknya, ia menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam pameran dagang terbesar di Yunnan tersebut.

Kepada saya, Dewi bercerita perkenalan dirinya dengan pasar Tiongkok dimulai sebelum pandemi covid-19.

Saat itu ia digandeng Kementerian Koperasi untuk mengikuti pameran di Jepang.

Dari sana ia mendapat informasi pameran dagang di Tiongkok. Rasa penasaran membawanya datang untuk pertama kali. 

“Akhirnya tertarik pameran ke Tiongkok. Alasannya sih karena market di Tiongkok itu besar sekali. Mereka punya penduduk terbesar di dunia. Kalau bisa dikelola dengan baik, kenapa tidak,” kata Dewi.

Selama lebih dari dua dekade berkecimpung di industri kerajinan, ia memahami bahwa produk yang baik tidak akan berkembang jika hanya berputar di pasar yang sama.

Karena itu, sejak mendirikan merek Saka Karya Bali pada 2015, ia terus mencari jalan untuk memperluas pasar.

Di hadapan pasar Tiongkok yang dihuni lebih dari satu miliar penduduk, Dewi melihat peluang yang sulit diabaikan.

Usaha menghadiri pameran demi pameran, perlahan membuahkan hasil.

Kini, selain Indonesia, produk-produknya juga diminati konsumen di Australia dan Tiongkok.

Namun, membangun pasar di negeri sebesar Tiongkok bukan pekerjaan sederhana.

Setiap tahun, Dewi harus bolak-balik tiga hingga empat kali mengikuti berbagai pameran dagang. Sebagian besar biaya ditanggung sendiri.

Untuk satu pameran saja, seperti China-South Asia Expo, ia harus mengeluarkan sedikitnya Rp 20 juta hanya untuk menyewa stan.

Angka itu belum termasuk tiket perjalanan, penginapan, pengiriman produk, hingga biaya operasional lainnya.

Bagi pelaku usaha mikro dan menengah, jumlah tersebut tentu tidak kecil.

“Memang harapannya sih bisa dibantu pemerintah. Karena kalau dihitung biayanya besar sekali untuk UMKM seperti saya. Tapi pameran ini kan bukan soal untung rugi saja. Lebih pada pengenalan produk dan branding,” ujarnya.

Di sinilah Dewi melihat pameran sebagai investasi jangka panjang. Ia tidak datang semata-mata untuk menjual produk.

Yang lebih penting adalah membangun kepercayaan, memperkenalkan identitas merek, dan menciptakan hubungan dengan calon pembeli.

Strategi itu perlahan menunjukkan hasil. Menurut Dewi, minat masyarakat Tiongkok terhadap kerajinan perak Bali terus meningkat dari tahun ke tahun.

Namun, pasar Tiongkok memiliki karakter yang berbeda dibandingkan pasar lain.

Konsumen di sana tidak hanya membeli produk. Mereka membeli cerita.

“Mereka lebih suka yang ada cerita dan latar belakangnya. Bukan cuma sekadar handmade. Selain itu mereka cukup responsif dengan harga, jadi memang agak tricky,” tuturnya.

Karena itu, setiap karya yang dipajang tidak hanya membawa bentuk dan fungsi, tetapi juga kisah tentang Bali, tentang para perajin, dan tentang tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Produk seperti anting, gelang, dan cincin menjadi favorit pembeli. Meski demikian, tantangan lain juga mengintai.

Di pasar yang sangat besar, risiko penjiplakan produk selalu terbuka.

Namun Dewi memilih tidak terlalu larut dalam kekhawatiran itu.

Ia percaya karya yang lahir dari kreativitas dan identitas budaya akan selalu memiliki tempat tersendiri.

Di tengah gegap gempita China-South Asia Expo yang telah mencatat transaksi lebih dari 100 miliar dollar AS dalam sembilan tahun penyelenggaraannya, kisah Dewi mungkin hanya satu cerita kecil.

Namun dari stan sederhana miliknya di Kunming, terlihat bagaimana sebuah produk kerajinan dari Bali berusaha menemukan ruang di tengah salah satu pasar terbesar dunia.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #perajin perak #tabanan #jurnalis #china