Berburu Barang Bekas Berkualitas Lewat Lapak Dadakan di Lapangan Kampus
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Sudah lewat pukul 18.00 sore, tapi di Beijing, Tiongkok, matahari masih tinggi.
Maklum, musim panas, matahari terbit lebih lama.
Sore itu, Minggu (28/6), para mahasiswa di Renmin University of China (RUC) menggelar lapak dadakan. Lapak itu digelar di area Central Park.
Hamparan tikar plastik berwarna-warni mendadak memenuhi sisi jalan.
Di atasnya tersusun rapi buku-buku kuliah, mug bergambar kampus, topi, pakaian, gantungan kunci, hingga raket bulutangkis.
Tak ada kios permanen. Tak pula terdengar teriakan pedagang menawarkan dagangan.
Para penjual justru adalah mahasiswa yang beberapa hari lagi akan meninggalkan kampus setelah menyelesaikan studi mereka.
Sementara para pembeli merupakan mahasiswa aktif, warga sekitar, hingga mahasiswa internasional yang sengaja datang berburu barang murah yang pernah dikoleksi para mahasiswa dari kampus ternama di Beijing itu.
Pasar dadakan tersebut hanya muncul dua hari, Sabtu (27/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026), setiap sore.
Tradisi itu hadir menjelang musim kelulusan, ketika para mahasiswa mulai mengurangi barang bawaan sebelum kembali ke kota asal masing-masing.
Renmin University akan menggelar upacara kelulusan pada Sabtu (4/7) nanti. Setelah itu, mahasiswa mulai meninggalkan kampus.
Suasana sore itu jauh dari kesan pasar pada umumnya. Tidak ada etalase ataupun meja jualan.
Hampir seluruh barang dipajang di atas tikar yang digelar di sepanjang pedestrian taman kampus.
Para penjual duduk santai sembari berbincang dengan teman-temannya, sementara calon pembeli bebas jongkok, memeriksa barang satu per satu, lalu menawar harga.
Semakin sore, kawasan itu semakin ramai. Ratusan orang memenuhi area taman.
Sebagian datang dengan tas belanja di tangan, sebagian lagi sekadar berjalan santai menikmati suasana sambil mencari barang yang mungkin bisa menjadi kenang-kenangan.
Mayoritas barang yang dijual merupakan barang bekas yang masih layak pakai.
Mulai buku referensi kuliah, novel, pernak-pernik kampus, gantungan kunci, pakaian, mug, boneka, hingga perlengkapan olahraga. Harganya pun jauh lebih murah dibandingkan harga baru.
Saya sendiri baru mengunjungi pasar tersebut pada Minggu sore.
Banyak lapak mulai berkemas karena sebagian barang sudah habis terjual sehari sebelumnya.
Meski begitu, masih banyak pilihan menarik yang tersisa.
Akhirnya saya membawa pulang dua gantungan kunci karakter minon dan Garfield yang dijual seharga lima yuan, atau sekitar Rp 12 ribu.
Rekan saya, Saurabh Kumar, jurnalis asal India, juga tampak sumringah setelah menemukan sebuah topi bertuliskan Renmin University.
Di toko resmi kampus, topi serupa dijual sekitar 30 yuan.
Namun di pasar dadakan itu, ia hanya membayar lima yuan.
“Harga yang sangat murah. Karena di toko resmi, harganya 30 yuan, tapi saya dapat 5 yuan. Meskipun bekas, tapi masih bagus. Topi ini tidak saya pakai, hanya akan simpan sebagai kenang-kenangan,” katanya.
Keberuntungan serupa dirasakan Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan. Ia membeli satu set kartu Uno hanya dengan lima yuan.
“Lumayan, bisa untuk main kalau bosan di apartemen,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain kartu Uno, dia juga membawa pulang dua pasang sepatu.
Sementara itu, Ali Yoosuf, jurnalis asal Maladewa, justru mendapatkan barang yang lebih besar.
Ia membawa pulang sebuah raket bulutangkis bekas Yonex Nanoray 7000i seharga 40 yuan atau sekitar Rp 90 ribu.
Menurutnya, harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan harga raket sejenis di negaranya.
“Harga yang sangat wajar. Meski ada lecet pemakaian, raket ini masih sangat bagus. Saya akan membawanya pulang ke Maldives, untuk main bulutangkis bersama teman-teman di negara saya,” tuturnya.
Bagi Davone Manyvanh, jurnalis asal Laos, daya tarik pasar itu justru bukan terletak pada barang-barangnya, melainkan konsepnya.
Ia mengaku baru pertama kali melihat mahasiswa membuka lapak sendiri di lingkungan kampus untuk menjual barang-barang pribadi menjelang kelulusan.
Menurutnya, tradisi seperti itu belum pernah ia jumpai di negaranya.
Di balik transaksi yang murah meriah, pasar dadakan itu sesungguhnya menyimpan cerita yang lebih besar.
Bagi para mahasiswa yang akan lulus, menjual barang bukan sekadar cara mengurangi isi koper.
Ada kenangan yang perlahan berpindah tangan bersama buku, mug, hingga raket bulutangkis yang pernah menemani masa-masa kuliah mereka.***
Editor : Donny Tabelak