Bei Nao 1, Chip Otak yang Membantu Pasien Berbicara Lewat Pikiran
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
DI atas meja di ruang kelas tematik Beijing Chinese Communist Party (CPC) Municipal Committee Party School, sebuah perangkat berukuran tak lebih besar dari koin menjadi pusat perhatian.
Bentuknya sederhana. Namun, kemampuan yang dijanjikannya terdengar seperti potongan adegan film fiksi ilmiah.
Perangkat itu bernama Bei Nao No. 1. Sebuah cip antarmuka otak-komputer (Brain-Computer Interface/BCI) yang dikembangkan Tiongkok untuk menerjemahkan aktivitas otak manusia menjadi perintah digital.
Teknologi itu menjadi salah satu benda yang diperkenalkan kepada para jurnalis Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat berkunjung ke Ruang Kelas Tematik di Beijing CPC Municipal Committee Party School, Selasa (30/6).
Di layar, ditampilkan simulasi bagaimana cip tersebut ditanam pada bagian kepala melalui prosedur bedah minimal invasif.
Penjelasan demi penjelasan membuat pengunjung takjub.
Sebab, teknologi yang selama ini terdengar seperti sains fiksi, ternyata benar-benar berkembang.
"Alat ini dikembangkan bersama oleh Beijing Institute of Brain Science and Brain-Inspired Intelligence bersama perusahaan Xinzhida," ujar Profesor Departemen Ekonomi Beijing CPC Municipal Committee Party School, Lu Yuan Yuan, kepada para jurnalis.
Ia menjelaskan, hingga kini sebanyak tujuh operasi penanaman implan semi-invasif telah berhasil dilakukan di Rumah Sakit Pertama Universitas Peking, Rumah Sakit Tiantan, dan Rumah Sakit Xuanwu.
Menurut Lu, teknologi tersebut dirancang membantu pasien yang kehilangan kemampuan berkomunikasi maupun bergerak, seperti penderita afasia, Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS/penyakit saraf yang menyerang saraf motorik otak dan sumsum tulang belakang), hingga cedera saraf tulang belakang.
Melalui Bei Nao No. 1, pasien dapat menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya. Misalnya, “saya ingin minum air” atau “saya ingin bertemu seseorang”.
“Tulisan itu akan muncul di layar elektronik karena alat ini membaca sinyal otak yang dikirim secara sadar,” jelasnya.
Bagi penderita afasia yang kehilangan kemampuan berbicara, teknologi tersebut menjadi jembatan baru untuk kembali berkomunikasi dengan orang lain.
Meski memulai riset lebih lambat dibanding Amerika Serikat, Tiongkok mengklaim berhasil mempercepat pengembangan teknologi ini.
“Di bidang ini, Tiongkok memulainya lebih dari 20 tahun lebih lambat daripada Amerika Serikat. Namun sekarang kami telah melompat ke posisi terdepan dunia,” kata Lu.
Saat ini, Beijing bahkan menjadikan teknologi Brain-Computer Interface sebagai salah satu industri masa depan yang terus didorong pengembangannya.
Lu mengatakan, pengembangan Bei Nao telah melalui sekitar lima tahun penelitian ilmiah dan kini memasuki tahap uji klinis.
Proyek tersebut dipimpin oleh Prof. Luo Minmin, Direktur Chinese Institute for Brain Research (CIBR), melalui perusahaan rintisannya, NeuCyber (Beijing Xinzhida Neurotech Co., Ltd.).
Berbeda dengan pendekatan Neuralink milik Elon Musk yang menggunakan metode fully invasive dengan elektroda menembus langsung jaringan korteks otak, Bei Nao No. 1 mengusung pendekatan semi-invasif. Pendekatan itu diyakini lebih aman.
Elektroda ultra-tipis dan fleksibel ditempatkan di atas lapisan pelindung otak (duramater), tanpa menyentuh jaringan otak secara langsung.
Pendekatan ini dinilai mampu meminimalkan risiko cedera jaringan maupun respons imun tubuh.
Salah satu pencapaian yang paling banyak menarik perhatian komunitas ilmiah internasional adalah keberhasilan Bei Nao No. 1 menjadi BCI nirkabel semi-invasif pertama di dunia yang mampu menerjemahkan bahasa Mandarin langsung dari aktivitas otak pasien.
Teknologi itu diuji pada seorang perempuan berusia 67 tahun penderita ALS yang telah kehilangan kemampuan berbicara.
Hanya dalam waktu sekitar tiga jam setelah operasi dan pelatihan sistem, algoritma kecerdasan buatan berhasil mengenali puluhan karakter Mandarin yang dipikirkan pasien.
Kini sistem tersebut telah memiliki sekitar 100 kosakata yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Pasien cukup membayangkan kalimat seperti "Saya ingin minum air" atau "Hari ini saya ingin berjalan-jalan bersama keluarga", lalu kalimat itu muncul secara otomatis di layar.
Menurut data yang dipaparkan, akumulasi penggunaan perangkat pada seluruh pasien implan telah melampaui 65.000 jam tanpa ditemukan efek samping berbahaya.
Bahkan pasien pertama telah menggunakan cip tersebut lebih dari satu tahun dengan kondisi stabil.
Tak hanya itu, seorang pasien yang mengalami kelumpuhan total akibat cedera saraf tulang belakang selama lima tahun dilaporkan mulai kembali melatih fungsi motoriknya dan belajar berjalan menggunakan alat bantu setelah rutin menjalani terapi berbasis BCI.
Pengembangan Bei Nao pun belum berhenti. Versi berikutnya, Bei Nao No. 2, tengah dipersiapkan sebagai sistem fully invasive dengan 512 saluran pembaca sinyal otak yang langsung terhubung ke jaringan saraf.
Teknologi tersebut telah berhasil diuji pada monyet rhesus untuk mengendalikan kursor komputer dan menggerakkan lengan robot secara real time hanya melalui pikiran.
Jika seluruh tahapan validasi klinis berjalan sesuai rencana, Bei Nao No. 2 akan memasuki uji coba pada manusia dalam waktu dekat.
Melalui Bei Nao, Tiongkok berupaya menunjukkan bahwa masa depan komunikasi antara otak dan mesin bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan teknologi yang perlahan mulai hadir di dunia nyata.***
Editor : Donny Tabelak