Ketika Lampu Mengalahkan Hama: Pelajaran dari Kebun Leci Modern di Negeri Tirai Bambu
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Di sebuah kebun leci di Kabupaten Lingshan, Provinsi Guangxi, Tiongkok, saya menemukan cara yang tak biasa untuk melawan hama.
Bukan dengan pestisida. Bukan pula dengan perangkap mahal. Melainkan dengan cahaya.
Saat matahari tenggelam dan malam mulai menyelimuti perkebunan, puluhan lampu menyala akan menyala di antara deretan pohon leci.
Bagi para petani di Lingshan, lampu tersebut memiliki fungsi yang sangat penting.
Yakni untuk mengacaukan kehidupan serangga perusak tanaman.
Kunjungan ke perkebun leci itu menjadi salah satu pengalaman menarik dalam perjalanan bersama para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari berbagai negara Asia Pasifik, Sabtu (13/6).
Lingshan dikenal sebagai salah satu sentra produksi buah terbesar di Kota Qinzhou, terutama untuk komoditas leci.
Hamparan kebun membentang sejauh mata memandang.
Di wilayah ini, luas perkebunan leci mencapai lebih dari 420 ribu meter persegi.
Buah berkulit merah itu bukan sekadar komoditas pertanian.
Di Guangxi, leci menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia hadir sebagai pencuci mulut di meja makan keluarga hingga menjadi salah satu produk ekspor unggulan Tiongkok.
Di kebun yang juga difungsikan sebagai pusat edukasi pertanian modern itu, kami diajak mencicipi berbagai varietas leci.
Ada leci berukuran besar hampir menyerupai salak.
Ada pula varietas tanpa biji yang menjadi favorit banyak konsumen karena lebih praktis disantap.
Namun bukan ukuran buah yang paling menarik perhatian saya.
Yang jauh lebih menarik adalah cara mereka menjaga kualitas buah tanpa bergantung pada insektisida.
Menurut Yang Jie, Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Urusan Pedesaan Kabupaten Lingshan, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar serangga yang menyerang tanaman leci merupakan hewan nokturnal yang aktif mencari makan pada malam hari.
Alih-alih membasmi serangga dengan bahan kimia, para peneliti memilih memanfaatkan perilaku alami mereka.
“Kalau siang hari, serangga itu tidak muncul. Tapi kalau malam, aktif sekali. Sehingga kami pasang lampu yang terang supaya serangga itu bingung,” ujar Yang Jie.
Cara kerjanya sederhana tetapi efektif. Paparan cahaya yang terus-menerus membuat pola aktivitas serangga terganggu.
Mereka kesulitan mencari makanan, proses reproduksi menurun, dan jumlah telur yang dihasilkan berkurang drastis.
Praktis populasi hama menurun tanpa perlu penyemprotan bahan kimia secara berlebihan.
“Kami tidak perlu menyemprotkan bahan kimia untuk membunuh hama. Sehingga kualitas organik tetap bisa dipertahankan,” katanya.
Lampu-lampu tersebut biasanya dinyalakan sejak matahari terbenam sekitar pukul 19.00 hingga menjelang fajar sekitar pukul 05.30.
Sistem itu diterapkan sekitar satu bulan sebelum masa panen dimulai.
Namun teknologi di Lingshan tidak berhenti di kebun.
Perjalanan kami berlanjut ke laboratorium dan fasilitas penyimpanan yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok buah leci.
Di sana, para peneliti menunjukkan bagaimana buah yang dikenal mudah rusak itu bisa tetap segar hingga satu bulan setelah dipanen.
Kuncinya berada pada teknologi cold storage atau penyimpanan dingin.
“Kami perlu melakukan penelitian dan pengembangan selama enam tahun untuk menemukan formulasi dan teknologi penyimpanan yang tepat,” ujar Prof. Cao Xuechuan, pakar teknik dari Kota Qinzhou.
Menurut Cao, penyimpanan dalam ruang dengan kadar oksigen tertentu mampu memperlambat proses pembusukan tanpa merusak kualitas buah.
Hasilnya cukup mengesankan. Leci yang telah disimpan selama 30 hari tetap terlihat segar ketika dikeluarkan dari ruang penyimpanan.
“Tinggal dikeluarkan saja dari penyimpanan. Lalu diletakkan di suhu ruangan, kualitasnya tetap setara dengan buah segar,” katanya.
Keberhasilan itu tidak datang dengan mudah.
Cao bercerita bahwa proses penelitian berlangsung bertahun-tahun dengan berbagai percobaan yang tidak selalu berhasil.
Sedikit kesalahan dalam proses penyimpanan bisa membuat kulit leci mengering hanya dalam hitungan jam.
Namun kerja panjang tersebut kini membuahkan hasil.
Leci Qinzhou menjadi salah satu produk pertanian yang memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Buah tersebut diekspor ke berbagai negara, termasuk Singapura dan Malaysia, dengan harga mencapai 30 yuan atau sekitar Rp 75 ribu per kilogram.
Selama proses distribusi, rantai pendingin tetap dipertahankan agar kualitas buah tidak menurun. “Kalau tidak begitu, buah pasti busuk,” ujar Cao.
Saat ini, lebih dari 48 varietas leci tumbuh di wilayah Qinzhou dengan total produksi mencapai lebih dari 160 ribu ton per tahun.
Buah tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk segar.
Sebagian diolah menjadi campuran teh, bahan pangan, hingga produk kesehatan yang memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi petani.
Di antara para peserta kunjungan, perhatian khusus datang dari Saurabh Sures Kumar, jurnalis asal India.
Baginya, leci bukan sekadar buah. Keluarganya juga menjalankan usaha perdagangan leci di India, sehingga kunjungan ke Lingshan terasa sangat personal.
Ia bercerita bahwa leci yang tumbuh di India diyakini berasal dari Tiongkok dan masuk melalui jalur perdagangan kuno sekitar seabad lalu.
Kini India menjadi salah satu negara penghasil leci terbesar di dunia.
Meski demikian, menurutnya masih banyak hal yang bisa dipelajari dari pendekatan pertanian modern yang diterapkan di Tiongkok.
“Rasa sebenarnya tidak jauh beda. Ada banyak hal yang bisa kami pelajari dari perkebunan leci di Tiongkok. Mudah-mudahan bisa kami aplikasikan nanti di India,” katanya.
Dari kebun leci di Lingshan, saya belajar satu hal sederhana.
Di era modern, pertanian bukan lagi semata soal menanam dan memanen.
Ia telah menjadi perpaduan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan memahami alam.
Hal serupa juga bisa diterapkan di Bali. Ketika buah leci semakin langka, dan perkebunan perlahan beralihfungsi, pemanfaatan teknologi bisa menjadi penyelamat para petani.***
Editor : Donny Tabelak