Radarbadung.jawapos.com– Konflik yang melibatkan negara-negara di Timur Tengah berdampak langsung pada sektor pariwisata Bali.
Penutupan wilayah udara di kawasan tersebut mengganggu operasional bandara transit krusial seperti Dubai, yang menjadi jalur utama bagi wisatawan Eropa menuju Pulau Dewata, Bali.
Menurut Anggota DPRD Badung dari Fraksi Gerindra, I Wayan Puspa Negara, tidak ada kepastian kapan konflik ini akan berakhir.
Dampaknya sangat terasa pada kedatangan wisatawan Eropa yang umumnya termasuk kategori long-distance traveler dengan masa tinggal lama dan pengeluaran tinggi, atau yang dikenal sebagai wisman jetset.
"Berdasarkan perhitungan sementara, sebanyak 1.618 wisman asal Eropa dan Timur Tengah tertahan di Bali," ujarnya pada Selasa (3/3).
Situasi ini diprediksi akan menurunkan rata-rata lama menginap wisman, yang berdampak pada target penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) Badung serta Pungutan Wisatawan Asing (PWA).
Low season yang tengah berlangsung kini semakin sepi karena sejumlah penerbangan internasional dari Bandara I Gusti Ngurah Rai dibatalkan, terutama yang melayani rute melalui Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.
Baca Juga: Imbas Konflik Israel-Iran, Penerbangan ke Timur Tengah Terganggu, Penumpang Kebingungan di Bandara Bali
Penerbangan yang terdampak antara lain Etihad Airways EY-477 (Bali–Abu Dhabi) dengan 291 penumpang termasuk 4 bayi, Qatar Airways QR-963 (Bali–Doha) dengan 240 penumpang, Emirates EK369 (Denpasar–Dubai) dengan 509 penumpang termasuk 5 bayi, Emirates EK399 (Denpasar–Dubai) dengan 349 penumpang, dan Qatar QR961 (Denpasar–Doha) dengan 229 penumpang.
Beberapa maskapai telah mengambil langkah penanganan.
Penumpang Emirates EK399 dan Qatar QR961 mendapatkan pemberitahuan awal melalui email.
Penumpang Emirates diarahkan ke beberapa hotel seperti Golden Tulip, Pullman, Ibis Kuta, dan Ibis Denpasar.
Sementara itu, penumpang Etihad ditempatkan di Hotel Harris Sunset Road dan Platinum Hotel, serta sebagian penumpang Qatar Airways yang memilih menunggu di bandara atau mencari akomodasi mandiri dengan kompensasi dari maskapai.
"Seluruh penumpang diberikan opsi pengembalian dana atau penjadwalan ulang. Kami berharap pelayanan dan operasional Bandara Ngurah Rai tetap terjaga nyaman dan aman," kata Puspa Negara.
Penutupan ruang udara di Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait pasca serangan rudal membuat wisatawan merasa khawatir, yang pasti akan berpengaruh pada kondisi pariwisata Bali.
Ia menegaskan perlunya pelayanan profesional bagi penumpang yang menumpuk di terminal internasional, bahkan menyarankan pembukaan crisis centre jika diperlukan.
"Kita harus bersatu menyusun langkah mitigasi agar dampak konflik global yang sulit diprediksi bisa diminimalkan, " ucapnya.
Sementara itu, perlu terus merawat pasar utama seperti Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, India, dan kawasan Asia Tenggara melalui penguatan pelayanan, infrastruktur, keamanan, serta promosi berkelanjutan.
"Semoga konflik di Timur Tengah segera berakhir, " pungkasnya.***
Editor : Donny Tabelak