Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (41)

Eka Prasetya • Senin, 29 Juni 2026 | 08:52 WIB
Instruktur memberikan terapi seni kepada anak dengan autism yang menjalani proses rehabilitasi di Beijing Demonstration Center of Service for Persons with Disabilities. Terapi itu bagian dari membentuk kemandirian. (Foto Eka Prasetya) 
Instruktur memberikan terapi seni kepada anak dengan autism yang menjalani proses rehabilitasi di Beijing Demonstration Center of Service for Persons with Disabilities. Terapi itu bagian dari membentuk kemandirian. (Foto Eka Prasetya)

Ketika Teknologi Membuka Jalan Menuju Kemandirian Penyandang Disabilitas

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Pintu kaca otomatis terbuka perlahan. Tepat di depan pintu masuk, keramik dengan garis-garis kuning berpola timbul membentang lurus menuju bagian dalam gedung. 

Jalur itu bukan sekadar elemen dekoratif.

Ia menjadi penuntun bagi penyandang tunanetra untuk bergerak mandiri dari satu ruang ke ruang lainnya.

Di sisi lain, sejumlah anak dengan autisme tampak datang bersama orang tua mereka.

Beberapa menggenggam tangan sang ibu, sementara yang lain berjalan perlahan menuju ruang terapi.

Garis dengan warna-warna dengan cerah pada lantai dan dinding menjadi penanda visual yang membantu mereka mengenali area aktivitas. 

Suasana itulah yang menyambut puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik dan Karibia saat mengunjungi Beijing Demonstration Center of Service for Persons with Disabilities, Beijing, pada Kamis (25/6) lalu. 

Sekilas, bangunan 24 lantai itu tampak seperti pusat layanan publik modern pada umumnya.

Namun di balik desainnya yang futuristis, gedung tersebut menyimpan tujuan besar, yakni membantu penyandang disabilitas hidup lebih mandiri dan membaur di tengah masyarakat.

Dibuka pada Maret 2022 dengan luas bangunan mencapai 33.200 meter persegi, pusat layanan ini kini menjadi model pelayanan disabilitas tingkat provinsi di Tiongkok sekaligus rujukan nasional dalam pengembangan lingkungan yang inklusif dan bebas hambatan.

"Kami melayani berbagai jenis disabilitas, termasuk autisme dan cerebral palsy," ujar Yang Jinyi, staf sekaligus pemandu yang mendampingi kunjungan para jurnalis.

Menurut dia, lebih dari 250.000 penyandang disabilitas di Beijing telah mendapatkan manfaat dari berbagai program yang dikembangkan pusat layanan tersebut.

Kesan inklusif sudah terasa sejak langkah pertama memasuki gedung.

Ramp tersedia di berbagai titik. Toilet dirancang agar mudah diakses pengguna kursi roda.

Buku-buku braille tersusun rapi di sejumlah ruang baca.

Bahkan sistem petunjuk arah menggunakan warna-warna mencolok yang dirancang khusus untuk membantu penyandang autisme memahami lingkungan sekitar.

Setiap lantai memiliki fungsi berbeda. Lantai satu dan dua digunakan untuk pelatihan kerja.

Lantai tiga menjadi area pelatihan dan aktivitas sosial.

Lantai empat dikhususkan bagi rehabilitasi anak-anak.

Lantai lima menjadi ruang seni dan kreativitas.

Sementara lantai enam hingga delapan digunakan untuk rehabilitasi vokasional, dan lantai delapan menjadi pusat rehabilitasi bagi penyandang disabilitas dewasa.

Di lantai sembilan hingga 18 tersedia layanan perawatan jangka pendek bagi mereka yang membutuhkan pendampingan intensif.

Program yang dijalankan pun tidak hanya berfokus pada terapi medis.

Pusat layanan ini menyediakan rehabilitasi bagi anak-anak dengan disabilitas intelektual, autisme, dan cerebral palsy.

Ada pula pelatihan keterampilan kerja, terapi seni, simulasi pekerjaan, hingga pendampingan menuju kemandirian hidup.

Semua dirancang agar penyandang disabilitas tidak hanya pulih secara fisik dan psikologis, tetapi juga memiliki kesempatan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Di tengah berbagai fasilitas tersebut, satu hal paling menarik perhatian para jurnalis adalah ruang pameran teknologi asistif.

Di ruangan itu, masa depan seolah hadir lebih cepat.

