Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (30)

Eka Prasetya • Kamis, 18 Juni 2026 | 16:11 WIB
Zhao Jiaqing menunjukkan terompet yang terbuat dari tanduk kerbau di Wa Ethnic Village. Terompet itu dulunya digunakan untuk mengumpulkan prajurit perang.(Foto Eka Prasetya) 
Zhao Jiaqing menunjukkan terompet yang terbuat dari tanduk kerbau di Wa Ethnic Village. Terompet itu dulunya digunakan untuk mengumpulkan prajurit perang.(Foto Eka Prasetya) 

Kisah Simola, Desa Etnis Minoritas yang Bangkit Berkat Pariwisata

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Suara tonggeret memecah kesunyian hutan pinus yang membentang di lereng-lereng perbukitan Tengchong, Provinsi Yunnan, Tiongkok. “Ini suara orkestra berkualitas tinggi,” celetuk Saurabh Sures Kumar, jurnalis asal India yang duduk di samping saya.

Siang itu, mobil shuttle yang kami tumpangi melaju perlahan menuju Simola Wa Ethnic Village, sebuah desa kecil di pelosok Tiongkok.

Desa tersebut kini menjadi simbol keberhasilan Tiongkok dalam mengentaskan kemiskinan melalui pariwisata.

Beberapa menit melaju dengan shuttle car bertenaga listrik, rumah-rumah tradisional mulai terlihat di balik pepohonan, saya memahami mengapa Simola begitu istimewa.

Desa yang berada di Zhongzhai, Kecamatan Qingshui, sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Tengchong itu bukan sekadar destinasi wisata.

Simola adalah kisah tentang sebuah komunitas kecil yang berhasil mengubah nasibnya tanpa kehilangan identitas budaya yang diwariskan selama ratusan tahun.

Dalam bahasa Wa, Simola berarti “tempat yang penuh kebahagiaan”. Nama itu terdengar puitis.

Namun bagi warga setempat, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja.

Dahulu, Simola dikenal sebagai salah satu kantong kemiskinan di Yunnan.

Sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada pertanian tradisional yang sangat bergantung pada cuaca. Ketika musim tidak bersahabat, hasil panen menurun dan pendapatan warga ikut merosot.

Bertahun-tahun mereka hidup dalam ketidakpastian.

Di desa yang hanya dihuni sekitar 73 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa itu, kemiskinan pernah menjadi kenyataan sehari-hari.

Perubahan mulai terjadi ketika pemerintah menawarkan program pengentasan kemiskinan.

Menariknya, pilihan arah pembangunan tidak ditentukan dari atas.

Warga diberi ruang untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Warga dan para tetua duduk bersama. Pilihan itu kemudian jatuh pada pariwisata.

Keinginan kemudian disampaikan pada pemerintah.

Mereka sengaja memilih pariwisata sebagai jalan pengentasan kemiskinan. Alasannya, Simola memiliki modal yang tidak dimiliki banyak desa lain.

Yakni budaya etnis Wa yang masih terjaga kuat.

Suku Wa merupakan salah satu kelompok etnis minoritas di Tiongkok yang memiliki sejarah panjang lebih dari lima abad.

Hingga kini, tradisi, arsitektur, hingga simbol-simbol budaya mereka masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Sedikitnya ada 380 ribu orang etnis Wa yang tersebar di seantero Tiongkok. Mayoritas tinggal di Provinsi Yunnan.

Ketika memasuki pusat desa Simola, identitas itu langsung terasa. Kepala-kepala kerbau menghiasi berbagai sudut kampung.

Ada yang dipajang di bangunan, gerbang, hingga area pertemuan warga.

Bagi masyarakat Wa, kerbau bukan sekadar hewan ternak. Kerbau adalah simbol kehidupan.

Ia melambangkan kerja keras, kerendahan hati, kekuatan, kebaikan, dan kemakmuran.

“Kami adalah masyarakat agraris. Dalam tradisi tertentu, kerbau dikorbankan dan kepalanya dipajang sebagai bagian dari budaya kami,” ujar Zhao Jiaqing, anggota etnis Wa yang kini menjabat Wakil Wali Kota Qingshui.

Di tengah desa berdiri sebuah bangunan utama yang menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat.

Di sana terdapat alat musik tradisional yang disebut genderang. Bentuknya menyerupai lesung padi raksasa yang menghasilkan suara khas ketika dipukul menggunakan batang kayu.

Dahulu, alat itu digunakan untuk memanggil warga berkumpul, menyampaikan informasi penting, bahkan menjadi penanda ketika terjadi peperangan.

“Kalau mau berperang juga ada suara terompet dari tanduk kerbau. Tapi sekarang semuanya digunakan untuk hiburan dan pelestarian budaya,” kata Zhao sambil tersenyum.

Transformasi ekonomi Simola dimulai pada 2012. Warga dan pemerintah berbagi peran.

Masyarakat melakukan pembenahan dari dalam desa, mulai dari menjaga lingkungan hingga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Sementara pemerintah fokus membangun infrastruktur, memperbaiki aksesibilitas, serta mempromosikan desa kepada wisatawan.

Perjalanan itu tidak instan. Perlu waktu sekitar lima tahun hingga roda pariwisata benar-benar berputar dan menjadi sumber penghasilan baru bagi warga.

Momentum besar datang ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Simola pada 19 Januari 2020. Sejak saat itu, nama Simola semakin dikenal luas.

Jumlah wisatawan melonjak tajam dari tahun ke tahun.

“Tahun lalu saja kami menerima lebih dari 650 ribu pengunjung. Tahun ini kami prediksi jumlahnya terus meningkat,” ujar Zhao.

Ledakan kunjungan wisatawan membawa perubahan besar bagi kehidupan warga.

Rumah-rumah mulai bertransformasi menjadi penginapan. Warga membuka warung, toko cendera mata, hingga usaha jasa wisata. 

Pendapatan masyarakat pun meningkat secara signifikan.

Luo Aiyan, salah seorang warga desa, merasakan perubahan itu secara langsung.

“Dulu semua bergantung pada pertanian. Hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sekarang pariwisata memberikan dampak ekonomi yang sangat baik bagi kami,” katanya.

Meski demikian, Simola tidak membiarkan dirinya sepenuhnya bergantung pada pariwisata. Sekitar seperempat penduduk masih bekerja di sektor pertanian.

Kontribusinya memang hanya sekitar 10 persen terhadap ekonomi desa, tetapi keberadaannya tetap dianggap penting.

Pertanian tidak hanya menjadi sumber pangan bagi warga, melainkan juga memasok kebutuhan berbagai usaha wisata yang berkembang di desa.

Karena itu, modernisasi dilakukan tanpa meninggalkan akar kehidupan mereka.

Kini petani di Simola memanfaatkan traktor untuk membajak sawah, drone untuk menyebarkan pupuk, dan mesin modern untuk memanen hasil pertanian.

Teknologi membuat pekerjaan lebih efisien tanpa menghilangkan peran sektor pertanian sebagai fondasi kehidupan desa.

Di Simola, pembangunan tidak diwujudkan dengan mengganti tradisi menjadi sesuatu yang serba baru.

Sebaliknya, kemajuan justru tumbuh dari kemampuan masyarakat menjaga identitas budaya mereka sambil membuka diri terhadap perubahan.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #tirai bambu #jurnalis #china #jawa pos radar bali