Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (46)

Eka Prasetya • Sabtu, 4 Juli 2026 | 16:32 WIB
Suasana di Ruang Kelas Tematik yang berada di area Beijing CPC Municipal Committee Party School. Fasilitas ini menjadi wahan untuk mengenalkan perkembangan Beijing.(Foto Eka Prasetya) 
Suasana di Ruang Kelas Tematik yang berada di area Beijing CPC Municipal Committee Party School. Fasilitas ini menjadi wahan untuk mengenalkan perkembangan Beijing.(Foto Eka Prasetya) 

Belajar dari Beijing, Tatkala Ibukota Negara Menata Diri untuk Warganya

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Ruangan itu gelap. Begitu pintu tertutup, langit-langit, lantai, dan seluruh dinding perlahan berubah menjadi hamparan layar raksasa.

Dalam hitungan detik, puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik yang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC) seolah diajak terbang menyusuri Poros Tengah Beijing.

Poros itu merupakan urat nadi sejarah ibukota Tiongkok yang kini berdampingan dengan gedung-gedung modern, taman hijau, dan jaringan kota digital.

Pengalaman visual tersebut membuat pengunjung seolah berada di dalam perjalanan panjang sebuah kota yang terus membangun dirinya.

Selasa (30/6) pagi itu, rombongan mengunjungi Beijing CPC Municipal Committee Party School di Distrik Xicheng, Beijing.

Berbeda dengan Central Party School yang berada di Distrik Haidian dan menjadi pusat pendidikan kader tingkat nasional, sekolah partai ini berfokus pada pendidikan kader pemerintah Kota Beijing.

Di kompleks inilah terdapat “Ruang Kelas Tematis Praktik Nyata Beijing atas Pemikiran Xi Jinping”, sebuah fasilitas yang lebih menyerupai laboratorium pembelajaran dibanding museum konvensional.

Di setiap sudut ruang, kami tidak hanya melihat sejarah.

Kami diajak memahami bagaimana sebuah kota berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa mencoba menjawab persoalan-persoalan yang selama ini menjadi tantangan hampir semua kota metropolitan dunia.

Bukan sekadar memamerkan pencapaian, ruang seluas sekitar seribu meter persegi itu memperlihatkan bagaimana kebijakan diterjemahkan menjadi perubahan yang dapat diukur.

Melalui video sinematik, diorama digital, hingga data yang diperbarui secara berkala, perjalanan Beijing sejak 2012 dipaparkan secara runtut.

Fokus utamanya adalah bagaimana ibukota Tiongkok bertransformasi dari kota yang identik dengan kepadatan dan polusi menjadi kota yang lebih hijau, lebih tertata, sekaligus lebih nyaman dihuni.

Sejumlah layar memperlihatkan perbandingan kondisi Beijing ketika kabut asap tebal masih menjadi persoalan harian dengan kondisi saat ini ketika langit biru menjadi pemandangan yang jauh lebih sering terlihat.

Transformasi itu menjadi bagian dari strategi pembangunan yang dikenal sebagai reduced-development, yakni mengurangi fungsi-fungsi industri nonibu kota demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Di bagian lain, pengunjung diperkenalkan pada sistem tata kelola digital Jie Su Ji Ban, sebuah platform berbasis big data yang memungkinkan masyarakat menyampaikan keluhan secara langsung kepada pemerintah.

Cukup menelpon saluran 12345, penduduk kota sudah bisa menghubungi pemerintah kota untuk meminta bantuan.

Seluruh laporan dipantau secara real time sehingga respons pemerintah dapat dilakukan lebih cepat.

Dalam hal transportasi publik. Baik itu di bandara, kereta, maupun bus, pusat layanan terpadu disediakan agar turis dapat langsung mengakses layanan transportasi, pembayaran digital, kartu seluler, hingga penggunaan kartu bank internasional dengan sistem tap to pay.

Kota ini juga menjadi rumah bagi sekitar 170 kedutaan besar, sehingga peningkatan layanan bagi komunitas internasional menjadi salah satu prioritas.

Namun daya tarik utama fasilitas tersebut justru berada di ruangan bernama Fuxing.

Enam sisi ruangan dilapisi layar LED beresolusi tinggi.

Ketika pertunjukan dimulai, pengunjung seperti melayang di atas Beijing, menyaksikan Poros Tengah yang telah berusia ratusan tahun berpadu dengan wajah kota modern yang terus berkembang.

Teknologi digunakan bukan sekadar untuk menghibur, melainkan membantu pengunjung memahami bagaimana pelestarian warisan budaya dapat berjalan berdampingan dengan pembangunan kota masa depan.

Fasilitas ini menjadi salah satu lokasi pembelajaran yang paling sibuk di Beijing.

Sebagian besar pengunjungnya adalah para kader pemerintahan dari berbagai daerah di Tiongkok yang sedang mengikuti pendidikan, dosen, serta mahasiswa.

Belakangan, ruang pembelajaran tersebut juga mulai menerima kunjungan delegasi internasional, termasuk pejabat publik dari berbagai negara yang ingin mempelajari tata kelola kota, digitalisasi pemerintahan, hingga strategi pembangunan perkotaan.

Seluruh materi yang ditampilkan berpijak pada implementasi Pemikiran Xi Jinping tentang Sosialisme dengan Karakteristik Tiongkok untuk Era Baru.

Dalam salah satu sesi penjelasan dipaparkan bahwa Beijing masih menghadapi tantangan khas kota metropolitan atau big city malaise.

Karena itu, perencanaan kota ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan.

Prinsip tersebut berangkat dari arahan Presiden Xi Jinping saat melakukan inspeksi ke Beijing pada Februari 2014.

Saat itu, Xi menegaskan bahwa memahami perencanaan kota harus menjadi prioritas sebelum membangun.

Ia mengibaratkan pembangunan kota tidak bisa dilakukan dengan menyebarkan proyek secara acak.

Hanya perencanaan ilmiah yang mampu menghasilkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Berangkat dari gagasan tersebut, Beijing kemudian menetapkan batas maksimal pertumbuhan penduduk dan luas lahan terbangun, memperluas ruang terbuka hijau, serta memperkuat visi pembangunan sebagai "Empat Pusat", yakni pusat politik nasional, pusat kebudayaan, pusat pertukaran internasional, dan pusat inovasi ilmu pengetahuan serta teknologi.

Bagi Moiz Farooq, jurnalis asal Pakistan yang mengikuti kunjungan tersebut, pengalaman melihat langsung transformasi Beijing memberikan gambaran yang jauh lebih utuh dibanding sekadar membaca laporan pembangunan.

“Saya bisa mengetahui banyak hal tentang perkembangan pembangunan Beijing, dan bagaimana pemerintah Tiongkok bisa melakukan tata kelola kota sebesar ini,” ujarnya.

Kesan serupa disampaikan Siti Zanariah Binti Nor Zin, jurnalis asal Malaysia.

Menurutnya, perubahan Beijing menjadi contoh bahwa transformasi kota besar memerlukan visi jangka panjang, konsistensi kebijakan, dan partisipasi masyarakat.

“Ini sangat luar biasa. Bagaimana Beijing yang dulunya juga kota yang punya polusi, tapi kini sudah menjadi kota yang hijau dan layak ditinggali. Tentu ini semua terjadi berkat kerja keras pemerintah dan masyarakatnya. Saya harap konsep serupa juga bisa diadopsi oleh negara-negara lainnya, khususnya di kawasan ASEAN maupun Asia Pasifik,” katanya.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #Beijing #jurnalis #china #jawa pos radar bali