Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Biar Tak Salah Kaprah, Pentas Topeng Harus Diperbanyak

Francelino Junior • Kamis, 21 Agustus 2025 | 20:05 WIB

 

Instalasi topeng Rama dan Laksamana di panggung utama Bulfest 2025. Dua kreasi dari plastik itu masih dalam kaitan Wayang Wong Tejakula.
Instalasi topeng Rama dan Laksamana di panggung utama Bulfest 2025. Dua kreasi dari plastik itu masih dalam kaitan Wayang Wong Tejakula.

 

Radarbadung.jawapos.com- Buleleng Festival (Bulfest) kembali digelar di 2025. Temanya kali ini adalah The Mask History of Buleleng, jika diterjemahkan menurut panitia menjadi Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng.

Sehingga sudah jelas yang diangkat dalam pesta rakyat ini adalah topeng. 

Secara jelas, makna Bulfest 2025 yakni mengenalkan kembali sejarah topeng bukan hanya sebagai media seni pertunjukan, tetapi juga sebagai representasi identitas, spiritualitas, dan peradaban leluhur.

Wayang Wong Tejakula menjadi ikonnya. Topeng-topengnya melegenda bahkan sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. 

Tetapi bukan Wayang Wong Tejakula secara utuh yang menjadi topik pembahasan kali ini, melainkan sejauh mana masyarakat Buleleng tahu topeng-topeng kesenian tersebut.

Ini menyambung dengan tujuan lain penyelenggaran Bulfest 2025, yakni menggali, melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan seni budaya.

Selain itu untuk memperkuat identitas budaya daerah, meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur, sekaligus menjadi ajang apresiasi terhadap karya seni tradisional maupun kontemporer.

Di panggung utama Bulfest, terdapat dua karya topeng. Sangat besar dan masyarakat pasti ngeh, kalau itu adalah topeng. Hiasan tersebut mengapit Tugu Singa Ambara Raja.

Sehingga tidak hanya anak muda yang menunggu bintang tamu, tetapi juga orang-orang tua dan dewasa hilir mudik memperhatikan hiasan, dari pesta rakyat yang telah lama vakum.

Yang menjadi pembicaraan masyarakat, topeng siapakah itu? Bahkan ada yang mengira itu menggambarkan lanang dan istri. Sebab satunya ada kumis, sedangkan satunya lagi tanpa kumis.

”Kenapa topeng di panggung utama tidak pakai seperti ini (sembari menunjuk gambar topeng di baju Bulfest 2025)? Agak kurang menurut saya,” ujar Gede Agus, salah satu masyarakat.

Pada tema Bulfest 2025, selain tulisan ada juga gambar topeng yang identik dengan Wayang Wong Tejakula.

Secara awam dapat digambarkan, wujud topengnya berbentuk wajah hanoman. 

Nah, harapan besar masyarakat adalah topeng yang berkaitan dengan kesenian tersebut, apalagi yang ikonik, dapat menjadi hiasan utamanya.

”Sebenarnya seperti itu, lebih bagus. Saya tidak tahu juga itu topeng apa,” ujar masyarakat lainnya bernama Iwan.

Memang selama ini tarian Wayang Wong Tejakula dikenal sakral dan mistis. Tidak hanya topeng aslinya, topeng replikanya pun harus menggunakan upacara, apabila ingin dikeluarkan dari tempat penyimpanannya.

Kesenian itu pun sangat jarang dapat disaksikan masyarakat. Hal itu juga tidak menutup alasan, kalau masyarakat ternyata kurang mengenal wujud-wujud topeng.

Tetapi nasi telah menjadi bubur. Karya topeng itu tidak mungkin diganti, mengingat pembuatannya pun pasti memakan waktu juga.

Maka Pemerintah Kabupaten Buleleng serta panitia Bulfest 2025 harus menjadi garda depan, untuk menjelaskan topeng tersebut diambil dari mana. 

