Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Bencana dan Perang Hantam Pariwisata Bali, Ribuan Wisman Australia Batalkan Kunjungan!

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 2 Maret 2026 | 07:55 WIB

NORMAL: Aktivitas penerbangan di Bandara Ngurah Rai masih tetap normal pascaerupsi Gunung Semeru.
NORMAL: Aktivitas penerbangan di Bandara Ngurah Rai masih tetap normal pascaerupsi Gunung Semeru.

Radarbadung.jawapoa.com- Sektor pariwisata Bali tengah menghadapi tantangan berat dari dua sisi sekaligus: bencana hidrometeorologi yang menyebabkan banjir di beberapa kawasan utama, serta ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah.

Dampak sudah terasa nyata dengan gelombang pembatalan kunjungan wisatawan mancanegara, sementara konflik antara Israel dan Iran menjadi kekhawatiran baru.

Banjir bandang yang melanda pada Selasa (24/2) lalu masih menyisakan genangan di beberapa titik, memicu keputusan ribuan wisatawan asal Australia – yang merupakan pasar utama kunjungan ke Bali – untuk membatalkan rencana liburan mereka.

"Bali telah dikenal sebagai destinasi pariwisata terbaik di dunia, namun musim hujan kali ini memicu banjir luar biasa terutama di Kabupaten Badung. Di Kuta saja ada lima titik banjir, padahal kawasan itu menjadi pusat akomodasi hotel dan vila," ujar Ketua PHRI (Perhimpunan Restoran dan Hotel Indonesia) Badung sekaligus Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, saat ditemui di sela acara Singgasana Seni di Sanur, Rabu (28/2).

Pria asli Badung ini mengaku telah menerima banyak pertanyaan dari pemangku kepentingan luar negeri terkait situasi terkini Bali.

Sebagian besar kawasan yang terendam merupakan jantung pariwisata seperti Seminyak dan Kuta, bahkan pernah dilakukan proses evakuasi tamu akibat kondisi yang tidak aman.

Menurut Rai, permasalahan banjir semakin kompleks akibat alih fungsi lahan hijau yang semula berperan sebagai area resapan air menjadi bangunan permanen.

"Air hujan tidak punya tempat untuk meresap lagi, apalagi intensitas hujan sangat tinggi selama berhari-hari. Pemerintah perlu segera melakukan normalisasi sungai-sungai untuk mengatasi masalah ini," tegasnya.

Pembatalan massal dari wisman Australia menyebabkan kerugian signifikan bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah.

"Kita kehilangan potensi pendapatan besar. Bagi pengusaha hotel akibat pembatalan pesanan, dan bagi daerah karena hilangnya potensi pajak," tambahnya.

Meski demikian, Rai menjelaskan bahwa banjir tidak terjadi merata di seluruh Pulau Dewata.

Titik terparah terkonsentrasi di Bali Selatan, yakni Kuta dan Canggu yang menjadi sentral ekonomi Kabupaten Badung, sementara kawasan seperti Nusa Dua relatif aman dari genangan air.

Saat ini, tingkat hunian (occupancy rate) hotel di Badung berada di angka 60 hingga 65 persen.

Padahal, biasanya tren hunian akan meningkat pada periode Mei hingga Juli.

"Saya sangat khawatir jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, bisa muncul travel warning yang akan lebih merusak industri pariwisata kita," ungkapnya dengan cemas.

 Baca Juga: 143 Bencana Hantam Karangasem Dua Bulan Terakhir, Kerugian Tembus Rp 3,3 Miliar

Di sisi lain, konflik yang terjadi di Timur Tengah juga menambah beban kekhawatiran bagi sektor pariwisata Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, membenarkan adanya informasi mengenai penutupan wilayah udara oleh beberapa negara di kawasan tersebut, antara lain Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Suriah.

"Terkait dampak yang mungkin terjadi pada pariwisata Bali, saya sedang berkoordinasi erat dengan pihak Bandara I Gusti Ngurah Rai dan Otoritas Bandara untuk memantau apakah ada pembatalan penerbangan langsung dari atau menuju kawasan Timur Tengah," kata Sumarajaya saat dihubungi Minggu (1/3).

Dia mengakui bahwa wisatawan asal Timur Tengah merupakan pasar potensial yang terus dikembangkan oleh pemerintah provinsi.

Hingga saat ini, pihaknya belum menerima data resmi mengenai pembatalan jadwal terbang dari kawasan tersebut.

"Kami sangat berharap agar eskalasi konflik tidak meluas sehingga tidak berdampak signifikan terhadap pariwisata Bali yang sudah cukup tertekan akibat dampak bencana," harap mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bali tersebut.***

Editor : Donny Tabelak
#kunjungan wisatawan #phri #pariwisata bali #Australia - Perth #banjir #konflik timur tengah #Perang Iran Amerika