Ada kursi roda berbasis kecerdasan buatan yang dapat dikendalikan menggunakan sinyal otak.

Ada pula topi pintar untuk tunanetra, perangkat pencetak huruf braille, hingga kacamata berbasis kecerdasan visual yang membantu penyandang gangguan penglihatan mengenali lingkungan sekitar.

Namun perangkat yang paling banyak menyita perhatian adalah sepasang kacamata pintar berbasis augmented reality (AR).

Sekilas bentuknya menyerupai kacamata biasa.

Saat seseorang berbicara, kata-kata yang diucapkan langsung muncul dalam bentuk teks pada layar kecil di dalam lensa. 

Menariknya, sistem tersebut mampu menerjemahkan lebih dari 100 bahasa secara real time, termasuk Bahasa Indonesia.

Ketika pemandu berbicara dalam Bahasa Mandarin, terjemahan langsung muncul di hadapan pengguna.

"Kacamata ini luar biasa. Ini akan sangat membantu penyandang tuna rungu-wicara. Bahkan bukan hanya penyandang disabilitas, orang asing seperti saya juga bisa memahami Bahasa Mandarin karena terjemahannya langsung terlihat," ujar Moiz Farooq, jurnalis asal Pakistan.

Bagi penyandang gangguan pendengaran, teknologi semacam itu bukan sekadar alat bantu.

Ia membuka akses komunikasi yang selama ini menjadi hambatan utama dalam kehidupan sehari-hari.

Yang Jinyi mengatakan pusat layanan tersebut terus mengembangkan berbagai teknologi baru untuk memperluas aksesibilitas.

"Kami meyakini teknologi akan memudahkan para penyandang disabilitas, apa pun ragam disabilitasnya," katanya.

Di bagian lain gedung, para jurnalis diajak memasuki ruang pameran karya seni. Lukisan warna-warni dipajang.

Di meja lainnya, terpajang beragam kerajinan tangan hasil karya penyandang autisme.

Tak jauh dari sana, aroma roti yang baru matang tercium dari ruang pelatihan bakery.

Di tempat itu, penyandang autisme belajar membuat kue dan roti sebagai bekal keterampilan kerja.

"Mereka belajar membuat kue untuk meningkatkan kualitas hidup agar lebih mandiri. Beberapa peserta pendampingan kami sekarang sudah bekerja di perusahaan bakery dan restoran," kata Yang.

Pusat layanan ini memang tidak hanya berbicara tentang terapi.

Yang lebih penting adalah bagaimana membantu seseorang menemukan peran dan tempatnya di masyarakat.

Pendekatan tersebut terlihat jelas pada layanan untuk anak-anak dengan autisme.

Untuk usia pra-sekolah, setiap anak mendapatkan pendampingan individual atau one-on-one. Satu anak didampingi satu instruktur.

Tujuannya bukan sekadar meningkatkan kemampuan akademik, melainkan membantu mereka memahami instruksi, berinteraksi, dan membangun kemampuan sosial sebelum memasuki sekolah formal.

Pada saat yang sama, para instruktur berupaya mengidentifikasi potensi dan minat masing-masing anak.

Ketika perkembangan mereka dinilai cukup baik, anak-anak kemudian bergabung dalam kelompok yang lebih besar untuk melatih interaksi sosial.

Saat memasuki usia remaja, program bergeser pada persiapan integrasi sosial dan kemandirian hidup.

Mereka diajarkan keterampilan dasar seperti menjaga kebersihan diri, mengelola aktivitas harian, hingga kemampuan bekerja.

Bagi yang belum siap terjun ke masyarakat, pendampingan tetap diberikan hingga mereka memiliki kemampuan hidup mandiri.

Kunjungan ke Beijing Demonstration Center of Service for Persons with Disabilities memperlihatkan bahwa membangun masyarakat inklusif bukan hanya soal menyediakan fasilitas fisik yang ramah disabilitas.

Lebih dari itu, dibutuhkan ekosistem yang menggabungkan rehabilitasi, pendidikan, pelatihan kerja, dukungan sosial, dan teknologi.

Di tempat itu, teknologi bukan sekadar simbol kemajuan.

Ia menjadi jembatan yang membantu seseorang kembali menemukan kepercayaan diri, kemandirian, dan kesempatan untuk hidup setara di tengah masyarakat.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #jurnalis #china #jawa pos radar bali #disabilitas