Usut punya usut, kedua karya topeng itu ternyata diambil dari Wayang Wong Tejakula. Yakni Rama dan Laksamana.

Yang menarik, kreasi tersebut menggunakan bahan dari plastik. Ya! Plastik yang dicetak sesuai dengan bentuk wajah topeng. 

”Karya topeng Rama dan Laksamana ini permintaan dari Pemkab Buleleng. Desainnya juga dari mereka. Saya tidak pegang fisik topengnya, hanya desain dan 3D-nya,” ujar Putu Eka Darmawan, pemilik Rumah Plastik Singaraja, yang mengerjakan dua instalasi topeng.

Secara tidak langsung, jawabannya membantah asumsi publik. Wajah topeng itu berkaitan dan ada dalam Wayang Wong Tejakula.

Sebab kesenian itu menceritakan kisah Mahabharata dan Ramayana. Bukan dibuat asal-asalan saja.

Ia memiliki cerita panjang dalam pembuatan instalasi kedua topeng plastik dengan tinggi masing-masing mencapai 12 meter dengan lebar 2,5 meter. Kalau topengnya saja, tingginya enam meter.

Plastiknya tidak ada khusus, tetapi semua jenis sampah plastik masuk dalam kreasi itu. Tetapi dibeda-bedakan alias ada blok atau zonanya. Jadinya saling melengkapi.

Waktu persiapan yang katanya harus satu setengah bulan, tetapi dipersingkat menjadi lebih pendek hampir 20 hari, membuatnya jarang sampai tidak tidur.

Bahkan ada celotehan, tambah tidak tidur sekian hari, Eka Darmawan bisa menjadi sound engineer di sound horeg.

Apalagi ia ngayah ten mebayah dalam projek ini, tetapi masuk juga unsur edukasi pengelolaan sampah daur ulang sesuai tujuan si pemilik Rumah Plastik Singaraja itu.

”Tingkat kesulitan ada di pembentukan muka. Begitu juga dengan membuat ukiran hiasan topeng, seperti anting. Satu ukir anting bisa tiga jam. Karena medianya besar kami pakai mesin ukir buatan sendiri,” ungkapnya.

Yang menjadi tantangan lainnya, ia tidak bisa membawa topeng asli maupun replikasi topeng Rama dan Laksamana di Wayang Wong Tejakula. Karena memang sangat sakral dan harus ada upacaranya, kalau ingin keluarkan.

Maka dari itu, ia harus memutar otak lebih dalam, untuk memahami struktur topeng, karena yang dipegang hanya desain 2D dan 3D ditambah foto topeng.

Pembuatannya pun harus sesuai pakem, yaitu tidak melenceng dari gambaran asli topeng Rama dan Laksamana.

Beruntung, meski dengan waktu mepet nan sempit sampai kurang tidur, Eka Darmawan dibantu timnya mampu menyelesaikannya.

Pemasangan instalasi mulai dipasang sejak Sabtu (16/7) dan selesai Senin (18/8) pagi.

”Ini jadi karya pertama yang besar dan berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pakai sampai plastik sampai 1,7 ton. Instalasi ini hanya plastik dan besi sebagai penyangga saja,” tutupnya.

Dengan adanya karya dari plastik daur ulang, Eka Darmawan berharap masyarakat dapat melihat sampah tidak hanya sebagai barang tidak berguna, tetapi mampu menjadi penghasil ekonomi, apabila diolah dengan benar dan sesuai. 

Ini juga sebagai dukungan kepada pemerintah dalam mengelola sampah dari sumbernya. Karena kalau bukan dari diri sendiri, ya siapa lagi.

Tetapi disamping itu, pementasan kesenian utamanya yang berkaitan dengan topeng-topeng tradisional, perlu diperbanyak kembali.
 
Sehingga Buleleng dengan beragam karya topeng, masyarakat pun mengetahui dan tidak salah kaprah.***
Editor : Donny Tabelak
#bulfest #buleleng festival #topeng #unesco #budaya #Wayang Wong Tejakula